Pefindo Pangkas Peringkat Obligasi BII

NERACA

Jakarta - PT Pemeringkat Efek Indonesia (Pefindo) menurunkan peringkat Obligasi Subordinasi Berkelanjutan II Tahap I/2014 PT Bank International Indonesia Tbk (BNII) menjadi idAA dari sebelumnya idAA+. Informasi tersebut disampaikan Pefindo dalam siaran persnya di Jakarta, kemarin.

Kata analis Pefindo Gary Hannify, perubahan peringkat tersebut karena penerapan metodologi Pefindo yang baru mengenai obligasi subordinasi, yang diterbitkan bank berdasarkan Peraturan 15/12/PBI/2013 sesuai dengan Basel III. Dimana, Pefindo menetapkan penurunan peringkat minimum dua tingkat dari peringkat bank tersebut.

Selain itu, Pefindo menegaskan peringkat idAAA untuk BNII dan Obligasi Berkelanjutan I/2011. Pada saat yang sama, Pefindo juga memberikan peringkat idAAA(sy) untuk Sukuk Berkelanjutan I/2014 dan idAA+ untuk Obligasi Subordinasi Berkelanjutan I/2011 dan Obligasi Subordinasi I/2011.

Per akhir semester I tahun ini, BNII menyediakan layanan perbankan melalui 659 kantor cabang. Adapun saham perseroan dimiliki Sorak Financial Holdings Pte Ltd sebanyak 45,02%, Maybank Offshore Corporate Service (Labuan) Sdn Bhd sekitar 33,96%, UBS AS cabang London senilai 18,31% dan sisanya 2,71% dimiliki publik.

Sementara BNII memiliki 62% saham di perusahaan pembiayaan sepeda motor, PT Wahana Ottomitra Multiartha Tbk (WOMF) dan perusahaan pembiayaan mobil, PT BII Finance Center mencapai 99,99%. Sepanjang semester pertama tahun ini, laba Bank International Indonesia (BII) mencatatkan penurunan laba bersih 50% menjadi Rp 344,97 miliar dari priode yang sama tahun lalu mencapai Rp 690,07 miliar.

Presiden Direktur BII, Taswin Zakaria pernah bilang, penurunan laba bersih disebabkan marjin bunga bersih (NIM) yang tergerus oleh biaya dana yang naik signifikan hingga 50%. "Nah, kenaikan biaya dana itu tidak serta merta bisa dikompensasikan dengan kenaikan suku bunga kredit,”ujarnya.

Selain itu, pada semester pertama tahun ini, pendapatan bunga bersih BII mencapai Rp 2,95 triliun. Angka itu naik 4,98% dari posisi akhir Juni tahun lalu yang mencapai Rp 2,81 triliun. Sayang, pertumbuhan pendapatan bunga yang tipis itu tak bisa berbuat banyak mengingat beban operasional bersih BII justru meningkat jadi Rp 2,44 triliun dari periode yang sama tahun lalu sebesar Rp 1,85 triliun.

Hingga Juni, BII menyalurkan kredit Rp 97,6 triliun atau tumbuh 3,28% secara year to date dari akhir tahun lalu yang mencapai Rp 94,5 triliun. Sementara secara year on year dibandingkan Juni tahun lalu, kredit BII tumbuh 24,65% dari posisi Rp 78,3 triliun. BII menghimpun dana pihak ketiga (DPK) sebesar Rp 105,9 triliun atau turun 1,21% dari akhir tahun lalu Rp 107,2 triliun. Namun secara year on year DPK BII naik 16,24% dari posisi Rp 91,1 triliun di akhir Juni 2013. (bani)

BERITA TERKAIT

Mitsubishi Raih Peringkat Tertinggi Indeks Kepuasan Penjualan

Distributor kendaraan penumpang Mitsubishi di Indonesia, PT Mitsubishi Motors Krama Yudha Sales Indonesia (MMKSI), meraih penghargaan peringkat tertinggi untuk Sales…

Manulife Sebut Pasar Obligasi Masih Positif

  NERACA   Jakarta - PT Manulife Aset Manajemen Indonesia (MAMI) memandang beberapa faktor positif dari domestik masih akan terus…

Saat Obligasi Pemerintah Mengancam Industri Perbankan

  Oleh: Djony Edward Langgam pengaturan bunga di industri keuangan belakangan sedikit tercoreng, terutama dengan gencarnya penerbitan Surat Utang Negara…

BERITA LAINNYA DI BURSA SAHAM

Pelindo III Cari Modal di Pasar US$ 1 Miliar

Guna mendanai ekspansi bisnisnya lebih agresif lagi, PT Pelabuhan Indonesia (Pelindo) III berencana menggalang dana dari pasar modal pada 2018…

Lagi, LPPF Buka Gerai Baru di Surabaya

Perluas penetrasi pasar, PT Matahari Department Store Tbk (LPPF) membuka gerai baru berkonsep specialty store kedua di Pakuwon Mall Surabaya.…

Jasa Armada Pangkas Jumlah IPO Jadi 20%

Pilih cara aman atau konservatif agar saham IPO terserap di pasar, PT Jasa Armada Indonesia menurunkan jumlah saham yang di…