Kekayaan Tak Sebanding Lurus Kesejahteraan - Elvyn G Masassya:

Di mata Elvyn G Masassya, seorang sopir taksi bisa jadi lebih sejahtera disbanding orang yang punya mobil Lamborghini. "Jika seseorang masih ingin membeli Lamborghini untuk pencitraan diri, sesungguhnya dia masih miskin karena masih memerlukan mobil mewah itu untuk menaikkan status diri," kata Elvyn yang juga direktur utama Badan Pengelola Jaminan Sosial (BPJS) Ketenagakerjaan.

Hal itu diungkapkan Elvyn saat meluncurkan bukunya yang berjudul ’60 Rahasia Menuju Sejahtera’ di Financial Club, Niaga Tower, di Jakarta, Rabu (17/9). Dengan demikian, kata dia, dapat disimpulkan bahwa kekayan tidak berbanding lurus dengan kesejahteraan. Kesimpulan itu dia peroleh saat berkunjung ke Nepal beberapa waktu lalu.

Saat naik taksi di negeri atap langit itu, Elvyn bertanya pada sopir taksi, berapa penghasilan sebulannya. Dijawab US$100 per bulan atau setara Rp 1,19 juta dengan kurs Rp 11.900/dolar AS. Sang sopir mengaku bersyukur dengan pendapatan itu. Sebanyak US$ 60 dipakai untuk mengontrak rumah bersama istri dan lima anaknya. Sisanya, US$ 40 dipakai untuk makan dan lain-lain. Elvyn terheran-heran, karena sopir taksi itu mengungkapkan masih banyak orang yang penghasilannya jauh di bawah dia.

"Anda bisa hidup dengan 40 dolar kenapa?" tanya Evyn lagi. "Ini karena saya happy dan meyakini kekayaan itu terletak di pikiran," tutur sopir taksi. Pertanyaan senada juga dilontarkan kepada sopir taksi yang ditumpanginya sat berada di Osaka, Jepang.

Ternyata, kata Elvyn, jawaban yang dituturkan bahwa kekayaan tidak selalu bermuara pada penumpukan harta, tapi lebih pada kebahagiaan. "Jadi, dia merasa kaya karena masih ada orang yang lebih kecil pendapatannya. Jadi, kekayaan tidak berbanding lurus dengan kesejahteraan," ujar Elvyn yang juga mantan direktur utama PT Jamsostek.

Soal rahasia agar sejahtera, Elvyn mengungkapkan, sebetulnya, rahasianya ada 61, tapi dibulatkan menjadi 60 saja. Ke-61 rahasia itu dituangkan dalam bentuk esai atau tulisan opini yang dimuat di media massa. Menurut dia, ada 5 level aspek kesejahteraan. Pada level-1, adalah kondisi ketiak seseorang beraktivias dan mempunyai pendapatan dengan manfaat diri sendiri.

Pada level-2, adalah kondisi di saat seseorang memiliki aktivitas memberi manfaat untuk orang lain dengan pendapatan masih untuk diri sendiri. Level-3, adalah saat seseorang memiliki aktivitas yang memberi manfaat untuk diri sendiri sementara pendapatan sudah bermanfaat untuk orang lain. “Level 4, ketika aktivitas dan pendapatan seseorang memberikan manfaat bagi orang lain,” kata Elvyn.

Jadi, kata dia, pada dasarnya seseorang yang masih berorientasi mencari kekayaan, itu orang yang tidak menuju kesejahteraan. Sebab, pada hakikatnya, kekayaan lahir dan batin ada di dalam pikiran, dan kekayaan tidak berbanding lurus dengan kesejahteraan. “Hakikat sejahtera itu ketika seseorang ada di level-5, yaitu ketika orang memiliki aktivitas sepenuhnya untuk orang lain, dan pendapatan sepenuhnya didedikasikan untuk orang lain bukan untuk diri sendiri,” papar Elvyn.

Berdasarkan itu, Elvyn menuangkannya dalam buku yang berjudul 60 Rahasia Menuju Sejahtera. "Ini mungkin agak subjektif dan personal dan lebih dari perjalanan karir saya," tandasnya seraya mengajak masyarakat untuk berpola pikir agar sejahtera itu dengan merasa cukup. Pada dasarnya seseorang yang masih berorientasi mencari kekayaan adalah orang yang tidak menuju kesejahteraan,” kata dia.

“Untuk itu, saya mengajak masyarakat untuk berpola pikir agar sejahtera itu dengan merasa cukup. Kalau dia masih ingin beli Lamborghini untuk pencitraan diri, dia masih miskin karena masih memerlukan mobil untuk menaikkan status dirinya,” kata penerima penghargaan Most Inspirational CEO 2014 ini. (saksono)

BERITA TERKAIT

JICT Tak Toleransi Tindakan Melanggar Hukum Karyawan

JICT Tak Toleransi Tindakan Melanggar Hukum Karyawan NERACA Jakarta - PT Jakarta International Container Terminal (JICT) tidak akan pernah memberi…

Pembangunan Infrastruktur Tak Dijadikan “Dagangan Politik”

NERACA Jakarta-Mantan Sekretaris Kementerian BUMN Said Didu mengungkapkan, pembangunan infrastruktur seperti jalan tol hendaknya tidak dijadikan sebagai 'dagangan politik'. Sebab,…

Menkominfo - Pers di Indonesia Tak Akan Mati

Rudiantara Menkominfo Pers di Indonesia Tak Akan Mati Surabaya - Menteri Komunikasi dan Informatika (Menkominfo) Rudiantara optimistis pers di Indonesia…

BERITA LAINNYA DI BISNIS INDONESIA

Media dan Tantangan Teknologi Milenial

Indonesia merupakan negara di dunia yang memiliki banyak media dengan perkiraan berjumlah 47 ribu media yang terbagi dari berbagai model,…

Pers dan Usaha Mendorong Ekonomi Digital

Pers memiliki peran vital mendorong pertumbuhan ekonomi kerakyatan berbasis digital di Indonesia. Melalui pemberitaan, pers dapat mempromosikan sekaligus mengedukasi pelaku…

Pers di Era Digital: Idealisme Versus Industri

Pers di Indonesia lahir dari idealisme para pendiri bangsa guna menyuarakan semangat memperjuangkan kemerdekaan kepada masyarakat luas, sejak zaman penjajahan…