Makna Mudik Lebaran

Budaya mudik yang mulai marak dan muncul di Indonesia sejak 1970-an saat program urbanisasi ke Jakarta berlangsung sangat cepat, sebagai dampak akibat ketimpangan ekonomi sehingga saat Lebaran masyarakat urban itu pulang kampung secara bersamaan waktunya yang lalu dikenal dengan istilah mudik.

Selanjutnya mudik Lebaran menjadi semacam euforia sosial yang menghadirkan gegap-gempita tahunan. Pemudik hanya singgah sementara di kampung halaman untuk melepas segala kepenatan setelah setahun sibuk di perantauan. Tujuannya cuma berkumpul dengan handai taulan, bukan untuk memikirkan hal-hal berat.

Kaum pemudik sebenarnya tidak semata-mata ingin mengunjungi kerabat dan sahabat, tetapi ingin juga menunjukkan sesuatu di hadapan warga kampung. Ada semacam kebanggaan jika mampu menunjukkan keberhasilan. Sebab itu mudik menjadi salah satu wahana menunjukkan gengsi karena merasa lebih sejahtera dari sebelumnya.

Kesuksesan hidup di perantauan biasanya diwujudkan dalam aneka aksesoris dan gaya hidup.Mudik pun menjelma menjadi ajang perlombaan sikap hedonis dan jor-joran. Sikap seperti ini terlihat dari tahun ke tahun, dan fenomena mudik Lebaran selalu menghadirkan persoalan seperti, kemacetan, kecelakaan, kriminalitas, dan percaloan yang selalu meresahkan masyarakat.

Kita teringat budayawan Umar Kayam (1993), yang mengatakan bahwa tradisi mudik Lebaran itu sebagai "menjalani suatu ritus yang tidak jelas apakah itu suatu fenomena agama, sosial, atau fenomena budaya.” Tapi faktanya ritus mudik Lebaran ini sanggup memindahkan jutaan orang dari suatu kota ke kota yang lain, atau dari suatu kota ke pedesaan.

Mudik Lebaran yang dilakukan oleh hampir semua etnik menandai adanya kesamaan di antara berbagai budaya di Indonesia. Salah satu hal yang sangat menonjol adalah budaya menghormati orang tua baik yang masih hidup, maupun yang telah meninggal dengan melakukan ziarah ke pemakaman. Penghormatan inilah yang menjadi alasan melakukan mudik menjelang Idul Fitri.

Namun masyarakat tidak sadar, jika suasana mudik menjadi sangat profan ketika nilai-nilai spiritualitas puasa Ramadan tidak ikut terbawa dalam diri perilakunya. Tanpa sadar kita sedang dikepung iklim vampirisme, darah masyarakat dihisap oleh kelompok yang kuat. Di sana-sini terjadi pertarungan memperebutkan kepentingan material dengan mengorbankan sisi spiritual. Bahkan bulan suci yang sejatinya dijadikan momentum pencucian dosa dan pencerahan jiwa justeru dimodifikasi sedemikian rupa untuk kepentingan bisnis yang dikemas rapi bertujuan mengeruk keuntungan materi.

Spiritualitas kita tergoda oleh rayuan konsumerisme. Kita seperti tersihir dan nyaris terjebak dalam medan dilematis antara kepentingan mengejar spiritualitas dan memburu kelezatan hidup duniawi yang tak penah berhenti. Mudik Lebaranpada hakikatnya adalah menyemai bibit spiritual, dalam arti orang-orang yang merayakan harus kembali pada kefitrian (kesucian) jati diri kemanusiannya sebagai hamba Tuhan.

Mudik seharusnya dimaknai dengan menyambung hubungan spiritual dengan Sang Pencipta dan menyambung tali silaturahmi dengan keluarga, saudara, kerabat, dan sahabat secara tulus dan kerendahan hati, bukan jor-joran mengumbar konsumerisme. Tetapi menata kembali konsep diri agar mampu membedakan antara tujuan hidup dan kebutuhan hidup manusia seutuhnya. Semoga!

Related posts