Inflasi “Bersahabat”, Indeks Kembali Menguat

NERACA

Jakarta – Mengakhiri perdagangan saham di Bursa Efek Indonesia (BEI) Senin awal pekan, indeks harga saham gabungan (IHSG) ditutup menguat 40,755 poin (0,79%) ke level 5.177,618. Sementara Indeks LQ45 ditutup tumbuh 10,908 poin (1,25%) ke level 880,104. Penguatan indeks BEI terjadi sejak awal perdagangan hingga penutupan perdagangan.

Analis Asjaya Indosurya Securities, William Surya Wijaya mengatakan, data ekonomi Indonesia seperti neraca perdagangan Indonesia bulan Juli yang mengalami surplus serta menurunnya inflasi periode Agustus tahun ini menjadi satalah satu pendorong indeks BEI menguat,”Data ekonomi domestik memicu aksi beli saham di bursa saham Indonesia,”ujarnya di Jakarta, Senin (1/9).

Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat neraca perdagangan Indonesia selama Juli 2014 surplus US$ 123,7 yang merupakan selisih nilai total ekspor sebesar US$ 14,18 miliar dan total impor sebesar US$ 14,05 miliar. Sementara laju inflasi pada Agustus 2014 mencapai 0,47% atau lebih rendah dari inflasi Agustus 2013 yang tercatat 1,12%.

Kendati demikian, menurut dia, sentimen itu bersifat jangka pendek mengingat kondisi eksternal seperti konflik geopolitik di Ukraina serta ekspektasi kenaikan suku bunga AS (fed rate) masih membayangi laju IHSG BEI.

Sementara itu, analis Sinarmas Sekuritas Natalia Sutheno memprediksi, IHSG akan bergerak bervariasi di kisaran level 5.150-5.194 pada perdagangan Selasa (2/9),”Indeks BEI akan dipengaruhi oleh adanya faktor eksternal yakni gejolak di Ukraina yang masih berlanjut," katanya.

Dari internal, lanjut dia, rencana kenaikan Bahan Bakar Minyak (BBM) subsidi yang belum ada kepastian dapat menahan laju indeks BEI. Pada perdagangan kemarin, delapan sektor berhasil menguat dan hanya sektor agrikultur serta konstruksi yang gagal menguat. Saham-saham bank kelas berat naik paling tinggi.

Pada perdagangan kemarin, transaksi investor asing tercatat melakukan pembelian bersih (foreign net buy) senilai Rp 111 miliar di pasar reguler dan negosiasi. Perdagangan berjalan cukup sepi dengan frekuensi transaksi sebanyak 150.152 kali dengan volume 4,829 miliar lembar saham senilai Rp 3,419 triliun. Sebanyak 140 saham naik, 147 turun, dan 88 saham stagnan.

Bursa-bursa di Asia menutup perdagangan awal pekan dengan mixed cenderung menguat, hanya bursa Singapura yang melemah. Pelaku pasar regional memanfaatkan momentum rekor Wall Street untuk aksi beli. Saham-saham yang naik signifikan dan masuk dalam jajaran top gainers di antaranya adalah Merck (MERK) naik Rp 11.500 ke Rp 185.000, Multi Bintang (MLBI) naik Rp 6.000 ke Rp 1,03 juta, Gudang Garam (GGRM) naik Rp 1.025 ke Rp 55.025, dan Unilever (UNVR) naik Rp 975 ke Rp 32.000.

Sementara saham-saham yang turun cukup dalam dan masuk dalam kategori top losers antara lain Chandra Asri (TPIA) turun Rp 165 ke Rp 3.080, Dharma Satya (DNSG) turun Rp 150 ke Rp 3.450, Citra Marga (CMNP) turun Rp 125 ke Rp 3.925, dan Indocement (INTP) turun Rp 125 ke Rp 24.125.

Perdagangan sesi pertama, indeks BEI ditutup menguat 34,365 poin (0,67%) ke level 5.171,228. Sementara Indeks LQ45 bertambah 9,023 poin (1,04%) ke level 878,219. Sembilan sektor berhasil menguat, hanya sektor agrikultur yang masih melemah. Saham-saham bank kelas berat naik paling tinggi.

Perdagangan berjalan cukup sepi dengan frekuensi transaksi sebanyak 89.245 kali dengan volume 2,615 miliar lembar saham senilai Rp 1,724 triliun. Sebanyak 120 saham naik, 138 turun, dan 92 saham stagnan. Bursa-bursa regional masih bergerak mixed cenderung menguat hingga sesi pertama. Sentimen positif datang dari Wall Street yang cetak rekor pekan lalu.

