Pemerintah Targetkan Produksi Logam Naik 129%

NERACA

Jakarta - Pemerintah menargetkan produksi logam tembaga mengalami kenaikan 129% atau 400.000 ton dari 310.000 ton menjadi 710.000 ton pada 2018. Dirjen Mineral dan Batubara Kementerian ESDM R Sukhyar mengatakan, saat ini, produksi logam tembaga mencapai 310.000 ton per tahun. "Produksi akan naik pada 2018 menjadi 710.000 ton," ujar Sukhyar di Jakarta, Selasa (23/9).

Sementara itu unruk produksi konsentrat mengalami penurunan menjadi 2,9 juta ton pada 2017 dari sebelumnya 3,8 juta ton. Menurut dia, pada 2017, dihasilkan pula anoda slime sebagai produk samping pengolahan konsentrat tembaga sebesar 1,8 ribu ton yang bisa menghasilkan emas dan perak. Sesuai Permen ESDM Nomor 1 Tahun 2014, pemerintah membolehkan ekspor produk konsentrat tembaga hanya sampai 11 Januari 2017.

Selanjutnya, ekspor hanya dibolehkan berbentuk logam tembaga. Data Kementerian ESDM menyebutkan, pada 2015, kapasitas pengolahan bijih nikel direncanakan 9,3 juta ton, bijih besi 15,4 juta ton, bijih bauksit 1,1 juta ton, bijih mangan 166 ribu ton, dan konsentrat tembaga 3,8 juta ton. Pada 2016, kapasitas pengolahan bijih nikel diperkirakan naik menjadi 15,8 juta ton, bijih besi naik 16,6 juta ton, bijih bauksit naik 1,4 juta ton, bijih mangan tetap 166 ribu ton, dan konsentrat tembaga tetap 3,8 juta ton.

Lalu, pada 2017, kapasitas pengolahan bijih nikel direncanakan naik lagi menjadi 18,7 juta ton, bijih besi tetap 16,6 juta ton, bijih bauksit naik 5,1 juta ton, bijih mangan tetap 166 ribu ton, konsentrat tembaga turun menjadi 2,9 juta ton, dan anoda slime sebesar 1,8 ribu ton. Pada 2018, kapasitas pengolahan bijih nikel direncanakan tetap 18,7 juta ton, bijih besi tetap 16,6 juta ton, bijih bauksit naik 20 juta ton, bijih mangan naik 550 ribu ton, konsentrat tembaga tetap 2,9 juta ton, dan anoda slime tetap 1,8 ribu ton.

Selanjutnya, pada 2019, kapasitas pengolahan bijih nikel direncanakan tetap 18,7 juta ton, bijih besi tetap 16,6 juta ton, bijih bauksit tetap 20 juta ton, bijih mangan tetap 550 ribu ton, konsentrat tembaga tetap 2,9 juta ton, dan anoda slime tetap 1,8 ribu ton. Per Agustus 2014, rencana fasilitas pengolahan dan pemurnian mineral tercatat 64 unit dari 76 perusahaan pemegang izin usaha pertambangan (IUP). Rinciannya, "smelter" nikel 29 unit dari 36 IUP, bauksit 6 dari 11, besi 7 dari 7, mangan 3 dari 3, zirkon 13 dari 13, timbal dan seng 2 dari 2, dan kaolin dan zeolit 4 dari 4.

Dominasi Ekspor

Asosiasi Pengecoran Logam Indonesia (Aplindo) mengungkapkan, produksi logam Indonesia per bulannya mencapai 600 metrik ton. Sebesar, 400 metrik ton atau setara dengan 70 persen ditujukan untuk ekspor, sedangkan 30 persen atau setara 200 metrik ton ditujukan untuk kebutuhan dalam negeri.

Ketua Aplindo Gunawan Lukito mengatakan, 70 persen produksi logam di ekspor ke berbagai negara, seperti Jepang, Australia, Eropa, dan Amerika Serikat (AS). "Kalau di tempat kita ini butuh mensuport part ini sekitar 30 persen dari nilai total unitnya, jadi 30 persennya itu setara dengan 200 metrik ton itu," kata Gunawan.

Gunawan menjelaskan, untuk kebutuhan dalam negeri yang sekitar 30 persen, itu pun ditujukan kepada perusahaan-perusahaan besar di Indonesia, seperti Chevron, dan juga Petrokimia Gresik. "Mereka kan unitnya dulu di impor, sekarang part-part-nya kita yang suport," tambahnya.

Menurutnya, pengolahan bahan baku material logam sangat membutuhkan waktu yang lama untuk menjadi sebuah produk barang jadi yang siap dijual. Dimana, produk tersebut memiliki nilai tambah yang sangat besar. "Contoh scrub-nya harganya USD2.000 per metrik ton, atau dalam negeri sekitar USD1.800, kita olah kan panjang dan nilai tambahnya sekitar USD7.000 tapi USD7.000 itu sudah wujud finish, tapi tidak semuanya juga, ada yang USD10.000, ya paling minimal USD5.000 lah," tutupnya.

Sementara itu, Kementerian Perindustrian menargetkan produksi di sektor industri material logam bisa tumbuh 10%-11% pada tahun ini. Angka pertumbuhan ini sejatinya lebih rendah ketimbang tahun lalu yang bisa mencapai 13%. Direktur Industri Material Logam Dasar Budi Irmawan menduga pertumbuhan produksi ini melambat lantaran permintaan di pasar yang mengalami penurunan akibat perlambatan pertumbuhan ekonomi. Selain itu, "Tahun ini pengeluaran pemerintah juga diprediksi menurun," ujar Budi.

Gunawan Lukito, Ketua Bidang Non-Ferro Asosiasi Industri Pengecoran Logam Indonesia (Aplindo) menambahkan, saat ini kapasitas produksi material logam secara nasional mencapai 2.000 metrik ton per tahun. Sebesar 30%-40% dari total produksi tersebut digunakan untuk memenuhi permintaan di dalam negeri. Adapun porsi 60%-70% produksi dijual ke pasar ekspor dengan tujuan Eropa, Australia dan Asia Tenggara. "Kami banyak ekspor ke luar negeri karena klien pembeli kami memang kebanyakkan merek-merek luar negeri," ujar Gunawan.

Sementara itu 60%-70 permintaan di dalam negeri justru harus dipenuhi dengan impor dari China. Saat ini bahan baku produksi logam yakni stainless steel scrab sejatinya 80% berasal dari dalam negeri. Meski berasal dari dalam negeri, produsen logam tetap harus membeli dengan harga dollar Amerika Serikat. Karena itu fluktuasi kurs rupiah bisa mempengaruhi kinerja.

Related posts