Pertamina Berniat Tingkatkan Kapasitas Kilang

Investasi Rp200 Triliun

Rabu, 29/10/2014

NERACA

Jakarta - PT Pertamina akan meningkatkan kapasitas kilang pengolahan dari saat ini 1,05 juta menjadi 1,6 juta barel per hari dengan perkiraan investasi Rp200 triliun dalam enam tahun ke depan atau 2020. Direktur Niaga dan Pemasaran Pertamina Hanung Budya mengatakan, program yang disebut Refinery Development Master Plan (RDMP) itu merupakan upaya Pertamina meningkatkan ketahanan energi Indonesia. “Dengan peningkatan kapasitas kilang ini, maka akan mengurangi ketergantungan impor BBM,” tuturnya di Jakarta, Selasa (28/10).

Menurut dia, peningkatan kapasitas kilang menjadi 1,6 juta barel minyak mentah per hari tersebut akan menaikkan produk BBM jenis premium hingga tiga kali lipat dan solar dua kali lipat. Ia mengatakan, anggaran RDMP memang lebih tinggi dibandingkan bangun kilang baru berkapasitas 300.000 ribu barel per hari dengan perkiraan US$12 miliar. Namun, lanjutnya, peningkatan kapasitas kilang dengan skema RDMP bisa lebih dari dua kali dibandingkan kilang baru.

Saat ini, Indonesia masih mengimpor 70 persen kebutuhan nasional dan solar mencapai 30 persen. Total impor kedua produk tersebut mencapai 13 juta kiloliter per tahun. Kebutuhan impor tersebut bakal terus meningkat mengingat pertumbuhan pemakaian BBM mencapai 8-9 per tahun. Hanung menambahkan, selain RDMP, Pertamina juga akan membangun kilang baru bersama mitra.

Ia mengatakan, kebutuhan kilang baru untuk mencapai swasembada BBM adalah tiga unit dengan masing-masing kapasitas 300.000 barel atau totalnya 900.000 barel per hari. "Kalau RDMP dan pembangunan tiga kilang baru ini selesai dalam delapan tahun, maka Indonesia bisa mandiri BBM pada 2022," ujarnya.

Sementara itu, Manajer Humas Pertamina Adiatma Sardjito menambahkan, selain RDMP, Pertamina masih meneruskan kerja sama pembangunan kilang baru bersama Saudi Aramco Asia (SAA). Pertamina bersama SAA berencana membangun kilang berkapasitas 300.000 barel per hari. Kemitraan dengan SAA merupakan upaya berbagi risiko karena pembangunan kilang baru selain membutuhkan investasi besar dengan "return" yang rendah, juga perlu kepastian "crude".

Namun, pembangunan kilang dengan SAA tersebut masih menunggu persetujuan insentif fiskal dari pemerintah agar memenuhi keekonomiannya. "Dengan demikian, kini ada dua inisiatif Pertamina meningkatkan kapasitas kilang yakni RDMP dan bangun kilang baru bersama mitra," ujarnya. Adiatma juga mengatakan, program RDMP merupakan pilihan logis karena selain kebutuhan insentif fiskal, kilang baru juga memerlukan lahan hingga 1.000 ha dan dermaga dengan laut yang dalam. Di luar Pertamina, pemerintah juga merencanakan pembangunan kilang dengan skema kemitraan pemerintah dan swasta (KPS). "Untuk skema KPS, kami siap memberikan dukungan teknis," ucap Adiatma.

Kilang Baru

Namun begitu, Mantan komisaris PT Pertamina, Umar Said menyatakan bahwa Indonesia mestinya membangun kilang pengolahan minyak sendiri jika ingin mendapat keuntungan dan penghematan Anggaran Pendapatan Belanja dan Negara (APBN) lebih banyak daripada meningkatkan kapasitas dari kilang yang sudah lama.

Menurut Umar, dengan memiliki kilang pengolahan minyak, Indonesia akan bisa memproduksi sendiri bahan bakar minyak (BBM) yang murah bagi warga masyarakatnya. Ini, sekaligus memperkecil ketergantungan pada pasar luar negeri yang dinamikanya sangat tinggi. "Harganya pasti lebih murah daripada kita beli di pasar Singapura. Sebab, kita beli langsung. penghematannya di situ," ujar Umar.

Selain itu, ia melanjutkan, jika Indonesia membangun kilang minyak sendiri berarti juga memperluas lapangan pekerjaan. Umar meyakini bahwa kenyataan Indonesia dalam kurun 10 tahun terakhir belum juga membangun kilang minyak, karena permainan pihak-pihak yang ingin mengejar keuntungan bagi dirinya sendiri. "Saya sangat menduga itu kerjaan mafia. Mafia kan, nggak mau ada kilang baru. Kalau ada kilang baru, impor kita berkurang dong," kata Umar.

Menurut Umar, selama ini ada anggapan kurang tepat yang terlanjur berkembang bahwa membangun kilang tidak memberikan keuntungan yang besar. Padahal, membangun kilang itu merupakan investasi strategis yang sangat menguntungkan untuk jangka panjang. "Selalu digembor-gemborkan, kilang itu return-nya tipis. Memang tipis, tetapi selalu di atas cost of money. Jadi, dibiayai sepenuhnya dengan uang orang. Bodoh, kalau investasi dengan uang sendiri. Tetapi, uang pijaman ini jangan dikorup," kata Umar.

Sekedar informasi, saat ini, Pertamina mengoperasikan enam kilang di seluruh Indonesia dengan total kaapasitas 1,047 juta barel minyak mentah per hari. Diantara kilang minyak yang dimiliki yaitu kilang Dumai di Provinsi Riau yang berkapasitas mencapai 127.000 barel per hari, kilang Plaju yang berada di Sumatera Selatan dengan kapasitas produksi mencapai 133.000 barel per hari, kilang Cilacap dengan produksi terbesar yakni 348.000 barrel/hari, kilang Balikpapan yang berada di Kalimantan Timur memiliki kapasitas produsi sebanyak 260.000 barel per hari, dan kilang Balongan dengan kapasitas 125.000 barel per hari.