Mengubah Stigma Mahalnya Berasuransi

Tingkatkan Melek Asuransi

Kamis, 23/10/2014

NERACA

Jakarta – Pertumbuhan ekonomi dalam negeri yang masih positif memberikan dampak yang signifikan terhadap daya beli masyarakat dengan meningkatnya pendapatan masyarakat perkapita tiap tahunnya. Bahkan kondisi ini juga mampu memacu pertumbuhan masyarakat ekonomi kelas menengah. Namun ironisnya, ditengah pertumbuhan daya beli masyarakat dan meningkatkan jumlah masyarakat kelas menengah belum memberikan angin segar terhadap industri asuransi. Pasalnya, dari 240 juta lebih penduduk Indonesia hanya 18% yang sudah melek asuransi atau sekitar 43,2 juta orang saja yang paham dengan asuransi,"Literasi asuransi di Indonesia masih rendah, yang sudah memahami asuransi di data OJK 18% dari jumlah penduduk Indonesia," kata Ketua Umum Asosiasi Asuransi Jiwa Indonesia (AAJI), Hendrisman Rahim.

Bahkan dari jumlah itu, yang benar-benar sudah merasakan produk asuransi hanya 12% atau hanya 28,8 juta penduduk saja. Rendahnya penetrasi asuransi dalam negeri banyak berbagai faktor dan salah satunya soal minimnya literasi asuransi atau belum sadar pentingnya memiliki asuransi. Dimana sebagian masyarakat beranggapan masih banyak kebutuhan lain yang lebih mendesak ketimbang menyisihkan sebagian penghasilan untuk keperluan proteksi diri dan harta bendanya.

Apalagi, jika mengharapkan masyarakat memandang asuransi sebagai instrumen investasi, mungkin masih terlalu jauh. Hasbullah Thabrany, profesor Fakultas Kesehatan Publik Universitas Indonesia (UI), beranggapan kecenderungan masyarakat Indonesia untuk tidak terlalu mempedulikan risiko disebabkan oleh dua persepsi umum. Masyarakat relatif tidak melihat jangka panjang sehingga cenderung menganggap sebelah mata terhadap kepentingan untuk memiliki proteksi risiko.

Di sisi lain, masih ada persoalan kepercayaan dan adat istiadat. “Rendahnya penetrasi asuransi di Indonesia karena penduduk Indonesia belum "melek" risiko hidup, sehingga jumlah warga yang mengikuti asuransi masih sangat kecil dibanding negara-negara tetangga seperti Malaysia,”ungkapnya.

Hal senada juga diakui Chief Distribution Officer Sun Life, Elin Waty, rendahnya kesadaran masyarakat akan berasuransi ditenggarai karena manfaat asuransi tidak bisa diterima seketika itu juga. Untuk meningkatkan kesadaran tersebut, maka perlu ada usaha bersama dari pelaku industri dan Otoritas Jasa Keuangan (OJK).

Menurutnya, rendahnya penetrasi asuransi di Indonesia perlu disikapi dengan serius dan perlu segera dicarikan jalan keluarnya. Apalagi, penetrasi asuransi di Tanah Air belum mampu menembus angka 5%,”Kenapa belum berasuransi? Karena asuransi itu tidak bisa dilihat, tidak bisa dipegang, dan tidak bisa dirasakan pada saat ini juga,”ungkapnya.

Elin juga tidak memungkiri pertumbuhan kelas menengah di Indonesia saat ini memiliki peluang untuk industri asuransi bertumbuh dan berkembang. Namun, kenyataanya, masyarakat di kelas tersebut masih memilih membeli alat elektronik ketimbang produk asuransi. “Sekarang memang sudah ada perubahan. Namun, mereka masih beranggapan bahwa produk asuransi mahal. Ini tugas kami untuk memberikan kesadaran itu,”ujarnya.

Manfaat Berasuransi

Menurut Otoritas Jasa Keuangan (OJK) ada empat hal yang menjadi manfaat jika masyarakat di suatu negara melek asuransi. Direktur Pengaturan Penelitian dan Pengembangan Industri Keuangan Non Bank OJK, Yusman mejelaskan, manfaat pertama dari asuransi adalah membangun kesiapan finansial. "Asuransi adalah komponen krusial dalam perencanaan keuangan," katanya.

Kedua, asuransi akan membangun kepercayaan diri masyarakat dalam menjalankan usaha. Dengan adanya asuransi, keamanan usaha yang dijalankan lebih terjamin. Imbasnya akan tercipta banyak unit bisnis baru karena ada jaminan yang jelas dari asuransi.

Manfaat ketiga adalah memperluas lapangan kerja. Dirinya mengatakan, kebutuhan tenaga kerja di bidang asuransi sangat bervariatif. Profesi di bidang asuransi tidak hanya sebatas menjadi agen asuransi. Di dalamnya diperlukan tenaga ahli sebagai underwriter, aktuaris, dan sumber daya manusia yang mampu menghitung manajemen risiko. Terakhir, asuransi berperan sebagai penghimpun dana dari masyarakat yang berkontribusi dalam pembangunan sektor riil. "OJK akan mengajak semua pihak untuk mengembangkan asuransi di Indonesia," imbuhnya.

Maka menjawab kebutuhan masyarakat untuk melek asuransi, Sun Life sebagai perusahaan jasa keuangan terus meningkatkan edukasi pemanfaatan asuransi. Alasannya, seiring pendapatan per kapita masyarakat yang terus meningkat sudah sepantasnya harus diimbangi dengan pemberian edukasi dan sosialisasi soal keuangan yang memadai agar masyarakat lebih melek finansial.

Presiden Direktur Sun Life, Eddy Belmans mengatakan, dengan memberikan pengetahuan mengenai pengelolaan keuangan dan menanamkan kepercayaan diri pada generasi muda, hal tersebut akan membantu mereka dalam membuat keputusan keuangan secara matang dan efektif,”Ketrampilan-ketrampilan ini akan bermanfaat pula dalam kehidupan mereka sebagai orang dewasa dan juga wirausaha,”ujarnya. (bani)