Balita Berkualitas Hasil Tepatnya Manajemen Tumbuh Kembang

Sabtu, 01/11/2014

Agar anak balita dapat tumbuh dan berkembang secara optimal baik fisik, mental dan sosial, orang tua perlu menerapkan pola manajemen tumbuh kembang yang tepat. Dalam pola manajemen tersebut, orang tua meletakkan dasar-dasar kesehatan, fisik dan mental dan kemampuan beradaptasi dengan lingkungan sosial budayanya secara benar sehingga menghasilkan balita berkualitas.

NERACA

Di samping itu, di tengah maraknya produk-produk untuk balita yang tersedia di masyarakat, orang tua juga perlu memperhatikan kualitas produk serta standar kesehatan produk-produk yang dipakai dan dikonsumsi oleh balita mereka. Orang tua harus jeli dalam memilih material yang dirancang khusus untuk balita agar balita terhindar dari iritasi kulit serta efek samping penggunaan produk dalam jangka panjang.

Namun demikian, tanpa disadari orang tua sering melakukan hal-hal yang salah dalam perawatan balita, misalnya menggunakan bahan yang terlalu keras untuk kulit bayi, penggunaan bawang dicampur balsam saat bayi sakit, tidak mengerti seberapa sering seharusnya mengganti popok bayi sehingga sering terjadi ruam popok, dsb.Demikian beberapa kesimpulan yang mengemuka pada Seminar Media hari ini.

“Anak bukanlah bentuk miniatur dari orang dewasa. Anak memiliki ciri khas yaitu selalu tumbuh dan berkembang. Tahapan pertumbuhan dan perkembangan emosi, spiritual, kognitif serta perilaku anak berbeda di setiap periode usia. Balita dikatakan berkualitas apabila balita tidak saja sehat, namun pertumbuhan, perkembangan, perilaku, emosi, kognitif dan perkembangan spiritualnya harus berkembang sesuai dengan usianya. Untuk menjadi sehat, balita harus terlindungi dari penyakit yang dapat menyerangnya, tercukupi nutrisinya dan hidup di lingkungan yang sehat dan aman,” tutur dr. Bernie Endyarni Medise, Sp.A (K), MPH, konsultan tumbuh kembang FKUI-RSCM.

Menurutnya kebutuhan dasar tumbuh kembang anak agar tumbuh secara optimal adalah kebutuhan fisis biologis (nutrisi, imunisasi, kebersihan badan & lingkungan, pengobatan, olahraga, bermain). Kebutuhan stimulasi (sensorik, motorik, emosi, kognitif, mandiri, kepemimpinan) dan kebutuhan akan kasih sayang (rasa aman dan nyaman, dilindungi, pola asuh demokratik).

“Lingkungan berperan besar dalam tumbuh kembang anak. Pada fungsi kognitif anak usia 2-4 tahun, sebanyak 20 % ditentukan faktor genetik sedangkan 70% ditentukan lingkungan asuhan bersama. Agar stimulasi maksimal, orangtua berkewajiban untuk memberikan perawatan dan perlindungan yang aman dan nyaman untuk anak saat memberikan stimulasi.” lanjutnya.

Banyak hal yang terjadi dalam proses pertumbuhan dan stimulasi perkembangan anak yang sering ditanggapi salah oleh orang tua. Contoh pada fase oral, bayi sering memasukkan mainan dan jarinya ke dalam mulut. Orangtua sering melarang bayi, padahal fase ini penting dilalui dalam perkembangan bayi. Orangtua harus memastikan apapun yang dimasukkan ke dalam mulut bayi aman, bersih dan tidak berbahaya.

Kenali karakter pencernaan pada balita karena rawan mengalami gangguan perut kembung, jika perut balita terdeteksi masuk angin, orang tua perlu menerapkan metode yang baru dalam mengatasi perut kembung. Penerapan pola lama seperti mengolesi balsem atau bawang merah pada balita yang mengalami perut kembung seringkali menyebabkan iritasi pada kulit balita. Iritasi di daerah kulit dapat mengganggu kenyamanan balita sehingga dapat pula mempengaruhi proses pertumbuhan dan perkembangan balita. Oleh sebab itu, orang tua perlu memahami ciri khas dari tiap tahapan perkembangan sehingga dapat mengambil langkah manajemen yang tepat untuk keperluan stimulasi sang bayi.

Ia menghimbau, “Orang tua harus jeli, cermat dalam merawat dan mendidik anak. Orangtua harus memahami tahapan pertumbuhan, perkembangan anak serta mengenali berbagai penyakit yang mungkin menyerang anak berdasarkan usia. Orang tua harus memahami bagaimana memberikan nutrisi yang tepat dan stimulasi yang benar untuk tumbuh kembang balita yang sesuai dengan usianya. Jangan pernah bosan untuk belajar dari berbagai media, namun harus dari sumber yang tepat sehingga tidak terjadi kesalahpahaman dalam merawat dan mendidik anak,” tutupnya.