E-Blusukan, Tantangan Jokowi Bangun Infrastruktur ICT

Sabtu, 01/11/2014

Presiden Joko Widodo atau biasa disapa dengan nama Jokowi ini memang dikenal dengan kegiatannya yang gemar blusukan atau berkeliling melihat masyarakat untuk mengetahui masalah di masyarakat. Sejak menjadi Walikota Solo dan menjadi Gubernur DKI Jakarta, Jokowi memang sangat gemar sekali turun langsung untuk meninjau masyarakatnya. Hal ini pun disambut baik oleh masyarakat, blusukan menjadi media untuk dekat kepada masyarakat.

Setelah resmi dilantik menjadi presiden, kini Jokowi pun tidak lagi memiliki banyak waktu seperti saat menjadi walikota dan gubenur. Namun Jokowi pun tidak ingin meninggalkan kebiasaannya untuk blusukan. Berbagai teknologi pun akhirnya dirancang agar Jokowi bisa tetap melakukan blusukan, salah satunya dengan menghadirkan e-Blusukan. Meski program ini masih akan terus dibahas, namun Jokowi sudah menerima dengan baik rancangan program e-blusukan ini.

Nantinya Jokowi bisa melakukan e-Blusukan ke seluruh provinsi kabupaten dan kota-kota. Namun e-blusukan itu seperti konferensi video, dengan begitu Jokowi bisa mendengar masukan dari seluruh rakyat Indonesia. Jokowi pun mengungkapkan bahwa nantinya media sosial nanti akan betul-betul gunakan untuk mendengarkan suara rakyat, tidak harus ketemu langsung, bisa lewat Twitter dan Facebook.

Bahkan pemilik Facebook, Mark Zuckerberg, datang ke Indonesia dan menawarkan pemerintahan Joko Widodo-Jusuf Kalla untuk menggunakan Facebook sebagai sarana e-blusukan. Mark Zuckerberg juga menawarkan agar sistem yang sama diterapkan di semua kementerian, nantinya fasilitasnya gratis dan aksesnya akan dipermudah.

Menurut Heru Sutadi, pengamat IT, “Sebelum bicara e-blusukan perlu diperhatikan e-blusukan yaitu infrastruktur TIK terkait blusukan, perlu ada misi jokowi bangun broadband hingga ke desa-desa, dan aksi nya seperti apa.”

“Dengan infrastruktur yang baik maka proses komunikasi dengan rakyat melalui teleconference akan lebih baik, interaktif dan bisa masuk ke banyak tempat hingga pelosok desa,” tambah Heru Sutadi.

Jokowi menambahkan meski program e-Blusukan sudah ada, blusukan secara langsung tetap akan dilakukan. Jokowi sadar aplikasi tersebut hanya menjangkau kalangan menengah ke atas.Presiden terpilih Joko Widodo (Jokowi) mahsyur dengan konsep pengawasan terjun langsung ke masyarakat dan kantor-kantor pemerintah. Dan sebagai Presiden, kini Jokowi dituntut harus bisa meneruskan konsep pengawasan daerah ke berbagai wilayah-wilayah terpencil di seluruh Indonesia.

Pada akhir September kemarin, konsep e-blusukan Jokowi untuk pertama kalinya diujicobakan. Saat pertama kali melakukan e-blusukan itu, Jokowi melakukan perbincangan melalui telekonferensi bersama sejumlah relawan dan warga Papua yang berkumpul di lapangan Trikora, Abepura,Papua. selain itu, Jokowi juga melanjutakn e-blusukan dengan kelompok usaha tani di beberapa wilayah, yakni Maluku Utara, Bangka Belitung, Yogyakarta, Aceh, Kalimantan Barat dan Yogyakarta.

Selain efisien, e-blusukan juga bertujuan untuk membangun dan memperluas akses infrasturktur telekomunikasi berbasis internet di seluruh wilayah Indonesia. E-blusukan ini pun mendapatkan dukungan dari banyak pihak. Telkomsel salah satuya, Direktur Keuangan Telkom, Honesti Basyir sempat mengungkapkan bahwa pihaknya siap mendukung sistem informasi elektronik program e-blusukan.

Heru Tjatur, pengamat komunikasi ICTWatch mengungkapkan juga hal yang serupa, “Bagi saya, blusukan atau apapun terminologinya adalah upaya Jokowi untuk tahu aspirasi dan kebutuhan rakyatnya. Kita tidak bisa melihatnya dalam jangka pendek. Misalnya, apapun alasannya menaikkan BBM, dalam jangka pendek akan memberatkan rakyat. Semua hasil blusukan akan menyuarakan itu. Tapi apakah kebijakan itu tidak mempertimbangkan suara rakyat yg terserap dari blusukan? Dan, berimplikasi pada tidak efektifnya hasil blusukan? Tentunya tidak, menurut saya.”

“Tantangan ke depan adalah wilayah yang harus dijangkau oleh Jokowi. Pertimbangan mengimplementasikan teknologi adalah pemikiran yang sangat baik dan tepat. Tantangan terbesar implementasi ICT dalam aktivitas blusukan presiden adalah ketersediaan infrastruktur ICT yang memadai. Saya anggap ini tantangan, karena dapat menjadi pemicu pemerataan investasi ICT di Seluruh wilayah Indonesia.” Ujar Haru Tjatur.

“Satu-satunya kelemahan adalah karena tidak bisa bertatap muka langsung, percakapan yang terjadi bisa menjadi tidak spontan dan audiens diskusi bisa diatur dengan topik yang well-prepared. Ini dapat mengurangi esensi yang hendak dicapai dengan blusukan. Tapi dengan kombinasi antara blusukan langsung dengan e-blusukan, tim blusukan dapat mengurangi dampak tadi. Satu lagi, dengan implementasi ini saya berharap dapat memberikan pelajaran terbaik bagaimana ICT memberikan impak positif pada masyarakat,” tambahnya.

Tidak hanya Telkomsel, Institut Teknologi Bandung(ITB) dikabarkan pula telah menciptakan sebuah sistem komputasi Smart City yang diharapkan mampu meningkatkan efektivitas e-blusukan. Sejauh ini dua kota di wilayah Jawa Barat, yakni Bandung dan Bogor, dikabarkan menjadi dua kota terdepan yang siap menggelar konsep smart city milik ITB. Untuk ke depannya diharapkan seluruh wilayah di Indonesia dapat menerapkan konsep Smart City.