Bakrie Sumatera Pilih Opsi Negosiasi - Saham Masih Disuspensi

NERACA

Jakarta –Meskipun bisnis kebun sawit saat ini masih manis, namun tidak semanis dengan kinerja keuangan PT Bakrie Sumatera Plantation Tbk (UNSP). Pasalnya, perusahaan grup Bakrie ini terancam gagal bayar bunga obligasi senilai US$ 100 juta atau setara Rp 1,1 triliun. Alhasil dampak, gagal membayar utang obligasi, saham perseroan disuspensi PT Bursa Efek Indonesia (BEI) sejak akhir pekan lalu hingga saat ini.

Direktur Bakrie Sumatera Plantation, Balakrishnan Chandrasekaran dalam siaran persnya di Jakarta, Senin (22/9) mengatakan, pihaknya akan bernegosiasi dengan para trustee alias pemegang obligasi. Selain itu, perseroan juga sudah menjelaskan kepada BEI bahwa jika bunga tersebut tidak dibayar, maka bisa menimbulkan event of default atas Secured Equity-linked Redeembale Notes senilai US$ 100 juta tersebut.

Hanya saja, kata Balakrishnan, sampai saat ini perseroan belum menerima notice event of default dari trustee. Lanjutnya, perseroan sudah berbicara dengan para pemegang obligasi ini dan akan kembali melakukan negosiasi pada triwulan IV tahun ini,”Saat ini terlalu dini untuk menyampaikan hal-hal yang dapat membatalkan negosasi yang dilakukan, karena sebagian besar lenders telah menyatakan komitmennya untuk mendukung proposal yang akan dilakukan perseroan," ujarnya.

Mengawali perdagangan saham awal pekan ini, saham UNSP masih dihentikan sementara atau disuspensi lantaran terancam gagal bayar bunga obligasi. Pekan lalu saham UNSP dihentikan BEI di harga Rp 50 per lembar. Sahamnya memang sudah berhenti bergerak dalam beberapa bulan terakhir. Juni lalu sempat naik ke Rp 51 per lembar tapi setelah itu turun lagi.

Kinerja perusahaan yang terhambat harga loyonya harga sawit jadi penyebabnya. Namun hingga triwulan pertama tahun ini, kinerja Bakrie Sumatera sudah mulai membaik. Tercatat perusahaan mencatat omzet Rp 659 miliar dibandingkan posisi yang sama tahun sebelumnya hanya Rp 481 miliar. Perusahaan juga mencetak laba Rp 296 miliar dari sebelumnya rugi Rp 62 miliar.

Namun kinerjanya ini tidak berbanding lurus dengan sahamnya yang masih gocap. Padahal lima tahun lalu sahamnya empat berada di titik tertinggi sebesar Rp 1.010 per lembar. Asal tahu saja, konon kabarnya PT Bakrie Sumatera Plantation Tbk saat ini sudah tidak terafiliasi dengan PT Bakrie and Brothers Tbk (BNBR), induk usaha di banyak perusahaan Bakrie. Pasalnya, berdasarkan data perdagangan Bursa Efek Indonesia, BNBR hanya punya 2.463.471 lembar saham saja di UNSP atau setara 0,02%.

Oleh sebab itu, grup Bakrie saat ini tidak mau ambil pusing dengan kasus yang menimpa PT Bakrie Sumatera Plantation Tbk dengan alasan bukan lagi bagian dari unit usaha atau anak usaha BNBR. Pada kuartal pertama tahun ini, perseroan membukukan laba bersih Rp296 miliar. Laba ini melonjak dibanding periode yang pada tahun sebelumnya rugi Rp 63 miliar.

Selain itu, perseroan membukukan penjualan pada pada kuartal I-2014 sebesar Rp659 miliar atau meningkat 37% dibandingkan capaian tahun lalu sebesar Rp481 miliar. (bani)

Related posts