Tekad Kab. Sukabumi Menjadi Lumbung Beras Sudah Bulat

Kamis, 18/08/2011

NERACA

Sukabumi -Tekad Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Sukabumi sebagai daerah lumbung beras, tampaknya sudah bulat. Hal itu terlihat dari rencana program yang dipaparkan Bupati Sukmawijaya pada saat paripurna di gedung DPRD saat rapat paripuran yang dihadiri oleh seluruh pimpinan OPD, Selasa (16/8) lalu.

Menurut Bupati Sukmawijaya, dirinya sudah meminta OPD bidang ekonomi untuk merancang program One Day No Rice alias Satu Hari Tanpa Beras. Dimana dengan program itu sama dengan menghemat 250 ha stok padi atau setara dengan 341.845,7 ton per hari.

Plt Asisten Bidang Ekonomi, Dadang Budiman, kepada Harian Ekonomi Neraca seusai mengikuti rapat paripurna menyebutkan, untuk mencanangkan one day no rice itu, pihaknya mengajak masyarakat dalam sehari mengkonsumsi Jagung, Singkong, ubi jalar, buah-buahan, Kentang dan Gayang (sejenis umbu-umbian).

Stok akan pengganti beras itu, seperti jagung memiliki 34,689 ton, pisang 161.226,9 ton, ubi kayu 135.545 ton, kentang 4,44 ton. “Sedangkan ubi jalar, gayang dan buah-buahan, juga sangat banyak dengan asumsi prakiraan berkisar puluhan ton,” ungkap dia.

Bila ditilik data kebutuhan konsumsi pangan lokal, lanjut dia, mencapai 2.341.409 jiwa sesuai data tahun 2010, dengan produksi padi sebanyak 453.640,5 ton per tahun. Tingkat konsumsi rata-rata masyarakat secara normal, sebanyak 400 gram per juwa per hari, “Artinya kita surflus beras sebanyak 111.797,5 ton per tahun.

Sehingga ketika musim kemarau tiba, stok beras di Kabupaten Sukabumi masih tetap aman. Hanya saja, kata dia, Pemkab Sukabumi pada khususnya harus sesegra mungkin merancang peraturan daerah (Perda) akan One No Rice, serta membentuk pengelolaan lumbung pangan tiap desa, baik yang dikelola oleh pemrintahan desa, masyarakat maupun membentuk suatu badan usaha milik daerah (BUMD).

“Kalau konsep ketahan pangan ini diprioritaskan oleh pemerintah, seperti yang saya katakan di Harian Ekonomi Neraca tempo hari, maka Kab. Sukabumi bisa mejadi daerah penyumbang beras terbesar di Jawa Barat. Kita melihat salah satu daerah di Jawa Tengah yang memiliki BUMD ketahan pangan, ternyata mampu mensuplay beras ke berbagai daerah di Indonesia, sehingga nantinya negera tidak perlu lagi mengimpor beras dari luar,” ungkap dia.

Musim Kemarau

Memasuki musim kemarau saat ini, masyarakat petani Kab. Sukabumi, dihantui akan gagal panen alias Fuso. Namun kendati kegagalan panen terjadi, diperkirakan tidak akan menggangu stabilitas pangan didaerah tersebut karena memiliki surplus beras yang cukup hingga tiga bulan.

Namun Pemda melalui Dinas Pertanian terus mengimbau petani agar memikirkan pola tanam yang telah diprogramkan pemerintah. “Semua pola tanam yang di sosialisasikan oleh pemerintah kepada petani, semestinya diperhatikan demi kelancaran usaha masyarakat. Jauh-jauh hari sebelumnya kita sudah mengingatkan bahwa kondisi cuaca yang ekstrim, tidak menjadi salah satu hambatan petani, ” pungkas, Tata, petugas di Dinas Pertanian pada Neraca.