Unilever Bukukan Penjualan Rp 26,09 Triliun

Jumat, 24/10/2014

NERACA

Jakarta –Sampai dengan kuartal tiga tahun ini, PT Unilever Indonesia Tbk (UNVR) membukukan penjualan sebesar Rp26,09 triliun. Angka ini naik 13,3% dibanding periode yang sama tahun lalu sebesar Rp23,03 triliun.

Dalam siaran persnya di Jakarta, Kamis (23/10), dijelaskan, naiknya penjualan bersih diikuti dengan meningkatnya harga pokok penjualan sekitar 19,3% menjadi Rp13,36 triliun dari Rp11,20 triliun. Sementara beban pemasaran dan penjualan juga bertambah menjadi Rp5,18 triliun dari Rp4,86 triliun, serta beban umum dan administrasi menjadi Rp2,06 triliun dari Rp1,53 triliun.

Kendati demikian, beban lain-lain bersih dapat ditekan menjadi Rp4,34 miliar dari Rp50,31 miliar, sehingga laba usaha mendatar dari Rp5,49 triliun menjadi Rp4,34 triliun. Penghasilan keuangan meningkat menjadi Rp8,66 miliar dari Rp7,72 miliar, namun biaya keuangan melonjak menajdi Rp72,24 miliar dari Rp29,22 miliar.

Akibatnya laba periode berjalan sepanjang sembilan bulan pertama tahun ini sedikit tergerus sekitar 0,24% menjadi Rp4,08 triliun dari periode yang sama tahun lalu Rp4,09 triliun. Laba bersih per saham dasar naik tipis menjadi Rp531 per lembar dibanding akhir kuartal III/2013 sebesar Rp536 per lembar. Jumlah aset perusahaan pada akhir September 2014 tercatat sebesar Rp15,17 triliun, meningkat dibanding akhir tahun lalu Rp13,35 triliun.

Pada paruh pertama tahun ini, PT Unilever Indonesia Tbk telah merealisasikan belanja modal atau capital expenditure (capex) sebesar 43% hingga 50%. Sampai Juni, UNVR membelanjakan sekitar Rp 600 miliar sampai Rp 700 miliar. Perseroan yang semula menganggarkan capex sebesar Rp 1 triliun. Lalu nilai tersebut ditingkatkan menjadi Rp 1,4 triliun.

Dijelaskan, kenaikan capex ini disebabkan adanya tambahan kebutuhan untuk memperluas kapasitas produksi dan kabinet es krim. Pihaknya terus berusaha menambah produk baru dan inovasi. Setiap tahun, UNVR menargetkan adanya 50 sampai 55 inovasi baru. Sebelumnya, PT Unilever Indonesia Tbk disematkan sebagai salah satu perusahaan paling inovatif di dunia.

Perseroan menempati urutan keempat sebagai perusahaan paling inovatif di dunia. Di Asia, anak usaha Unilever ini bahkan menjadi yang paling inovatif. Seperti di lansir dari Forbes, perusahaan yang bergerak di sektor konsumsi ini memiliki nilai inovasi premium sebesar 65,1%, sementara kenaikan penjualan sebesar 12% dan total return lima tahunan mencapai 26,6%.

Perseroan sendiri mengapresiasi terhadap penilaian Forbes sebagai perusahaan paling inovatif di dunia dengan urutan ke-empat. Menurut pakar marketing, Yuswohady, penilaian inovatif bukan hanya dari sisi marketingnya yang mendominasi market di Indonesia melainkan bagaimana kinerja perusahaan yang membuat suatu produk menjadi lebih inovatif dan tidak basi di pasaran. (bani)