Pasar Modal Dalam Negeri Masih Rapuh

NERACA

Jakarta – Dramatis keputusan politis soal pemilihan kepala daerah yang dipilih langsung oleh Dewan Perwakilan Rakyat (DPR), rupanya menuai kritik dari publik dan tidak terkecuali pelaku pasar modal. Alhasil, kondisi ini membuat sentiment negatif terhadap laju indeks harga saham gabungan (IHSG).

Analis PT Waterfront Securities Oktavianus Marbun menilai, perubahan drastis pada IHSG menunjukkan jika pasar modal Indonesia cenderung gampang goyang. Hal ini termasuk ciri khas dari negara berkembang,”Kalau gampang goyang itu berarti negara berkembang," kata dia di Jakarta,kemarin.

Berbeda halnya dengan Jepang, kata dia meski sering dihantam isu dalam negeri tetapi pasar modalnya lebih stabil. Tak hanya itu, menurun tajamnya IHSG kata dia menunjukan perekonomian RI tidak berjalan dengan baik,”Karena Jepang secara internal stabil, kita nggak. Kita malah ributkan Pilkada, Century kapan berjalan, pertanyaannya kapan roda ekonomi kita jalan?," tandas dia.

IHSG telah naik 20,08% secara year to date dengan ditutup ke level 5.132,56 pada Jumat 26 September 2014. Kenaikan IHSG ditopang dari kenaikan sektor saham properti dan konstruksi sebesar 34,33%, sektor saham keuangan mendaki 27,83%, dan sektor saham infrastruktur naik 26,92%.

Sebelumnya, Head of Research Valbury Asia Securities, Alfiansyah menegaskan, sentiment pilkada yang dilakukan melalui DPRD diperkirakan mulai berkurang pengaruhnya. Tengok saja, perdagangan saham di Bursa Efek Indonesia (BEI) Senin awal pekan, indeks harga saham gabungan (IHSG) ditutup menguat tipis 9,44 poin atau 0,18% ke posisi 5.142,01. Sementara indeks 45 saham unggulan (LQ45) naik 4,33 poin (0,50%) ke posisi 874,85. Saham-saham yang diburu investor adalah infrastruktur, aneka industri, keuangan, barang konsumsi, dan manufaktur. Sementara saham yang banyak dilepas adalah dari sektor perdagangan, industri dasar, konstruksi, pertambangan, dan agrikultur.

Tercatat transaksi perdagangan saham di BEI sebanyak 239.546 kali dengan volume mencapai 3,41 miliar lembar saham senilai Rp4,01 triliun. Tercatat, efek yang mengalami penguatan sebanyak 127 saham, turun sebanyak 194 saham, dan tidak bergerak nilainya atau stagnan 86 saham.

Kata analis Woori Korindo Securities Indonesia, Reza Priyambada, sebagian invetor di dalam negeri melakukan aksi beli memanfaatkan beberapa harga saham yang telah terkoreksi di perdagangan akhir pekan lalu, sehingga indeks BEI berada di area positif,”Penguatan indeks BEI masih terbatas menyusul pelaku pasar saham yang cenderung mengambil posisi "wait and see" menjelang pengumuman data-data makro ekonomi Indonesia yang sedianya akan dirilis pada awal Oktober 2014 oleh Badan Pusat Statistik (BPS),”ujarnya.

Dirinya berharap, data-data makro ekonomi Indonesia dapat mengimbangi sentimen eksternal yang cenderung negatif. Sementara analis Asjaya Indosurya Securities William Surya Wijaya menambahkan, faktor teknikal mendorong indeks BEI kembali berada di area positif setelah bergerak bervariasi pada awal pekan ini, “Bagi investor jangka pendek perlu meningkatkan kewaspadaan, sedangkan untuk investor jangka panjang dapat terus melakukan akumulasi pembelian di saat terjadi koreksi,”ungkapnya. (bani)

Related posts