Aksi Beli Berlanjut, IHSG Masih Menguat

NERACA

Jakarta – Mengakhiri perdagangan saham di Bursa Efek Indonesia (BEI) Senin awal pekan, indeks harga saham gabungan (IHSG) ditutup menguat tipis 1,187 poin (0,02%) ke level 5.144,898. Sementara Indeks LQ45 ditutup menguat tipis 0,210 poin (0,02%) ke level 870,329. Minimnya aksi beli investor, memaksa indeks BEI bergerak stagnan.

Analis Asjaya Indosurya Securities, William Surya Wijaya mengatakan, aksi beli terjadi menjelang penutupan perdagangan saham di sesi sore sehingga menopang indeks BEI meski belum signfikan,”Sebagian pelaku pasar saham memanfaatkan saham-saham yang tertekan untuk diakumulasi secara selektif," katanya di Jakarta, Senin (15/9).

Menurut dia, aksi beli selektif itu dikarenakan pelaku pasar saham sedang menanti keputusan kebijakan bank sentral AS (the Fed) pada pertemuan komite pasar terbuka federal (FOMC),”Fase konsolidasi di dalam pergerakan IHSG masih akan berlanjut, dikarenakan minimnya sentimen baik negatif maupun positif sehingga pasar 'wait and see', pasar bergerak moderat namun masih bertahan di dalam pola tren penguatan jangka panjang," paparnya.

Dirinya memperkirakan, indeks BEI Selasa akan bergerak di kisaran 5.117-5.186 poin. Beberapa saham yang dapat diperhatikan diantaranya Astra Agro Lestari Tbk (AALI), Perusahaan Gas Negara Tbk (PGAS), AKR Corporindo Tbk (AKRA), Indocement Tunggal Prakasa Tbk (INTP), Semen Baturaja Tbk (SMBR), dan Aneka Tambang Tbk (ANTM).

Pada perdagangan kemarin, aksi beli investor lokal akhirnya berhasil bawa indeks ke zona hijau. Investor masih terus melepas saham, transaksi investor asing tercatat melakukan penjualan bersih (foreign net sell) senilai lebih dari Rp 600 miliar di pasar reguler.

Perdagangan berjalan cukup sepi dengan frekuensi transaksi sebanyak 181.064 kali dengan volume 6,21 miliar lembar saham senilai Rp 4,65 triliun. Sebanyak 135 saham naik, 170 turun, dan 89 saham stagnan. Sanksi baru yang diberikan negara barat kepada Rusia membuat investor regional khawatir akan perlambatan ekonomi dunia. Bursa-bursa di Asia menutup perdagangan dengan variatif cenderung melemah.

Saham-saham yang naik signifikan dan masuk dalam jajaran top gainers di antaranya adalah Gudang Garam (GGRM) naik Rp 1.000 ke Rp 56.000, Indocement (INTP) naik Rp 850 ke Rp 24.000, Siloam (SILO) naik Rp 500 ke Rp 15.550, dan Semen Indonesia (SMGR) naik Rp 400 ke Rp 16.175. Sementara saham-saham yang turun cukup dalam dan masuk dalam kategori top losers antara lain Delta Jakarta (DLTA) turun Rp 28.475 ke Rp 388.025, Matahari (LPPF) turun Rp 700 ke Rp 16.200, Indo Tambangraya (ITMG) turun Rp 675 ke Rp 26.050, dan Mayora (MYOR) turun Rp 575 ke Rp 29.000.

Perdagangan sesi pertama, indeks BEI ditutup terkoreksi 12,540 poin (0,24%) ke level 5.131,171. Sementara Indeks LQ45 terkoreksi 2,839 poin (0,33%) ke level 867,280. Pelaku pasar domestik masih banyak berburu saham. Namun, pelaku pasar asing terus melepas saham-saham unggulan membuat Indeks tak berdaya di teritori negatif.

Perdagangan berjalan cukup sepi dengan frekuensi transaksi sebanyak 105.440 kali dengan volume 2,216 miliar lembar saham senilai Rp 2,255 triliun. Sebanyak 101 saham naik, 186 turun, dan 77 saham stagnan. Bursa-bursa regional kompak melemah hingga sesi pertama. Sanksi baru yang diberikan negara barat kepada Rusia membuat investor khawatir akan perlambatan ekonomi dunia.

