Menakar Kekokohan Harga Saham Wijaya Karya

Pasca Penerbitan MTN Rp 1 Triliun

Jumat, 10/10/2014

NERACA

Jakarta – Begitu agresifnya ekspansi bisnis yang digarap PT Wijaya Karya Tbk (WIKA) membuat laju perdagangan saham BUMN konstruksi ini terus merangkang naik. Rupanya aksi korporasi yang disampaikan perseroan, seperti penerbitan surat utang dan tender proyek tol Balikpapan-Samarinda berhasil mendongkrak harga saham perseroan.

Menurut pengamat pasar modal Sinarpo Suria, PT Wijaya Karya (WIKA) yang berencana menerbitkan surat utang jangka menengah (MTN) alias medium-term note (MTN) sebesar Rp1 triliun di akhir 2014 mampu memberikan sentiment positif terhadap saham WIKA di bursa,”Perseroan bakal menerbitkan MTN, dimana hasil penerbitan akan dipergunakan untuk merestrukturisasi profil kas dan utang,”ujarnya di Jakarta, kemarin.

Selain itu, Wika Realty, anak usaha emiten WIKA mengembangkan proyek perkantoran di Jakarta Pusat. Investasinya diperkirakan mencapai Rp300 milliar. “Pasar perkantoran Jakarta menunjukkan kinerja yang baik dan diharapkan akan tumbuh positif di masa mendatang,” ujarnya.

WIKA juga tengah mengikuti tender proyek jalan tol Balikpapan-Samarianda. Diharapkan dapat memenangi salah satu paket dari lima paket yang tersedia dari tender tersebut. “WIKA memiliki sejumlah proyek tidak hanya di dalam negeri, tapi juga di luar negeri seperti kawasan Myanmar, Arab Saudi, Timor Leste, dan Malaysia,” ungkap dia.

Proyek yang telah diperoleh adalah proyek Pray Tower & Residences Myanmar, proyek pipa Gresik-Semarang, proyek conveyor system PT Tambang Batubara Bukit Asam (PTBA). “WIKA menargetkan, hingga akhir 2014 bisa menggarap kontrak Rp49,97 trilun,” ucapnya.

WIKA memacu pembangunan proyek residensial di Myamar dengan menggandeng perusahaan properti asal Singapura. Pasca akuisisi perusahaan beton pracetak PT Citra Lautan Teduh, PT Wijaya Karya Beton (WTON) akan menguasai 90% dan sang induk WIKA mengempit 10%. “WIKA tengah ancang-ancang untuk melepaskan anak usaha PT Wika Karya Realty untuk IPO di tahun 2015,” tuturnya.

Laju saham WIKA pada 19 September 2014 mencapai level tinggi di Rp2.920. Sinarpo menargetkan harga saham WIKA di Rp3.200 dalam 12 bulan dan terlebih perseroan mulai fokus rambah bisnis properti. Sementara itu, investor independen AM Saepul Islam menilai, posisi harga saham WIKA saat ini sudah kemahalan. “Sebab, berdasarkan hitung-hitungan fundamental, harga wajar saham ini berada di Rp1.193 per saham,” ungkapnya.

Asal tahu saja, sampai dengan semester pertama atau tepatnya bulan Juni 2014, PT Wijaya Karya Tbk berhasil membukukan kontrak baru sebesar Rp6,7 triliun atau 25,94% dari target kontrak baru 2014 sebesar Rp25,83 triliun. Informasi tersebut disampaikan perseroan dalam siaran persnya di Jakarta, kemarin.

Disebutkan, kontrak baru yang diraih hingga Juni 2014 antara lain, proyek plyover Simpang Air Hitam, Samarinda Rp105,9 miliar, proyek pembangunan Jembatan Dompak, Tanjung Pinang Riau Rp284,4 miliar, proyek CBD Surabaya Apartemen Rp634,6 miliar, proyek Darma Husada Tower Rp401,8 miliar dan proyek terminal BBM Pulau Sambu Kepulauan Riau Rp740,45 miliar.

Selain itu, ada proyek penimbunan Gasoline Tanjung Uban Kepulauan Riau Rp1,14 triliun, proyek pengadaan jasa pembangunan infrastruktur dan gedung baru ITB Rp178,66 miliar, proyeks konstruksi fisik Rumah Sakit Umum Daerah Jakarta Selatan Rp188,28 miliar dan proyek pembangunan gedung kuliah Universitas Telkom di Bandung Rp110,22 miliar. (bani)