Potensi Penguatan Akhir Pekan Cukup Kuat

NERACA

Jakarta – Seharian indeks harga saham gabungan (IHSG) di Bursa Efek Indonesia (BEI) Kamis berada di zona merah akibat aksi jual investor asing yang dipicu sentiment negatif politik dalam negeri yang masih kisruh. Sejatinya terpilihnya ketua Dewa Perwakilan Rakyat (DPR) baru bisa memberikan aura positif bagi laju indeks BEI, namun sebaliknya hal tersebut belum memberikan keyakinan bagi investor asing sehingga memilih keluar dari pasar modal dengan membawa uang senilai Rp 1,6 triliun.

Kata Kepala Riset Universal Broker Indonesia, Satrio Utomo, terkoreksinya indeks BEI juga dipicu sentiment negatif dari dalam dan luar negeri, “Panasnya suhu politik di dalam negeri, sebenarnya tidak terlalu mengganggu pergerakan IHSG BEI. Akan tetapi, kondisi itu berlangsung bersamaan dengan bursa regional yang tertekan sehingga pengaruhnya cukup besar," katanya di Jakarta, Kamis (2/10).

Kendati demikian, menurut Satrio Utama, IHSG yang sudah memasuki level batas bawah itu sebenarnya menarik untuk kembali melakukan akumulasi. Meskipun demikian, pemodal sebaiknya tetap berhati-hati mengingat kondisi bursa ekesternal yang belum kondusif.

Sementara analis Asjaya Indosurya Securities William Surya Wijaya menilai bahwa tekanan indeks BEI belum terlalu mengkhawatirkan, untuk jangka panjang IHSG masih dalam pola tren penguatan. Berikutnya, indeks BEI Jum’at akhir pekan diproyeksikan akan kembali menguat, “Potensi penguatan akhir pekan secara teknikal terlihat cukup kuat,”tandasnya.

Mengakhiri perdagangan Kamis sore, indeks BEI ditutup melemah 140,104 poin (2,73%) ke level 5.000,809. Sementara Indeks LQ45 amblas 27,952 poin (3,21%) ke level 842,858. Tercatat perdagangan berjalan cukup ramai dengan frekuensi transaksi sebanyak 285.234 kali dengan volume 4,5 miliar lembar saham senilai Rp 6,4 triliun. Sebanyak 41 saham naik, 296 turun, dan 52 saham stagnan.

Sentimen negatif juga datang dari pasar saham Wall Street yang terkoreksi akibat virus ebola yang sudah menyebar hingga ke AS. Investor pun lakukan jual panik merespons hal ini, termasuk bursa-bursa di Asia.

Saham-saham yang naik signifikan dan masuk dalam jajaran top gainers di antaranya adalah Centex (CNTX) naik Rp 1.500 ke Rp 17.000, Waran Sarana (SUPR-W) naik Rp 650 ke Rp 3.850, Indo Tambangraya (ITMG) naik Rp 350 ke Rp 26.400, dan Renuka (SQMI) naik Rp 165 ke Rp 1.250. Sementara saham-saham yang turun cukup dalam dan masuk dalam kategori top losers antara lain Indocement (INTP) turun Rp 650 ke Rp 21.025, BCA (BBCA) turun Rp 625 ke Rp 12.400, United Tractor (UNTR) turun Rp 575 ke Rp 19.275, dan Mayora (MYOR) turun Rp 550 ke Rp 29.950.

Penutupan perdagangan sesi pertama, indeks BEI ditutup terkoreksi 96,692 poin (1,88%) ke level 5.044,221. Sementara Indeks LQ45 anjlok 18,358 poin (2,11%) ke level 852,452. Saham-saham unggulan jadi sasaran aksi jual. Seluruh indeks sektoral jatuh ke teritori negatif dengan koreksi rata-rata lebih dari satu persen.

Perdagangan berjalan moderat dengan frekuensi transaksi sebanyak 148.061 kali dengan volume 2,3 miliar lembar saham senilai Rp 3,1 triliun. Sebanyak 34 saham naik, 279 turun, dan 41 saham stagnan. Bursa-bursa regional masih kompak bergerak di zona merah hingga siang. Sentimen dari Wall Street membuat pelaku pasar Asia berhati-hati dalam transaksi.

Saham-saham yang naik signifikan dan masuk dalam jajaran top gainers di antaranya adalah Centex (CNTX) naik Rp 1.500 ke Rp 17.000, Gudang Garam (GGRM) naik Rp 575 ke Rp 56.775, Indo Tambangraya (ITMG) naik Rp 325 ke Rp 26.375, dan HM Sampoerna (HMSP) naik Rp 100 ke Rp 72.100. Sementara saham-saham yang turun cukup dalam dan masuk dalam kategori top losers antara lain Bank of India (BSWD) turun Rp 800 ke Rp 2.600, Multi Prima (LPIN) turun Rp 674 ke Rp 5.600, Mayora (MYOR) turun Rp 550 ke Rp 19.300, dan Samudera Indonesia (SMDR) turun Rp 500 ke Rp 30.000.

Diawal perdagangan, indeks BEI dibuka melemah 33,80 poin atau 0,66% ke posisi 5.107,11 seiring dengan pergerakan bursa saham eksternal, sementara indeks 45 saham unggulan (LQ45) turun 8,47 poin (0,97%) ke posisi 862,33,”Bursa Asia diawal perdagangan dan termasuk indeks BEI bergerak melemah merespon sentimen data indeks manufaktur Eropa yang melambat serta mengantisipasi berakhirnya program 'quantitative easing' (QE) AS," kata Analis Samuel Sekuritas Aiza.

Kondisi negatif eksternal itu, lanjut dia, berdampak pada pasar saham domestik, pelaku pasar asing cenderung mengambil posisi lepas saham selama tujuh hari berturut-turut dengan total mencapai 400 juta dolar AS.

Di sisi lain, dia menambahkan bahwa kondisi politik di dalam negeri yang juga kurang stabil menambah sentimen negatif, akibatnya investor cenderung mengambil langkah aman dengan melepas sebagian aset sahamnya,”Aksi lepas saham pelaku pasar itu sebagai kombinasi potensi akan berakhirnya 'quantitative easing', kenaikan suku bunga AS Fed rate, dan kondisi politik di dalam negeri yang kurang stabil," katanya.

Head of Research Valbury Asia Securities Alfiansyah mengatakan, indeks BEI bergerak terkoreksi pada Kamis ini, kendati demikian diharapkan data ekonomi domestik yang telah dipublikasikan menjadi katalis bagi pergerakan IHSG kedepannya,”Aktivitas sektor manufaktur Indonesia membaik di bulan September 2014, atau naik dari 49,5 di bulan Agustus ke 50,7 di bulan. Sebagai catatan, angka indeks di atas 50 mencerminkan ekspansi atau pertumbuhan,”ujarnya.

Tercatat bursa regional, di antaranya indeks Bursa Kospi melemah 25,35 poin (1,27%) ke 1.967,34, indeks Nikkei turun 253,49 poin (1,58%) ke 15.828,82 dan Straits Times melemah 18,07 poin (0,53%) ke posisi 3.246,85. (bani)

Related posts