Sampai September, Pembangkit Listrik "Tenggak" BBM 4,7 Juta KL

Kamis, 09/10/2014

NERACA

Jakarta – Kepala Divisi Bahan Bakar Minyak (BBM) dan Gas PT PLN (Persero) Suryadi Mardjoeki menyatakan bahwa sampai dengan September 2014, PLN telah mengkonsumsi BBM mencapai 4,7 juta kilo liter (KL). Sementara itu, PLN hanya diberikan kuota BBM sampai akhir 2014 sebesar 6,5 juta kiloliter, artinya sejauh ini PLN baru menggunakan 72%.

Meski kuota penggunaan BBM telah dipatok, pihaknya merasa optimis penggunaan BBM yang diperlukan untuk pembangkit tidak akan melebihi kuota yang telah ditetapkan. "Kami perkirakan sampai akhir tahun 6,5 juta kiloliter," katanya, seperti dikutip dari Antara, Selasa (7/10).

Berdasarkan catatannya, Kota Medan, Sumatera Utara menjadi daerah yang mengkonsumsi paling besar dibandingkan dengan daerah-daerah lainnya. Sumut mengkonsumsi BBM sebesar 2,7 juta kiloliter sampai dengan September 2014 padahal alokasi BBM untuk pembangkit di Medan ditetapkan sebesar 3,5 juta kiloliter. Namun begitu, pada 2015, konsumsi BBM di Medan bakal tergantikan gas yang dialirkan melalui pipa dari Aceh.

Suryadi mengatakan, pada 2015, pihaknya menargetkan pemakaian BBM bakal turun menjadi 5,5 juta kiloliter melalui peningkatan pemanfaatan batubara dan gas. Selanjutnya, pada 2016-2017, konsumsi BBM pembangkit tinggal 1-2 juta kiloliter. Ia mengatakan, konsumsi BBM paling maksimal diturunkan sekitar satu juta kiloliter. "BBM tidak bisa nol, karena untuk PLTU 'start'-nya tetap pakai BBM," katanya.

Sementara, lanjut Suryadi, konsumsi gas sampai September 2014 sudah 290 triliun "british thermal unit" (TBTU). Sedang sampai akhir 2014, konsumsi gas bakal mencapai 450 TBTU atau lebih tinggi dibandingkan rencana 431 TBTU. Pada 2013, konsumsi BBM pembangkit mencapai 7,4 juta kiloliter dan gas 410 TBTU.

Pada rapat kerja Komisi VII DPR dengan Pelaksana Tugas Menteri ESDM Chairul Tanjung ditetapkan porsi BBM dalam baruan energi pada 2015 sebesar 8,53% atau turun dibandingkan 2014 yang 9,7%. Sementara, porsi gas dinaikkan dari 22,95% pada 2014 menjadi 23,21% di 2015.

Sementara, pemakaian gas enam bulan pertama 2014 mencapai 221 TBTU dengan target sampai akhir tahun 450 TBTU atau lebih tinggi dari rencana 431 TBTU. Pada 2013, pemakaian BBM pembangkit tercatat 7,4 juta kiloliter dan gas 410 TBTU. Konsumsi BBM dalam bauran energi pembangkit listrik masih 12,5% pada 2013 dan ditargetkan turun menjadi 9,5% pada 2014. Pada 2015, menurut Suryadi, pasokan gas ke PLN akan bertambah lagi menjadi sekitar 470 TBTU setelah beroperasinya fasilitas terminal gas alam cair di Arun, Aceh.

Pengamat energi Kurtubi juga mengatakan bahwa evaluasi mengenai pembangkit tenaga listrik sudah seharusnya dilakukan, mengingat harga solar terus melambung dan banyak merugikan banyak pihak. “PLN dan APBN akan dirugikan, terutama masyarakat yang akan menerima dampak kenaikan harga-harga akibat kenaikan harga tarif dasar listrik dan bahan bakar,” jelasnya.

Dirinya berpendapat bahan bakar solar sebaiknya segera digantikan dengan batu bara, nuklir atau pun gas yang harga jualnya jauh di bawah bahan bakar solar. Seperti diketahui, harga batu bara itu hanya Rp600 sampai Rp700 per kwh dan solar Rp3.000 per kwh.

Maka dari itu dirinya menegaskan penggantian solar sebagai tenaga pembangkit listrik bisa segera dilakukan oleh pemerintahan baru mendatang. “Saya harap pemerintahan baru mendatang bisa mengambil sikap untuk mengganti pembangkit listrik agar subsidi nol dan PLN juga diuntungkan,” tegasnya.

Sekedar informasi, pada 2011 penggunaan BBM pada pembangkit listrik PLN sebanyak 24,8%. Angka tersebut turun menjadi 15% pada 2012 dan menurun lagi menjadi 12,4% pada 2013. Meski menurunkan BBM, perseroan masih tergantung pada pengguanaan batu bara sebagai bahan bakar utama pengganti BBM.

Penggunaan batu bara terus meningkat dari 42,4% pada 2011, kemudian menjadi 50,4% pada 2012, dan terakhir sebanyak 51,4% pada 2013. Komposisi penggunaan gas hanya naik sedikit dari 2011 yaitu 20,9% yang meningkat hanya 23,4% dan pada 2013 penggunaan gas naik tipis pada angka 24%.