Eksistensi Delta Dunia di Bisnis Tambang - Kantungi Kontrak Panjang dari Berau

NERACA

Jakarta – Ditengah lesunya bisnis pertambangan, tidak membuat pundi-pundi keuntungan bisnis batubara juga ikut lesu. Sebaliknya, masih ada beberapa perusahaan masih menuai berkah untuk order penjualan batubara. Hal inilah yang dirasakan PT Delta Dunia Makmur Tbk (DOID) melalui anak usahanya PT Bukit Makmur Mandiri Utama mendapatkan pengerjaan pengupasan lapisan tanah dari PT Berau Coal Tbk (BRAU). Informasi tersebut disampaikan perseroan dalam siaran persnya di Jakarta, kemarin.

Disebutkan, kontrak pengerjaan pengupasan lapisan tanah itu mencapai 647 juta bcm hingga 2019. Menurut manajemen PT Delta Dunia Makmur Tbk, anak usaha perseroan diberikan kepercayaan oleh Berau, yang merupakan salah satu pelanggan utama PT Bukit Makmur Mandiri Utama untuk melakukan pekerjaan dengan volume lebih tinggi dan mendapatkan perpanjangan kontrak selama 1 tahun untuk lokasi Binungan hingga 2019.

Amandemen kontrak itu mencakup pekerjaan pengupasan lapisan tanah, pengangkutan batu bara dan penyewaan alat di lokasi Lati dan Binungan dengan nilai kontrak US$ 1,2 miliar selama lima tahun ke depan. Kontrak ini akan meningkatkan volume produksi di Berau sebesar rata-rata 26 persen per tahun. Menurut perseroan, perpanjangan kontrak dan penambahan volume ini akan memperkuat posisi keuangan PT Bukit Makmur Mandiri Utama.

PT Delta Dunia Makmur Tbk mampu mencatatkan laba bersih yang dapat diatribusikan kepada pemilik entitas induk untung US$ 11,33 juta selama enam bulan pertama 2014 dari periode sama tahun sebelumnya rugi US$ 5,82 juta. Pendapatan bersih Berau Coal turun 12,47% menjadi US$ 303,02 juta selama semester I 2014 dari periode sama tahun sebelumnya US$ 346,22 juta. Total liabilitas perseroan turun menjadi US$ 887,66 juta pada 30 Juni 2014. Ekuitas naik menjadi US$ 83,11 juta sedangkan kas perseroan turun menjadi US$ 156,66 juta pada 30 Juni 2014.

Sebagai informasi,tahun ini produksi batubara DOID diperkirakan turun 5%-7% yoy dari 2013 yang diproyeksikan 34,5 juta ton. Untuk overburden removal bahkan diperkirakan turun lebih dalam, yakni 15%-20% yoy dari proyeksi 2013 yang sebanyak 278,4 juta - 295,8 juta bcm.

Target yang dipatok negatif tersebut tidak terlepas dari proyeksi industri batubara yang masih bearish di tahun ini. Harga jual batubara diperkirakan masih buruk sehingga memaksa para produsen untuk mengerem produksi.

Ini tentu berimbas pada kinerja DOID yang bakal turut tertahan. Oleh karena itu, DOID tidak akab terlalu bernafsu melakukan ekspansi di tahun ini. Dari sisi belanja modal misalnya, DOID kemungkinan hanya akan menganggarkan US$ 30 juta, atau sama dengan tahun lalu. Anggaran capex itu pun hanya digunakan untuk menutupi perawatan rutin, bukan membeli alat berat baru. Namun pada kuartal pertama tahun ini, perseroan belum mengalokasikan belanja modal. Pasalnya, hingga saat ini harga batu bara belum menguntungkan serta beralasan menghemat dana internalnya.

Sekretaris Perusahaan DOID, Errindo Pardede pernah bilang, perusahaan memilih fokus meningkatkan efisiensi biaya produksi dan menggenjot kapasitas produksinya,”Kas merupakan hal yang penting dalam bisnis. Makanya, kami harus sangat hati-hati,”ujarnya.

Errindo menjelaskan, langkah perusahaan untuk menggenjot produksi sepertinya cukup berhasil. Paling tidak ini terlihat dari kinerja salah satu anak usahanya yakni Bukit Makmur Mandiri Utama. Sepanjang Maret, jasa penambangan batu bara Bukit Makmur mencapai 2,7 juta ton atau naik 12,5% dari pencapaian Februari 2014. Sementara itu, kinerja di bulan Maret tersebut menggenapi total jasa penambangan batu bara Bukit Makmur di kuartal I-2014 mencapai 7,7 juta ton. Selain itu, totaloverburden removaldi periode yang sama mencapai 68,6 juta bcm. (bani)

BERITA TERKAIT

Sesuaikan Hasil Kajian RBB - Bank BTN Optimis Bisnis Tetap Tumbuh

Tahun 2019, menjadi tahun yang penuh tantangan karena pertumbuhan ekonomi dunia dan  domestik diperkirakan melambat akibat berkepanjangannya perang dagang antara…

Pemerintah Serap Rp22 Triliun dari Lelang SUN

      NERACA   Jakarta - Pemerintah menyerap dana Rp22,05 triliun dari lelang tujuh seri surat utang negara (SUN)…

Sky Energy Luncurkan Produk Teringan di Dunia - Pembangkit Tenaga Surya

      NERACA   Jakarta - Kebutuhan akan listrik semakin meningkat seiring berkembangnya teknologi. Pada 2019, kebutuhan listrik dunia…

BERITA LAINNYA DI BURSA SAHAM

Sesuaikan Hasil Kajian RBB - Bank BTN Optimis Bisnis Tetap Tumbuh

Tahun 2019, menjadi tahun yang penuh tantangan karena pertumbuhan ekonomi dunia dan  domestik diperkirakan melambat akibat berkepanjangannya perang dagang antara…

Torehkan Kinerja Sangat Baik - BTN Meraih Penghargaan CSA Award 2019

PT Bank Tabungan Negara (Persero) Tbk (BBTN) meraih penghargaan CSA Award 2019. Penghargaan emiten dengan kinerja terbaik tersebut, hasil kerja…

Berikan Pendampingan Analis Investasi - CSA Research Gandeng Kerjasama Modalsaham

NERACA Jakarta – Genjot pertumbuhan investor pasar modal, khususnya generasi milenial dan juga mendukung inovasi sektor keuangan digital, Certified Security…