Industri Keramik Perlu Ekspansi di Luar Jawa - Arwana Belum Keluhkan Soal Gas

NERACA

Jakarta – Emiten produsen keramik PT Arwana Citramulia Tbk (ARNA) memastikan belum kesulitan mendapatkan pasokan gas sebagai energi utama dalam memproduksi keramik. Justru sebaliknya, sebagian produsen keramik dan kaca mulai mengeluhkan pasokan gas. Hal ini sangat beralasan, karena ketergantungan industri keramik atau sejenisnya terhadap gas sebagai cost produksi utama sangat besar.

Direktur Utama PT Arwana Citramulia Tandean Tbk, Rustandy mengatakan, perseroan hingga saat ini perseroan tidak mengalami kesulitan dalam pasokan gas. Seperti diketahui, banyak pihak mengeluhkan kurangnya pasokan gas,”Kami ini memakai gas juga, tapi kami tidak kekurangan gas. Banyak di luar yang teriak kalau gas itu kurang,”ungkapnya di Jakarta, Kamis (18/9).

Dia menilai, kekurangan gas itu hanya terjadi pada perusahaan yang berada di sekitar wilayah industri Jawa saja. Menurutnya, pasokan gas itu lebih dan bukan kurang, karena gas itu hanya dipakai di Jawa,”Investor cuma mau di comfort zone. Kami kan bangun pabrik di luar jawa. Jadi, kami tidak kekurangan gas,"tandasnya.

Tandean menyarankan bahwa bagi para pelaku industri dan investor yang akan membangun pabrik, maka sebaiknya membangun di luar pulau Jawa sehingga tidak mengeluhkan kekurangan pasokan gas. Hal ini dapat dilihat dari lima pabrik keramik Arwana yang tidak pernah kekurangan pasokan gas."Jika dilihat dari lima pabrik kami, mereka tidak pernah kekurangan pasokan gas. Gas itu banyak. Itu problemnya hanya di industri Jawa, seperti di Jakarta, Jawa Barat,”ungkapnya.

Asal tahu saja, menghadapi persaingan Masyarakat Ekonomi ASEAN (MEA) tahun 2015, Asosiasi Industri Keramik Indonesia (ASAKI) mendesak pemerintah untuk menyediakan jaminan pasokan gas dan perbaikan infrastruktur dalam menekan efisiensi distribusi barang.

Ketua ASAKI, Elisa Sinaga pernah bilang, kebutuhan energi gas menjadi perhatian penting untuk meningkatkan produksi keramik dalam negeri dan meningkatkan pasar ekspor di ASEAN menghadapi MEA,”Meskipun energi gas ada, tentunya ketersedian pasokan gas menjadi lebih penting,”paparnya.

Pasokan gas dalam negeri bagi industri keramik adalah untuk jangka panjang. Hal ini bisa terlihat dari pertumbuhan industri keramik di Jawa Timur yang tumbuh hingga 50% karena adanya kelangsungan pasokan gas. Menurut Elisa, menghadapi persaingan masyarakat ekonomi ASEAN tidak gampang. Pasalnya, disamping ada peluang Indonesia bisa menguasai pasar Asia. Namun tantangannya, saat ini pasar ekspor industri keramik Indonesia masih kecil sekitar 15% dari produksi keramik nasional. Oleh karena itu, untuk meningkatkan pasar ekspor, tentunya dituntut akan kualitas produksi yang baik agar bisa diserap pasar dan memenuhi standar negara tujuan ekspor.

Tahun ini, lanjut Elisa Sinaga, industri keramik tahun ini akan tumbuh 10% atau sekitar Rp 34 triliun. Angka ini tumbuh dibandingkan total penjualan industri keramik tahun lalu sebesar Rp 30 triliun atau sekitar US$ 31 miliar. Selain itu, kemampuan Indonesia untuk menghasilkan produk keramik yang dapat diperhitungkan di regional. Bahkan Indonesia sudah menjadi salah satu dari delapan top dunia di bidang keramik sejak tahun 2013 dan salah satu dari 10 negara teratas dalam hal konsumsi keramik. (bani)

Related posts