Ditantang Selesaikan Middle Income Trap - Tugas Pemerintahan Baru

NERACA

Jakarta - Wakil Menteri PPN/Kepala Bappenas Lukita Dinarsyah Tuwo mengatakan pemerintahan baru Joko Widodo-Jusuf Kalla dinilai mengemban tugas berat dalam memimpin pemerintah hingga lima tahun mendatang. Pasalnya, periode itu merupakan momen penentuan apakah Indonesia bisa berkelit dari jebakan negara kelas menengah atau middle income trap.

Menurut dia, Meksiko dan Brazil menjadi contoh negara yang tidak bisa keluar dari middle income trap. Sejak 1980 hingga saat ini, pendapatan per kapita dua negara tersebut hanya sekitar US$6 ribu. Sementara, pendapatan per kapita Indonesia kini US$3.500.

"Indonesia mempunyai kesempatan lebih tinggi karena penduduk produktif lebih banyak daripada yang tak produktif. Indonesia ingin menjadi negara yang lolos memanfaatkan bonus demografi, seperti negara maju Korea Selatan, Jepang, Hong kong.Untuk itu, Indonesia harus tumbuh 6%-7%," katanya di Jakarta, Selasa Selasa (9/9).

Bappenas, menurut Lukita, telah membuat rancangan teknokratik untuk pembangunan ekonomi Indonesia dalam lima tahun ke depan. Rancangan itu dibuat untuk mengarahkan pembangunan ekonomi Indonesia lebih berkeadilan.

"Bagaimana kaitan isu pembangunan berkeadilan upaya percepatan reformasi birokrasi, agenda reformasi birokrasi dipercepat. Tantangan pembangunan di masa 5 tahun adalah pembangunan berkeadilan," katanya.

Dia mengungkapkan, tren kesenjangan sosial meningkat dalam 30 tahun terakhir. Tingkat kesenjangan sosial antardaerah di Tanah Air mencapai 0,41 persen, tertinggi di Asia Timur.

"Kemiskinan masih cukup besar di wilayah Indonesia, tertinggi di Papua Barat. Meskipun di nasional pertumbuhan ekonomi cukup tinggi 5 persen-6 persen," ucapnya.

Bank Dunia mengingatkan, sudah banyak negara masuk dalam perangkap middle income trap. Mereka pada awalnya memiliki pertumbuhan sangat cepat, tapi kemudian mengalami stagnasi selama lebih dari satu dekade. “Indonesia akan aman dari jebakan ini jika pertumbuhan ekonominya 9% per tahun,” menurut laporan lembaga keuangan internasional itu.

Menurut country director Bank Dunia di Indonesia, Rodrigo Chaves, dunia saat ini menunggu Indonesia untuk mengambil tempat yang selayaknya sebagai pemimpin global. Tapi untuk mencapai itu, Indonesia harus meningkatkan daya saing dengan menutup kesenjangan infrastruktur dan ketimpangan keterampilan serta meningkatkan fungsi pasar.

Sebagai contoh, negara Brazil yang pernah tumbuh cepat pada dekade 1960 an dan 1970 an, tapi kemudian menglamai dua dekade pertumbuhan yang sangat lambat setelah tahun 1981, ketika mencapai pendapatan per kapita US$3.939, sama seperti Indonesia saat ini.

Selain masalah defisit transaksi berjalan dan neraca perdagangan, stagnasi pertumbuhan di Indonesia juga dipengaruhi oleh kondisi suku bunga acuan (BI Rate) yang tetap bertahan tinggi 7,5% dalam 9 bulan terakhir ini, sehingga terjadi perlambatan pertumbuhan kredit perbankan yang pada akhirnya membuat kinerja sektor riil juga terhambat di negeri ini.

Padahal, Bank Dunia yakin Indonesia bisa melewati middle income trap jika konsisten melaksanakan reformasi hingga ke tingkat daerah. “Risiko dari middle income trap adalah nyata, dan para teknokrat Indonesia sudah selayaknya mulai khawatir tentang hal ini,” ujarnya. [agus]

BERITA TERKAIT

Mitra Keluarga Baru Serap Dana IPO 37%

PT Mitra Keluarga Karyasehat Tbk (MIKA) belum menyerap sepenuhnya dana hasil initial public offering (IPO). Sisa dana tersebut juga masih…

BI : Kredit Baru Masih Melambat

NERACA Jakarta - Bank Indonesia melalui survei perbankan melihat pertumbuhan kredit baru perbankan pada triwulan III 2017 masih melambat, terutama…

Selamat Datang Pemimpin Baru Jakarta

Oleh: Susylo Asmalyah Gedung Balaikota Jakarta mulai berbenah karena terlihat panitia dan segala perangkat telah bersiap menyambut kedatangan Gubernur dan…

BERITA LAINNYA DI INFO BANK

Permintaan Kredit di 13 Sektor Meningkat

  NERACA   Jakarta - Bank Indonesia melalui surveinya mencatat permintaan kredit pada 13 sektor ekonomi meningkat sepanjang triwulan III…

Bangun Infrastruktur SID Butuh Rp650 miliar

      NERACA   Jakarta - Bank Indonesia (BI) menyatakan biaya untuk investasi pembangunan infrastruktur Sistem Informasi Debitur atau…

BNI Dukung Peremajaan Kelapa Sawit

      NERACA   Jakarta - PT Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk (BNI) mendukung program pemerintah dalam percepatan peremajaan…