Investasi Pabrik Unilever Membengkak - Dampak Depresiasi Rupiah

NERACA

Jakarta –Dampak melemahnya nilai tukar rupiah terhadap dollar AS memaksa PT Unilever Indonesia Tbk (UNVR) harus merevisi investasi pembangunan pabrik Oleochemical. Alasannya, nilai pembangunan pabrik terus membengkak.

External Relations Director and Corporate Secretary PT Unilever Indonesia Tbk, Sancoyo Antarikso mengatakan, pembangunan pabrik oleochemical melalui anak usahanya, PT Unilever Oleochemical ditargetkan dapat beroperasi pada kuartal I/2015. Namun, dalam pembangunan pabrik tersebut, dana untuk pembangunan tersebut melebihi kapasitas pada saat pengajuan pertama di Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM),”Kita sudah ajukan investasi yang angkanya ke BKPM sekitar Rp1,45-Rp1,5 triliun. Tapi karena depresiasi rupiah, pembangunan pabrik bisa mencapai angka Rp2,4 triliun," kata dia di Jakarta, Kamis (18/9).

Sancoyo mengungkapkan, hal ini karena dalam pembangunan pabrik tersebut menggunakan mata uang negara asing. Sebelumnya, Direktur Utama UNVR Maurits menambahkan, investasi yang digelontorkan untuk membangun pabrik di Simalungun, Sumatera Utara (Sumut) sekitar Rp1,4 triliun-Rp1,5 triliun dengan menggunakan kas internal perusahaan.

Selain itu, dalam pembangunan ini, perusahaan mendapatkan tax holiday dari pemerintah selama 5 tahun dan dapat diperpanjang selama 2 tahun."Nanti kami bisa klaim tax holiday-nya, kalau kita sudah lakukan penjualan secara komersial," imbuhnya.

Sementara mengenai dana belanja modal atau capital expenditure (capex) pada tahun depan, Sancoyo masih enggan berkomentar,”Tahun depan masih kita diskusikan. Tapi tahun ini sampai dengan Rp1,4 triliun, yang sudah terserap sekitar Rp600 miliar per Juni,”paparnya.

Kemudian sepanjang semester pertama tahun ini, perseroan telah merealisasikan belanja modal sebesar Rp 600 miliar dari alokasi belanja modal tahun ini Rp 1,4 triliun. Selain itu perseroan, juga akan menaikan harga jual produk-produknya sekitar 5%.

Pada semester pertama, UNVR membukukan laba Rp 2,84 triliun. Angka tersebut hanya naik tipis 0,7% dari Rp 2,82 triliun di periode yang sama tahun sebelumnya. Padahal, penjualannya mampu naik 13,93% dari Rp 15,42 trilun ke posisi Rp 17,58 triliun.

Disamping itu, PT Unilever Indonesia Tbk disematkan sebagai salah satu perusahaan paling inovatif di dunia. Perusahaan ini menempati urutan keempat sebagai perusahaan paling inovatif di dunia. Di Asia, anak usaha Unilever ini bahkan menjadi yang paling inovatif. Seperti di lansir dari Forbes, perusahaan yang bergerak di sektor konsumsi ini memiliki nilai inovasi premium sebesar 65,1%, sementara kenaikan penjualan sebesar 12% dan total return lima tahunan mencapai 26,6%. (bani)

BERITA TERKAIT

Antisipasi Depresiasi Rupiah

Posisi nilai tukar (kurs) rupiah terhadap dolar AS belakangan ini mengalami undervalued. Penyebab kinerja nilai tukar rupiah yang melemah tersebut disebabkan oleh…

Rupiah Belum Stabil, Utang Luar Negeri Naik 4,8%

  NERACA Jakarta - Bank Indonesia (BI) menyebutkan utang luar negeri Indonesia mencapai US$358 miliar atau setara Rp5.191 triliun (kurs…

RI-Ceko Incar Peningkatan Investasi dan Ekspor di Sektor Industri

NERACA Jakarta – Indonesia dan Ceko tengah menjajaki peluang kerja sama ekonomi khususnya di sektor industri. Potensi kolaborasi kedua negara…

BERITA LAINNYA DI BURSA SAHAM

Transaksi Saham di NTB Tetap Tumbuh

Kepala Bursa Efek Indonesia (BEI) Perwakilan Mataram, Nusa Tenggara Barat, I Gusti Bagus Ngurah Putra Sandiana menyatakan, transaksi pembelian saham…

Tawarkan Harga Rp 190-230 Persaham - HK Metals Bidik Dana IPO Rp 337,33 Miliar

NERACA Jakarta -PT HK Metals Utama menawarkan harga saham perdana antara Rp 190-230 per saham. Nantinya, dana  hasil IPO akan…

Siapkan Sanksi Tegas - BEI Ingatkan Soal Aturan Free Float Saham

NERACA Jakarta - Meskipun meleset dari target, pihak PT Bursa Efek Indonesia (BEI) kembali mengingatkan emiten untuk memenuhi kewajiban aturan…