Saham-saham yang naik signifikan dan masuk dalam jajaran top gainers di antaranya adalah Gudang Garam (GGRM) naik Rp 750 ke Rp 55.750, Indocement (INTP) naik Rp 375 ke Rp 23.525, Acset (ACST) naik Rp 290 ke Rp 3.540, dan Siloam (SILO) naik Rp 275 ke Rp 15.325. Sementara saham-saham yang turun cukup dalam dan masuk dalam kategori top losers antara lain Delta Jakarta (DLTA) turun Rp 8.500 ke Rp 408.000, Matahari (LPPF) turun Rp 675 ke Rp 16.225, United Tractor (UNTR) turun Rp 400 ke Rp 20.450, dan Indo Tambangraya (ITMG) turun Rp 350 ke Rp 26.350.

Diawal perdagangan, indeks BEI dibuka turun 25,44 poin atau 0,49% menjadi 5.118,22, dan indeks 45 saham unggulan (LQ45) melemah 6,37 poin (0,73%) ke level 863,74,”Pertemuan Federal Reserve pada 17-18 September nanti terkait kebijakan pemotongan lebih lanjut program pembelian obligasi bulanan serta isu kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM) subsidi menjadi beban laju IHSG BEI pada awal pekan ini," kata Head of Research Valbury Asia Securities Alfiansyah.

Dia mengemukakan bahwa hal yang terpenting bagi pasar dalam hasil pertemuan tersebut adalah pernyataan dari Gubernur The Fed Janet Yallen. Selain itu, pasar juga mencermati langkah the Fed terkait suku bunga AS (Fed rate) yang diekspektasikan naik di kuartal II atau III tahun 2015 mendatang.

Dari dalam negeri, lanjut dia, wacana soal kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM) bersubsidi masih terus bergulir, bahkan terus bermunculan spekulasi soal waktu kenaikannya yang kian menguat di penghujung tahun ini. Disebutkan, beberapa opsi beredar terkait penyesuaian harga BBM, yakni naik secara bertahap atau naik langsung dalam jumlah yang signifikan, sehingga konsekuensinya tekanan inflasi tidak bisa dibendung.

Menurut dia, keputusan the Fed dan isu waktu kenaikan BBM subsidi mewarnai sentimen bagi IHSG diperkirakan bervariasi, peluang melemah dalam pekan ini. Tercatat bursa regional, di antaranya indeks Bursa Hang Seng dibuka melemah 253,49 poin (1,03%) ke level 24.341,83, indeks Nikkei naik 39,09 poin (0,25%) ke level 15.948,29 dan Straits Times melemah 8,14 poin (0,27%) ke posisi 3.336,59. (bani)

BERITA TERKAIT

Profit Taking Hambat Penguatan IHSG

NERACA Jakarta - Indeks harga saham gabungan (IHSG) Bursa Efek Indonesia (BEI) pada Rabu ditutup turun sebesar 18,12 poin seiring…

Pergerakan IHSG Terkoreksi Tipis 2,37 Poin - Menanti Hasil RDG

NERACA Jakarta - Indeks harga saham gabungan (IHSG) Bursa Efek Indonesia (BEI) pada Selasa (17/10) ditutup turun tipis 2,37 poin…

Analis Bilang Koleksi Saham Sektor Konsumer - Daya Beli Masih Positif di Tahun Depan

NERACA Jakarta - Pelemahanan daya beli masyarakat hingga paruh pertama tahun ini yang di luar perkiraan banyak pihak, perlahan menunjukkan…

BERITA LAINNYA DI BURSA SAHAM

Terbitkan Obligasi Rp 2 Triliun - KAI Tawarkan Kupon Bunga Hingga 8%

NERACA Jakarta – Danai pengembangan ekspansi bisnisnya dan termasuk peremajaan armada, PT Kereta Api Indonesia (Persero) berencana menerbitkan obligasi I…

Laba Bersih Hartadinata Tumbuh 28,4%

NERACA Jakarta – Sepanjang kuartal tiga 2017, PT Hartadinata Abadi Tbk mencatatkan laba bersih sebesar Rp 95 miliar atau naik…

KPEI Sosialisasikan Kualitas Agunan

Demi meningkatkan kehatian-hatian transaksi, PT Kliring Penjaminan Efek Indonesia (KPEI) menyelenggarakan sosialisasi kepada para anggota kliring mengenai peningkatan kualitas agunan.…