Pengusaha Surabaya Tertarik Belimbing Depok

NERACA

Depok – Pengusaha Surabaya tertarik dengan produk lokal petani organik Kota Depok yang memamerkan buah belimbing. Buahnya sangat unik dan berbeda dengan buah yang sama yang dipamerkan oleh peserta lain dari berbagai provinsi dalam Agricultural Expo 2011 di Surabaya, baru-baru ini. Keunikannya buahnya besar, warnanya kuning keemasan dan bentuknya juga sangat artistik alami. Begitupula dengan rasanya juga sangat berbeda dengan buah belimbing asal daerah lainnya. Demikian dijelaskan Rudi Wahyudi, pengusaha yang bergerak dalam bidang produk kecantikan wanita.

Menurut dia, selama ini dirinya belum pernah menjumpai buah belimbing seperti yang dipemerkan Dinas Pertanian Kota Depok. “Saya betul-betul terkesan dan tertarik untuk menelitinya menjadi suatu komoditi produk olahan dan makan segar yang bermanfaat bagi kesehatan dan kecantikan wanita,” ujar Rudi yang berpikir bahwa pasti ada keunggulan kompreatif belimbing Depok yang sangat unik itu.

Apalagi, tutur Rudi, belimbingnya dari jarak jauh saja sudah memiliki daya tarik yang unik. Seakan ada daya tarik tertentu yang memiliki potensi energi yang lua biasa. Hal ini mungkin karena tanamannya diolah petani organik yang memiliki kandungan nilai gizi yang sehat dan tidak terkontaminasi oleh berbagai unsur kimia dari pestisida dan lainnya.

“Saya akan coba kontak pengusaha tersebut untuk menanggapi kesungguhannya dalam minat untuk mengembangkan belimbing jadi produk olahan untuk kecantikan wanita,” ujar Indera Wahyu, Kasie Bina Usaha Petani Hortikultura Dinas Pertanian Kota Depok kepada Neraca di Depok.

Kendati lahan terbatas, lanjut Indera, petani depok yang mayoritas berusaha di bidang hortikultura, mampu mengembangkan tanaman belimbing melalui tanaman organik yang mendapat perhatian khusus peserta lainnya diibandingkan peserta lain yang memamerkan buah serupa.

“Belimbing Depok diakui memiliki skala kualitas yang dapat dibanggakan di Indonesia. Saat ini sedikitnya 17 hektar lahan belimbing yang dikelola 150 petani menjadi potensi yang memiliki nilai tambah pendapatan petani di perkotaan,” ujar Indera Wahyu.

Dari potensi itu, lanjut dia, produksi belimbing pada petani Depok Organik saat ini mampu mencapai sekitar 10 ton per bulan. Bahkan jika memang ada investor yang tertarik masih ada lahan yang bisa dikembangkan sekitar 10 hektar untuk tanaman hortikultura.

Selain belimbing petani organik Depok juga membudidayakan tanam jambu biji. Buahnya juga besar-besar dan rasanya juga khas. Produksinya bisa mencapai sekitar 6 ton perbulan. Jumlah ini masih bisa dikembangkan lebih besar lagi jika memang ada peminatnya.

Usaha lainnya dari petani organik Depo adalah, pupuk organik cair, pupuk organik padat, pestisida organik, efektif mikro organisme lokal, bubur California plus, aneka bibit buah, kambing dan domba organik serta kuliner dan lain sebagainya yang serba organik. “Mungkin pertanian organik Depok bisa dijadikan standar kualitas berskala nasional,” tutur Indera Wahyu.

Menurut Indera, meningkatnya penurunan kualitas dan daya dukung lahan pertanian di perkotaan, akibat pengelolaan usaha pertanian yang eksploitatif telah menimbulkan beragam kerusakan pada ekosistem secara lebih luas.

Hal itu, lanjutnya, menimbulkan kekhawatiran berbagai pihak, termasuk salah satu komunitas yang bernama “Depok Organik”. “oleh sebab itu dengan semangat kembali ke alam natural, diharapkan petani organik berupaya mengembangkan sistem pertanian yang bermanfaat bagi ekosistem dan mensejahterakan petani,” pungkas dia.

Related posts