Kenaikan Cukai Berpotensi Kurangi Tenaga Kerja

NERACA

Jakarta – Rencana kenaikan cukai rokok sebesar 10,2% pada 2015 berpotensi mengurangi tenaga kerja industri rokok Sigaret Kretek Tangan (SKT) karena produsen akan beralih memakai mesin dalam proses produksi.

“Industri rokok khususnya SKT adalah industri padat karya yang menyerap ribuan tenaga kerja. Pemerintah ingin agar kenaikan cukai pada tahun depan tidak terlalu besar,” kata Menteri Perindustrian, M.S Hidayat beberapa waktu lalu.

Hidayat menilai, lambat laun produsen rokok akan beralih memakai mesin dalam proses produksi. Namun, pemerintah akan melindungi industri padat karya agar tidak terjadi pengurangan karyawan secara besar-besaran.

“Kenaikan cukai untuk produsen Sigaret Kretek Mesin (SKM) tidak menjadi masalah, tingginya kenaikan cukai tidak terlalu memberatkan. Fokus pemerintah adalah mempertahankan tenaga kerja agar tidak dirumahkan akibat kebijakan kenaikan cukai pada 2015,” paparnya.

Untuk melindungi ribuan tenaga kerja industri rokok khususnya SKT, lanjut Hidayat, pihaknya akan membuat draft kebijakan terkait kenaikan cukai rokok. “Kami ingin merumuskan draft kebijakan mengenai kenaikan cukai bagi SKT dan SKM dengan memberikan insentif khusus. Nantinya, insentif akan lebih besar bagi produsen SKT,” ujarnya.

Sedangkan Sekretaris Jenderal Aliansi Masyarakat Tembakau Indonesia (AMTI), Deradjat Kusumanegara mengatakan, rencana kenaikan tarif cukai 10,2% pada 2015 sangat memberatkan industri rokok di tengah situasi yang menurun.

“Kami mendukung adanya insentif buat SKT, untuk melindungi pekerja pabrik dan petani cengkeh serta tembakau. Saat ini, situasi industri rokok sedang menurun karena terjadi pengurangan tenaga kerja secara terus menerus dari pabrikan kecil yang terpaksa tutup maupun pabrikan besar yang melakukan pengurangan karyawan dalam jumlah besar,” tuturnya.

Deradjat berharap, Pemerintahan baru dibawah kepemimpinan Joko Widodo (Jokowi) dan Jusuf Kalla (JK), tidak menambah beban bagi industri rokok nasional. Perlu pertimbangan dampak dan konsekuensi negatif sebelum menerapkan peraturan atau kebijakan baru dengan menaikkan cukai rokok.

Saat ini,situasi industri rokok sedang menurun karena terjadi pengurangan tenaga kerja secara terus menerus baik yang berskala kecil hingga besar. “Beban industri rokok sudah sangat berat akibat pengenaan beban yang berlapis mulai dari cukai, PPN dan pajak rokok daerah,”pungkasnya.

BERITA TERKAIT

"Job Fair" Tingkat Kecamatan Kurangi Pengangguran Kota Tangerang

"Job Fair" Tingkat Kecamatan Kurangi Pengangguran Kota Tangerang NERACA Tangerang - Kegiatan "job Fair" yang diselenggarakan di tingkat kecamatan hingga…

Penerapan Industry 4.0 Buka Peluang Kerja Baru Lebih Spesifik - Dunia Usaha

NERACA Jakarta – Penerapan sistem Industry 4.0 dinilai dapat menghasilkan peluang pekerjaan baru yang lebih spesifik, terutama yang membutuhkan kompetensi…

Indef: Penciptaan Lapangan Kerja Era Jokowi-JK Paling Buruk

  NERACA Jakarta - Indonesia masih mengalami ketimpangan antara si miskin dan si kaya. Salah satu caranya dalam mengatasi ketimpangan…

BERITA LAINNYA DI INDUSTRI

Sektor Riil - Menperin Nilai Indonesia Siap ke Arah Industri Berbasis Digital

NERACA Jakarta – Pelaku industri nasional perlu memanfaatkan perkembangan bisnis dan teknologi dari era ekonomi digital saat ini, seperti yang…

KKP Bikin Percontohan Teknologi RAS Pada Unit Pembenihan Rakyat

NERACA Yogyakarta – Menteri Kelautan dan Perikanan, Susi Pudjiastuti melakukan tinjauan langsung ke Unit Pembenihan Rakyat (UPR) di desa wisata…

Dunia Usaha - Penerapan Industry 4.0 Buka Peluang Kerja Baru Lebih Spesifik

NERACA Jakarta – Penerapan sistem Industry 4.0 dinilai dapat menghasilkan peluang pekerjaan baru yang lebih spesifik, terutama yang membutuhkan kompetensi…