Kabinet Jokowi Jadi Penuntu Laju IHSG

NERACA

Jakarta – Meskipun sentiment positif Jokowi Effect mulai memudar, namun pelaku pasar masih tetap melakukan aksi beli. Hal ini sebagai respon positif dan optimisme investor terhadap susunan kabinet Jokowi yang akan sesuai harapan.

Kepala Riset Bahana Securities, Harry Su mengatakan, susunan kabinet pemerintahan Joko Widodo-Jusuf Kalla akan menjadi salah satu faktor penentu arah pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan Bursa Efek Indonesia (IHSG BEI) ke depannya,”Kalau susunan kabinet dinilai kurang kredibel oleh pelaku pasar maka akan sulit bagi indeks BEI bergerak naik,”ujarnya di Jakarta, Rabu (22/10).

Menurut dia, hal itu dikarenakan profil yang menempati kabinet pemerintahan baru ini akan mengendalikan pertumbuhan perekonomian ke depannya. Namun, sejauh ini kalangan pelaku pasar cukup optimistis bahwa jabatan menteri dalam kabinet pemerintahan saat ini cukup baik,”Kami optimis karena calon-calon pejabat itu melewati tahap penyeleksian dari Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) dan Pusat Pelaporan dan Analisis Transaksi Keuangan (PPATK), harusnya aman," katanya.

Dia memaparkan bahwa posisi menteri yang menjadi fokus pelaku pasar yakni Menteri Koordinator Bidang Perekonomian (Menko), Menteri Keuangan, dan Menteri Badan Usaha Milik Negara."Posisi itu cukup erat dengan industri pasar modal, jadi harus benar-benar dipimpin oleh individu yang tentunya tidak terlalu berbasis politik tapi teknokrat," ujarnya.

Selain susunan kabinet, Harry Su menambahkan bahwa situasi politik juga menjadi salah satu faktor penggerak bagi pasar saham. kondusifnya politik di dalam negeri akan membuat minat investasi asing masuk."Kondisi politik juga sangat penting, kalau tidak stabil tentu perekonomian akan terganggu dan tidak ada investasi yang masuk, terutama asing," ucapnya.

Dengan asumsi posisi kabinet yang sesuai harapan pasar dan kondisi politik yang stabil, Harry Su memperkirakan IHSG BEI pada akhir tahun 2014 ini dapat mencapai level 5.300 poin. Sementara itu, jika kondisinya tidak sesuai dengan ekspektasi maka IHSG BEI dapat kembali ke level batas bawah di kisaran 4.850-4.900 poin.

Sebelumnya, pengamat pasar modal dari First Asia Capital, David Sutyanto pernah bilang, molornya pengumuman kabinet Jokowi mulai menuai keraguan dari pelaku pasar modal. Tengok saja, menutup perdagangan sesi pertama pada Selasa (21/10) kemarin, IHSG ditutup melemah 19,622 poin (0,39%) ke level 5.020,910. Hal ini dipicu keraguan investor soal kepastian formasi menteri ekonomi Jokowi,”Para investor masih tetap menunggu struktur kabinet Jokowi-JK. Hal tersebut membuktikan, bahwa masih adanya keraguan dari pasar," ungkapnya.

Namun, lebih lanjut dirinya menjelaskan bahwa keragu-raguan pelaku pasar juga terlihat dari adanya nilai value yang kecil sampai siang kemarin. Padahal saat awal perdagangan, IHSG dibuka menguat 16,75 poin atau 0,33% menjadi 5.057,28. Sementara menurut analis PT Waterfront Securities, Oktavianus Marbun, terkoreksi indeks BEI disebabkan kenaikan indeks saham yang terlalu tinggi sehingga dimanfaatkan pelaku pasar untuk ambil untung. (bani)

BERITA TERKAIT

Kemenperin Akselerasi Laju Hilirisasi Riset Sektor Manufaktur

NERACA Jakarta – Kementerian Perindustrian terus mendorong peningkatan kegiatan penelitian, pengembangan dan perekayasaan (litbangyasa) di dalam negeri, terutama guna menguatkan…

Pelemahan IHSG Tidak Pengaruhi Minat IPO

PT Bursa Efek Indonesia (BEI) menilai pelemahan indeks harga saham gabungan (IHSG) tidak membuat sejumlah perusahaan menunda untuk melaksanakan penawaran…

Aksi Beli Investor Jadi Sentimen Positif IHSG - Manfaatkan Harga Saham Terdiskon

NERACA Jakarta - Indeks harga saham gabungan (IHSG) Bursa Efek Indonesia (BEI), Rabu (16/5) ditutup menguat sebesar 3,34 poin seiring…

BERITA LAINNYA DI BURSA SAHAM

Harum Energy Bagikan Dividen US$ 45 juta

Sukses membukukan kinerja positif dengan perolehan laba bersih melesat tajam, PT Harum Energy Tbk (HRUM) akhirnya memutuskan untuk membagikan dividen…

PTPN X Terbitkan MTN Rp 500 Miliar

PT Perkebunan Nusantara (PTPN) X menerbitkan "Medium Term Notes" (MTN) atau surat utang jangka menengah tahun 2018 senilai Rp500 miliar,…

Mitra Investindo Masuk Pengawasan BEI

Lantaran terjadi peningkatan harga saham di luar kewajaran, perdagangan saham PT Mitra Investindo Tbk (MITI) masuk dalam pengawasan PT Bursa…