Produksi Motor Nasional Masih Fokus Garap Pasar Lokal - Otomotif

NERACA

Jakarta – Direktur Jenderal Industri Unggulan Berbasis Teknologi Tinggi Kementerian Perindustrian (Kemenperin) Budi Darmadi menyatakan, produksi sepeda motor nasional masih diutamakan untuk menutupi kebutuhan dalam negeri. “Ekspor sepeda motor sulit berkembang karena hampir setiap negara khususnya kawasan Asia Tenggara sudah memiliki pabrik sepeda motor. Oleh karena itu, angka ekspor sepeda motor nasional belum signifikan jika dibandingkan dengan tingkat produksinya,” kata Budi di Jakarta, Selasa (9/9).

Saat ini, menurut Budi, pemerintah lebih memfokuskan pasar sepeda motor dalam negeri agar Indonesia tidak dijadikan sasaran impor negara-negara lain. Sehingga pemerintah belum bisa mengatakan target ekspor sepeda motor jangka panjang. “Kalau sepeda motor banyak untuk konsumsi dalam negeri. Motor itu difokuskan untuk pasar domestik karena setiap negara hampir punya pabrik sepeda motor,” paparnya.

Sementara itu, Asosiasi Industri Sepeda Motor Indonesia (AISI) menyatakan, pemerintah belum meminta untuk menetapkan dan meningkatkan target ekspor sepeda motor nasional. “Anggota kami sudah mempersiapkan untuk menggenjot ekspor pada 2015. Tahun depan mungkin bisa lebih dari 20% peningkatannya dari tahun ini,” kata Ketua I AISI, Yohannes Loman.

Untuk pasar terdekat, menurut Yohannes, akan menyasar negara-negara di kawasan Asia Tenggara sebagai tujuan ekspor. “Memang di negara Asean, produsen sepeda motor sudah memiliki pabrik masing-masing. Kami berharap industri sepeda motor Indonesia bisa lebih kompetitif sehingga mereka lebih memilih produk dari Indonesia,” paparnya.

Sampai dengan Agustus 2014, porsi ekspor motor hanya tercatat sebesar 0,43% dibandingkan dengan total penjualan. Menurut Johannes Loman, ada beberapa alasan kenapa angka ekspor Indonesia masih kecil. Namun menurutnya, yang paling berpengaruh adalah adanya kapasitas pabrik di masing-masing negara tujuan ekspor. “Negara-negara (tujuan) umumnya sudah memiliki kapasitas (produksi) sendiri untuk kendaraan roda dua,” kata Loman.

Meski begitu, lanjut Loman, jika Indonesia bisa menyediakan motor dengan harga yang kompetitif, maka menggapai pasar ekspor yang lebih besar tidak akan sulit. Harga kompetitif itu menurutnya bisa didapat, jika logistik dalam negeri lebih baik, terutama dalam hal biaya. “Selain itu, juga (harus ada) peraturan yang memudahkan dalam hal ekspor,” ungkap Loman.

Selain harga, model juga menurutnya ikut mempengaruhi kenaikan pasar ekspor. Dengan kata lain, masing-masing ATPM (Agen Tunggal Pemegang Merek) diharapkan bisa memberikan model yang berbeda. “Tapi saya rasa, masing-masing ATPM sedang menyiapkan modelnya,” katanya pula.

Berdasarkan data Asosiasi Industri Sepeda Motor Indonesia (AISI), wholesales sepeda motor pada tahun lalu mencapai 7.771.014 unit. Dari jumlah tersebut, angka ekspor sepeda motor nasional hanya 27.135 unit atau setara 0,35%. Pada periode Januari hingga Agustus 2014, jumlah penjualan sepeda motor untuk wholesales mencapai 5.368.858 unit. Dari jumlah tersebut ekspor sepeda motor nasional baru menembus jumlah 22.964 unit atau setara 0,43%.

Sebelumnya, Ketua Umum Asosiasi Industri Sepeda Motor Indonesia (AISI) Gunadi Sindhuwinata mengatakan bahwa ekspor sepeda motor yang diproduksi di Indonesia ditargetkan mencapai dua persen atau 156 ribu unit dari perkiraan total produksi sebesar 7,8 juta unit pada 2014. Gunadi mengatakan proyeksi pertumbuhan ekspor pada 2014 masih berkisar pada kenaikan satu persen dibanding 2013. “Satu persen dari produk nasional 7,7 juta (untuk ekspor 2013). Jadi proyeksinya nambah satu persen lagi pada 2014," kata Gunadi.

