Laju Pasar Obligasi Pekan Ini Bakal Tertunda

NERACA

Jakarta - Pasar obligasi sepanjang pekan ini diprediksi masih tertekan lantaran sentimen yang ada di pasar cenderung negatif, sehingga menyebabkan peluang melanjutkan kenaikan (reli) akan tertunda,”Kembali munculnya sentimen negatif membuat peluang laju pasar obligasi untuk melanjutkan kenaikan akan tertunda," kata Sekretaris Umum Forum Komunikasi Certified Securities Analyst (FK-CSA) Reza Priyambada di Jakarta, Senin (15/9).

Apalagi jika di pekan ini, dia menambahkan, laju nilai tukar rupiah kembali melanjutkan pelemahan membuat pasar obligasi kian terimbas sentimen negatifnya. Laju pasar obligasi di pekan ini diperkirakan masih cenderung tertekan,”Namun, kami harapkan dapat sedikit terbatas dengan telah dalamnya penurunan yang terjadi di pekan kemarin," ujar Reza.

Dia mengestimasi, jika kondisi di pasar dapat positif maka diperkirakan laju pasar obligasi dapat bergerak menguat dengan minimal perubahan harga obligasi rerata sebanyak 60-95 basis points (bps). Tetapi, jika sebaliknya maka harga obligasi pun akan kembali melanjutkan koreksi karena respon negatif pelaku pasar tersebut hingga minimal rerata 150-180 bps. Untuk itu, dia menyarankan kepada investor untuk tetap cermati perubahan sentimen yang ada.

Pasca mengalami kenaikan di pekan sebelumnya, laju pasar obligasi pada pekan kemarin cenderung mengalami pelemahan. Imbas sentimen kekhawatiran pelaku pasar terhadap kebijakan The Fed yang akan menaikkan suku bunga acuannya membuat laju pasar obligasi global cenderung melemah dan berimbas pada pasar obligasi dalam negeri.

Belum lagi nilai tukar rupiah yang masih cenderung tertekan turut membuat pasar obligasi sedang tidak mood. Bahkan, dia menuturkan, rilis tetapnya BI Rate tidak cukup mampu menahan pelemahan yang ada. Obligasi pemerintah seri benchmark FR0068 yang memiliki jatuh tempo sekitar 20 tahun mengalami penurunan harga 225,73 bps. Obligasi seri FR0070 yang memiliki jatuh tempo sekitar 10 tahun juga terkoreksi 155,30 bps.

Sementara pada pekan ini, pemerintah akan kembali melakukan lelang Surat Utang Negara (SUN) pada hari Selasa (16/9/2014), dengan jumlah indikatif yang dilelang sebesar Rp10 triliun dengan seri SPN12150710 (reopening) dengan pembayaran bunga secara diskonto dan jatuh tempo pada 10 Juli 2015 dan seri SPN12150903 (reopening) dengan pembayaran bunga secara diskonto dan jatuh tempo pada 3 September 2015.

Selain itu, seri FR0069 (reopening) dengan tingkat bunga tetap (fixed rate) sebesar 7,875% dan jatuh tempo pada 15 April 2019; seri FR0070 (reopening) dengan tingkat bunga tetap (fixed rate) sebesar 8,375% dan jatuh tempo pada 15 Maret 2024; dan seri FR0068 (reopening) dengan tingkat bunga tetap sebesar 8,375% dan jatuh tempo pada 15 Maret 2034. (sin/bani)

BERITA TERKAIT

Sentimen Negatif The Fed Tekan Laju IHSG

NERACA Jakarta - Indeks harga saham gabungan (IHSG) Bursa Efek Indonesia (BEI), Kamis ditutup melemah 50,33 poin dipicu sentimen terbukanya…

Dafam Properti Bakal Tambah Lima Hotel Baru - Lepas Saham Ke Publik 25%

NERACA Jakarta – Meskipun ada kekhawatiran pasar properti tahun ini masih melandai, namun hal tersebut tidak mengurungkan PT Dafam Property…

Fajar Surya Raup Penjualan Rp 7,33 Triliun - Ditopang Pasar Ekspor

NERACA Jakarta – Sepanjang tahun 2017 kemarin, emiten produsen kertas PT Fajar Surya Wisesa Tbk (FASW) membukukan kenaikan penjualan sebesar…

BERITA LAINNYA DI BURSA SAHAM

TBIG Berikan Layanan Kesehatan di Jateng

Sebagai bentuk tanggung jawab sosial perusahaan atau corporate social responsibility (CSR), PT Tower Bersama InfrastructureTbk (TBIG) memberikan bantuan pangan dan…

BEI Perpanjang Suspensi GREN dan TRUB

Lantaran belum melakukan pembayaran denda, PT Bursa Efek Indonesia (BEI) memperpanjang penghentian sementara perdagangan efek PT Evergreen Invesco Tbk (GREN)…

Bukalapak dan JNE Hadirkan Layanan JTR

Sebagai bentuk komitmen Bukalapak untuk terus berusaha memberikan layanan terbaik dan mengoptimalkan jasa layanan pengiriman barang besar yang dapat mempermudah dan…