Pasar Obligasi Masih Berpeluang Menguat

NERACA

Jakarta - Pasar obligasi pada pekan ini diproyeksi akan menguat dengan minimal perubahan harga obligasi rerata sebanyak 85-120 basis points (bps), jika didukung sentimen positif. Sekretaris Umum Forum Komunikasi Certified Securities Analyst (FK-CSA) Reza Priyambada mengatakan, laju pasar obligasi di pekan ini diharapkan dapat melanjutkan kenaikannya.

Namun dia mengimbau untuk mencermati berbagai sentimen yang ada, terutama berbagai sentimen global terkait dengan rilis data-data ekonominya. Untuk itu, saran dia, tetap memperhatikan rilis data dan berjaga jika terjadi pembalikan arah,”Kami estimasikan jika kondisinya dapat positif maka diperkirakan laju pasar obligasi dapat bergerak menguat dengan minimal perubahan harga obligasi rerata sebanyak 85-120 bps," kata dia di Jakarta, kemarin.

Tetapi, jika sebaliknya maka harga obligasi akan terkoreksi karena respon negatif pelaku pasar tersebut hingga minimal rerata 75-100 bps. Untuk itu, dirinya meminta pelaku pasar untuk tetap cermati perubahan sentimen yang ada.

Pada perdagangan Selasa (9/9), pemerintah Indonesia akan melakukan lelang penjualan Surat Berharga Syariah Negara (SBSN) atau Sukuk Negara berbasis proyek (project based sukuk), yaitu seri PBS005 (reopening) dan PBS006 (reopening). Selain itu, juga akan dilelang Sukuk Negara dengan seri SPN-S 10032015 (new issuance). Adapun indikasi bagi hasil yang ditawarkan berkisar antara 6,75%-8,75%.

Sementara pasar obligasi pada pekan lalu bergerak positif merespon positif rilis data-data makro Indonesia yang mampu di atas estimasi. Apalagi laju pasar obligasi global juga sempat menguat dengan sentimen optimisme dukungan bank sentral.

Direktur PT Penilai Harga Efek Indonesia (PHEI), Wahyu Trenggono pernah bilang, pasar obligasi Indonesia dinilai masih tidak likuid dibandingkan dengan pasar obligasi di negara tetangga. Alasannya, karena dari 400-500 seri obligasi yang beredar ternyata hanya sekitar 5% saja yang selalu ditransaksikan, “Dari 5% yang ditransaksikan, sisanya yakni sekitar 95% jarang di perjual belikan di pasar sekunder. Salah satu penyebabnya adalah masih minimnya jumlah seri obligasi yang diterbitkan korporasi maupun pemerintah,”ujarnya.

Dia menuturnya, minimnya transaksi obligasi juga dipengaruhi karena minimnya seri obligasi dan variasi obligasi yang diterbitkan. Tercatat hanya terdapat 500 seri obligasi baik obligasi pemerintah maupun obligasi korporasi bandingkan dengan seri obligas di negara tetangga yang mencapai 3.000 seri. (bani)

BERITA TERKAIT

Pilpres 2019, Pasar Properti Nasional Diprediksi Tetap Stabil

Pilpres 2019, Pasar Properti Nasional Diprediksi Tetap Stabil NERACA Jakarta - Pasar properti nasional pada tahun 2019 mendatang diprediksi bakal…

Azuz Zenfone Max Pro M2 dan Zenfone Max M2 Masuk Pasar Indonesia

Asus secara resmi memperkenalkan Zenfone Max Pro M2 untuk pasar Indonesia. Penerus Zenfone Max Pro M1 ini menjanjikan performa lebih…

Tawarkan Kupon Hingga 8,95% - Obligasi AP II Oversubscribed 3 Kali

NERACA Jakarta - PT Angkasa Pura II (Persero) resmi mencatatkan obligasi berkelanjutan I tahap I Tahun 2018 senilai Rp750 miliar…

BERITA LAINNYA DI BURSA SAHAM

IHSG Sepekan Kemarin Tumbuh 0,17%

NERACA Jakarta – Data perdagangan Bursa Efek Indonesia (BEI) sepekan pada minggu ke-3 bulan Desember mencatat indeks harga saham gabungan…

Estika Tiara Bidik Dana IPO Rp 226,11 Miliar

PT Estika Tata Tiara mengincar dana penawaran umum perdana saham (initial public offering/IPO) hingga Rp226,11 miliar. Calon emiten distribusi makanan…

PLI Mulai Pasarkan Double Great Residence

PT Prioritas Land Indonesia (PLI) mulai melakukan pembangunan hunian edukasi pertama di Serpong, Double Great Residence (dahulu K2 Park) pada…