Meskipun pangsanya terbilang kecil dan ekspornya lebih bersifat komplementer, ujar Gunadi, Indonesia masih dapat memaksimalkan peluang ekspor di pasar kendaraan roda dua milik negara-negara di wilayah Amerika Selatan, Afrika, dan juga Eropa.

Beberapa investasi produsen motor untuk membangun pabrik di Indonesia, juga dapat memperkuat posisi Indonesia untuk menjadi basis produksi bagi kawasan dan global, bukan hanya dalam negeri. “Sekarang, kita dihadapkan apakah sepeda motor dapat berkembang ? Memang ceruk pasarnya terbatas, tetapi masih ada apakah di Amerika Selatan, Afrika, Eropa Timur, Asia Barat, celahnya masih ada,” kata dia.

Dia mengatakan, semakin banyak realisasi investasi di industri sepeda motor akan semakin menguatkan potensi ekspor Indonesia, yang menjadi produsen ketiga sepeda motor terbesar di dunia. Untuk melancarkan target ekspor itu, Gunadi meminta hambatan infrastruktur dan konektivitas, terutama menuju pelabuhan segera diselesaikan oleh pemerintah dan pemangku kepentingan terkait. "Dorong supaya faktor efisiensi bisa ditingkatkan. Mau ekspor katakan dari pabrik ke pelabuhan yg mestinya tiga jam tapi harus setengah hari atau satu hari, itu kalau bisa dilakukan secara nasional dan diperbaiki," ujar dia.

Menurut Kementerian Perdagangan, nilai ekspor sepeda motor Indonesia mencapai 126,44 juta dolar AS pada 2013, ditambah ekspor komponen sepeda motor sebesar 437,98 juta dolar AS. Tren ekspor sepeda motor dan komponennya, menurut Kemendag, mengalami tren pertumbuhan positif, masing-masing 39,42 persen dan 36,65 persen dari 2009 hingga 2013.

Produsen motor yang baru saja meresmikan pabrik barunya di Indonesia adalah Kawasaki Heavy Industries Ltd. Dari empat model sepeda motor yang akan diproduksi di pabrik terbaru Kawasaki, model sports Ninja RR Mono dan LX150L diekspor ke berbagai negara Asia Tenggara dan Jepang. Sedangkan, dua model lainnya, KLX 150S, dan D-Tracker150 masih untuk pasar domestik. Kawasaki menargetkan dapat mengekspor 1000 unit sepeda motor setiap bulan atau 12 ribu setahun untuk dua produk Ninja RR Mono dan KLX150L.

BERITA TERKAIT

PTBA Bidik Pendapatan Tumbuh 20% di 2018 - Garap Proyek PLTU Mulut Tambang

NERACA Jakarta – Optimisme membaiknya harga tambang batu bara di tahun depan, menjadi sentimen positif bagi emiten tambang untuk memacu…

APCI: Permendag 84/2017 Berpotensi Membunuh Industri Kretek Nasional

APCI: Permendag 84/2017 Berpotensi Membunuh Industri Kretek Nasional NERACA Jakarta - Asosiasi Petani Cengkih Indonesia (APCI), yang menaungi sekitar 1,5…

Investasi Sulsel Masih Terpusat di Makassar

NERACA Makassar - Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Regional 6 Sulawesi, Maluku dan Papua (Sulampua) mengungkapkan, investasi saham untuk wilayah Sulawesi…

BERITA LAINNYA DI INDUSTRI

Industri Kecil dan Menengah - Pemerintah Pacu Daya Saing IKM Lewat Platform Digital E-Smart

NERACA Jakarta – Kementerian Perindustrian semakin gencar memacu pengembangan industri kecil dan menengah (IKM) nasional agar memanfaatkan platform digital e-Smart…

Akuakultur - KKP Realisasikan Asuransi Untuk Pembudidaya Ikan Kecil

NERACA Jakarta- Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) merealisasikan program Asuransi Perikanan bagi pembudidaya ikan kecil. Program tersebut merupakan kerjasama antara…

Proyeksi Kebutuhan Gula Industri 3,6 Juta Ton di 2018

NERACA Jakarta - Direktur Jenderal Agro Kementerian Perindustrian, Panggah Susanto memperkirakan konsumsi gula mentah untuk kebutuhan industri mencapai 3,6 juta…