Saham-saham yang naik signifikan dan masuk dalam jajaran top gainers di antaranya adalah Gudang Garam (GGRM) naik Rp 1.100 ke Rp 55.100, Unilever (UNVR) naik Rp 850 ke Rp 31.875, Maskapai Reasuransi (MREI) naik Rp 500 ke Rp 6.900, dan BCA (BBCA) naik Rp 500 ke Rp 11.700. Sementara saham-saham yang turun cukup dalam dan masuk dalam kategori top losers antara lain Chandra Asri (TPIA) turun Rp 155 ke Rp 3.090, Citra Marga (CMNP) turun Rp 110 ke Rp 3.940, Indo-Rama (INDR) turun Rp 90 ke Rp 1.170, dan Indocement (INTP) turun Rp 75 ke Rp 24.175.

Diawal perdagangan, indeks BEI dibuka naik 22,96 poin atau 0,45% menjadi 5.159,82, sedangkan indeks 45 saham unggulan (LQ45) menguat 6,25 poin (0,72%) ke level 875,44. Kata Kepala Riset Trust Securities Reza Priyambada, pelaku pasar saham sedang menanti data inflasi Agustus dan neraca perdagangan Indonesia bulan Juli 2014 yang diharapkan pengumuman data di awal pekan ini dapat memberikan respon positif,”Ekspektasi data ekonomi Indonesia masih cukup positif, estimasi kami untuk inflasi Agustus mengalami penurunan di kisaran 0,54-0,88%,”ujarnya.

Sementara untuk neraca perdagangan, lanjut dia, masih tingginya permintaan barang-barang nonkonsumen akan membuat nilai impor besar. Jika pun terjadi penurunan pada laju impor belum dapat diimbangi laju ekspornya."Kami perkirakan laju nilai perdagangan masih berpotensi melanjutkan defisitnya namun tidak terlalu signifikan," kata Reza.

Sementara itu, Head of Research Valbury Asia Securities Alfiansyah mengatakan, ekspektasi bank sentral AS (the Fed) akan menaikkan suku bunga acuan lebih cepat masih membayangi laju indeks BEI. Data ekonomi terbaru AS menunjukkan indikator perekonomian mulai membaik misalnya, jumlah pengangguran turun dari 7,3% menjadi 6,2%.

Alfiansyah menilai bahwa dalam mengantisipasi kebijakan yang dilakukan oleh moneter AS itu, beberapa yang harus dipersiapkan oleh pemerintahan baru yakni menaikkan harga bahan bakar minyak (BBM) bersubsidi, dimana jika dilakukan dapat menambah ruang fiskal sebanyak Rp96 triliun.

Menurutnya, Indonesia harus sudah menyiapkan strategi jika AS menaikkan suku bunga, dengan mencipkan ruang fiskal yang lebih besar. Tercatat bursa regional, di antaranya indeks Bursa Hang Seng dibuka menguat 121,95 poin (0,49%) ke level 24.864,01, indeks Nikkei naik 33,62 poin (0,22%) ke level 15.458,21 dan Straits Times melemah 2,83 poin (0,08%) ke posisi 3.324,63. (bani)

BERITA TERKAIT

Banten Triwulan-III/2017 Alami Inflasi 4,17 Persen

Banten Triwulan-III/2017 Alami Inflasi 4,17 Persen NERACA Serang - Provinsi Banten pada triwulan-III/2017 mengalami inflasi 4,17 persen (yoy), lebih rendah…

IHSG Selama Sepekan Menguat 1,32%

NERACA Jakarta – Selama sepekan kemarin atau di sepanjang priode 4 hingga 8 Desember 2017, indeks harga saham gabungan (IHSG)…

BPS: Badai Dahlia Ancaman Inflasi - WISATAWAN MANCANEGARA KE BALI MENURUN

Jakarta-Badan Pusat Statistik (BPS) mengimbau kepada pemerintah untuk terus menjaga stabilitas harga pangan menjelang akhir tahun ini. Pasalnya, ancaman Badai…

BERITA LAINNYA DI BURSA SAHAM

MCAS Bukukan Penjualan Rp 1,1 Triliun

PT M Cash Integrasi Tbk (MCAS) sepanjang sebelas bulan pertama tahun ini mengantongi angka penjualan sebesar Rp1,1 triliun atau meningkat…

Generali Meriahkan Insurance Festival 2017

Sebagai wujud dukungan terhadap program pemerintah dalam meningkatkan literasi dan inkluasi keuangan, Generali Indonesia turut meramaikan Insurance Festival 2017 yang…

WTON Targetkan Pendapatan Tumbuh 20%

Optimisme tahun depan akan jauh lebih baik kondisi perekonomian dalam negeri, memacu PT Wijaya Karya Beton Tbk (WTON) menargetkan pertumbuhan…