Psikologi Kurban

Oleh: Badrul Munir, Dokter Spesialis Saraf RS Saiful Anwar/Dosen Fakultas Kedokteran Universitas Brawijaya

Rabu, 08/10/2014
Masa pendidikan sekolah dasar adalah masa istimewa, masa periode emas di mana dasar pendidikan seorang anak sedang terbentuk: proses pembentukan jati diri, pengembangan kognisi, pembentukan mental, dan perilaku sangat ditentukan dari kualitas pendidikan dasar ini.

Sistem pendidikan yang memungkinkan anak didik terlibat secara langsung (hand on) sangat penting untuk pembentukan perilaku dan kognisi siswa didik. Sistem ini lebih baik bila dibandingkan cara konvensional, seperti ceramah di muka kelas.

Mengikutsertakan anak didik terlibat langsung dalam sebuah kegiatan, menghargai pendapat dan usahanya dalam kelompok, membantu memecahkan masalah adalah metode yang sangat bagus untuk memberi stimulus otak siswa didik agar semua sel otak mereka berkembang secara optimal.

Kurban yang dilakukan di sekolah, baik sekolah dasar maupun sekolah menengah, pada hakikatnya usaha untuk optimalisasi tumbuh kembang otak, khususnya dalam membentuk perilaku pada anak didik (dalam syariat berkurban).

Namun, hal yang menarik perhatian kita saat ada Instruksi Gubernur Jakarta Nomor 67 Tahun 2014 tentang Pe ngendalian Penampungan dan Pemotongan Hewan dalam rangka menyambut Idul Fitri dan Idhul Adha 2014. Khususnya, larangan menyembelih hewan kurban di sekolah dasar dengan alasan bisa berpengaruh negatif terhadap psikologi, di samping masalah kebersihan dan kesehatan hewan kurban.

Yang menjadi bahasan kita kali ini, benarkah menyembelih hewan kurban di hadapan anak SD menyebabkan kelainan psikologi seperti yang ditakutkan gubernur Jakarta?Ilmu psikoneurobehavior menerangkan usia sekolah dasar (7-12 tahun) saat perkembangan otak di lobus frontalis dan parietalis (dahi dan pelipis), satu hal yag menonjol adalah mulai berkembangnya fungsi kognisi (berpikir, logika, analisis), kreativitas, dan kemampuan berbahasa.

Di bagian otak pelipis atau sistem emosi anak SD sudah mulai menunjukkan hal yang berperan, kegemaran meniru apa yang dilihat dan didengar sangat dominan, apalagi sifat imajinatif sebagai seorang anak yang dibawa dari kecil masih terbawa. Bagian otak yang mengatur psikomotor juga berkembang secara maksimal sehingga anak SD cende rung senang bergerak, bermain mengerjakan sesuatu secara langsung, dan senang bekerja dalam suatu kelompok.

Apa pun stimulus atau paparan yang masuk ke otak sangat memengaruhi perilaku anak (termasuk siswa SD). Setiap stimulus akan terekam kuat di area memori (sistem limbik). Apalagi, bila saat kejadian ada nuansa emosi yang menyertainya, memori akan terpatri kuat. Paparan yang diterima anak harus yang positif sehingga kelak akan menjadi dasar perilaku positif.

Prosesi penyembelihan hewan kurban yang disaksikan secara langsung oleh ratusan mata anak SD dikha wa tirkan memengaruhi psikologis mereka, yakni timbul rasa takut berlebihan (fobia) atau justru timbul sifat atau perilaku kekerasan (agresivitas).

Hal tersebut secara teori bisa terjadi manakala kejadian penyembelihan hewan kurban berulang dan anak didik tidak memiliki pemahaman kognisi tentang syariat kurban, tata cara penyembelihan kurban secara Islami, dan manfaat berkurban untuk meningkatkan jiwa sosial anak kepada lingkungan sekitar nya. Dan, di sinilah tantangan pihak sekolah (guru dan pengajar) untuk memberi pemahaman yang utuh tentang syariat berkurban kepada anak secara runtut dan utuh.

Seperti yang saya jabarkan di atas, saat usia SD adalah saat perkembangan sel saraf lobus frontalis sangat optimal sehingga kemampuan kognisi dan kemampuan bahasa sangat maksimal. Guru di hadapan siswa SD merupakan sosok "idola" bagi dia, guru adalah sumber ilmu, segala ucapannya akan merasuk dengan kuat di pikiran mereka. Hal ini berbeda dengan siswa SMP atau SMA di mana daya kritisnya sudah sangat terasa dan tidak menjadikan ucapan guru sebagai satu-satunya sumber ilmu.

Bila paparan tentang keutamaan kurban sudah terekam dengan kuat di pikiran anak didik, pada saat prosesi penyembelihan hewan kurban yang terbentuk di pikiran anak bukan "pembantaian hewan kurban". Akan tetapi, lebih dari itu adalah suatu ajaran yang luhur tentang pengorbanan ketaatan hamba kepada perintah Tuhannya dan ini lebih terekam kuat dalam perilaku dibanding rasa "kasihan" hewan tidak bersalah dipotong lehernya (fobia) atau "sukacita" melihat hewan kurban tergelepar tidak berdaya sesaat setelah dipotong lehernya (agresivitas).

Dan, proses pendidikan kurban saat usia SD ini sangat potensial membentuk perilaku ketaatan seseorang bila dibandingkan saat SMP dan SMA. Hal ini karena saat SMP-SMA sudah mulai berperilakau remaja dengan segala permasalahannya sehingga membiasakan kebaikan saat usia SMP-SMA sesuatu yang kurang optimal.

Jadi, pelarangan pemotongan hewan kurban di lingkungan sekolah yang dikhawatirkan menjadikan dampak psikologis negatif berupa fobia atau agresif menurut hemat kami berlebihan dan tidak ada dasar ilmiahnya yang kuat.

Justru sebaliknya, suatu proses pembelajaran langsung (hand on) untuk membentuk pribadi dengan kesalehan ritual dan sosial.

Memang tidak dimungkiri ada beberapa anak yang takut melihat darah atau kasihan melihat hewan disembelih, tetapi jumlahnya sangat sedikit dan pada umumnya berhubungan dengan pola asuh yang salah sejak dia kecil.

Bukan karena pelaksanaan penyembelihan kurban di sekolah.Justru yang patut diwaspadai penyebab kekerasan (agresivitas) adalah pengaruh kekerasan yang dilihat dan didapat dalam tontonan televisi dan games. Permainan gameyang mengandalkan kecepatan otak dan gerak untuk meng hancurkan lawan tandingnya akan terekam kuat dan menjadi dasar perilaku kekerasan anak tersebut.

Hal tersebut sudah banyak didukung oleh beberapa penelitian dan menjadi masalah serius yag memengaruhi kualitas generasi muda. Namun, pemerintah seolah tutup mata dan seolah tidak mau tahu pengaruh negatif tersebut dan malah melarang suatu kegiatan positif penyembelihan kurban di sekolah, termasuk sekolah dasar. (haluankepri.com)