Arwana dan Koi di Yogyakarta Makin Serius Dikembangkan

Budidaya Ikan Hias

Jumat, 25/07/2014

NERACA

Sleman – Kelompok Pembudidaya Ikan (Pokdakan) Mina Karya di Dusun Blendangan, Desa Sendangtirto, Kecamatan Berbah, Kabupaten Sleman, Povinsi Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) terlihat semakin serius mengembangkan berbagai jenis ikan hias, khususnya arwana dan koi. Produk mereka terserap kuat di pasar dalam negeri dan ekspor.

Direktur Jenderal Perikanan Budidaya Kementerian Kelautan dan Perikanan Slamet Soebjakto menjelaskan, budidaya maupun ikan hias belakangan ini semakin berkembang. “Sekarang ini pengguna atau hobbies ikan hias di dalam negeri meningkat. Ini mengindikasikan masyarakat semakin makmur. Penjualannya ini sampai ke Ambon, bahkan Papua,” kata Slamet kepada pers di sela-sela kunjungan kerja di kompleks budidaya ikan hias milik Pokdakan Mina Karya, Rabu (23/7).

Menurut Slamet, produksi ikan hias nasional terus menanjak naik. “Produksinya naik terus. Tahun lalau bisa 1 miliar ekor lebih. Tahun ini bisa 1,3 miliar. Ini masih banyak data yang masih belum tercatat. Ikan yang kecil-kecil semua belum dihitung,” imbuhnya.

Indonesia, menurut Slamet, saat ini termasuk dalam jajaran eksportir ikan hias paling utama di dunia. Adapun persentase penjualan ikan hias untuk pasar domestik dan impor berbeda-beda, tergantung jenis ikannya. Tapi umumnya, pasar lokal masih mendominasi. Penyerapan pasar di dalam negeri sekitar 60%, sementara 40% sisanya diekspor ke luar negeri. Demikian juga untuk ikan arwana produksi Pokdakan Mina Karya seperti arwana, 60% dijajakkan di pasar dalam negeri, 40% sisanya dipasarkan para eksportir ke luar negeri.

“Hampir semua ikan hias potensial untuk diekspor. Koi, koki, black ghost, termasuk arwana itu semua potensi untuk dieskpor. Jadi selain udang dan rumput laut yang memberikan devisa cukup besar, ikan hias juga digenjot. Ikan hias perkiraan saya sekitar 10-20% dari total ekspor ikan,” tutur Dirjen Slamet.

Masalah Pengiriman

Belakangan ini, para pebisnis ikan hias mengeluhkan problem pengiriman ikan hias hidup mereka ke konsumen. Problem tersebut khususnya terjadi di ekspedisi pengiriman barang di mana jasa mereka menolak untuk mendistribusikan produk tersebut karena rawan bocor atau pecah dalam perjalanan. Sementara untuk jasa kargo, tidak terlalu bermasalah.

“Kargo itu sebetulnya tidak jadi kendala. Tapi ekspedisi. Kalau pengiriman ikan kecil itu kan takut pecah plastiknya. Ini yang saya kira perlu kita koordinasikan dengan ekspedisi agar ini harus ada solusi jalan keluarnya. Agar aman. Pembudidaya akan mengikuti aturan,” urainya.

Dirjen Slamet mengakui, karena perkara tersebut, perdagangan dan bisnis ikan hias terganggu. “Saya kira cukup berpengaruh karena memang mempengaruhi lalu lintas bisnis ikan hias dalam negeri, belum luar negeri. Kalau sulit seperti ini akan ada penyelundupan, baik impor atau lokal, yang mengatasnamakan bukan ikan atau ikan hias,” terangnya.

Sebelum permasalahan ekspedisi ini mengemuka, jasa kargo pesawat sebelumnya juga menjadi hambatan pengiriman ikan hias. “Kalau untuk penerbangan sebelumnya Lion Air tidak memperbolahkan pengiriman ikan hidup. Kita sudah menghubungi Kementerian Perhubungan dan maskapai. Ini sudah dibahas. Sudah mulai dibuka,” cerita Slamet.

Karena itu, pihaknya juga akan meminta pengusaha ekspedisi untuk membuka jalur pengiriman ikan hias hidup agar bisnis ini bisa terus berkembang. “Kita minta ekspedisi untuk membuka pengiriman ikan ini. Misalnya packing-nya diperketat. Supaya aman. Apakah pakai plastik dobel atau biar tidak bocor. Kita akan mengikuti. Kita akan adakan pertemuan. Kita akan coba setelah lebaran. Akan melakukan koordinasi dengan ekspedisi,” tandasnya.

Di tempat yang sama, Ketua Pokdakan Mina Karya, Santoso, mengaku punya pengalaman penolakan dari jasa pengiriman ikan. Namun, biasanya, kata dia, kegagalan maupun penolakan pengiriman lebih dikarenakan syarat yang belum terpenuhi. Syarat itu bisa dalam bentuk pengepakan yang tidak standar atau yang lainnya. “Kalau pengalaman saya, karena belum tahu. Kalau sudah terbiasa, ya bisa jalan,” ujar Santoso.

Dia bercerita, puncak permintaan ikan hias, khususnya koi dan arwana, terjadi pada bulan Januari sampai April. Pada periode itu, alam relatif bersahabat dan ikan. Namun pada Mei sampai Juli, pengiriman ikan rada berkurang karena risiko kematian tinggi. Untuk arwana anakan ukuran 5 cm, Santoso melepas seharga Rp 27 ribu. Sementara untuk arwana indukan bisa Rp 1 juta per ekor. Untuk ikan arwana dalam sebulan bisa 10 ribu anakan yang dia kirim ke berbagai daerah. Adapun kalau ikan koi bisa mencapai 500 ekor. Sebulan ke luar Jawa bisa 4 kali.

Kelompok Mina Karya memiliki anggota resmi 11 orang, namun anggota keseluruhan mencapai 42 orang. Hasil produksi anggota Pokdakan ini untuk ikan arwana dipasarkan mayoritas di Jawa, dari Bandung, Surabaya, Semarang, hingga Yogya. Berbeda dengan ikan koi yang kuat diserap pasar di seluruh Indonesia. Sementara ikan arwana yang berwarna kehijauan itu, menurut dia, merupakan jenis dengan harga paling murah. “Menurut pasar, ikan yang paling laku itu yang murah dan yang paling mahal. Yang paling murah saya sudah bisa. Sedangkan super red paling mahal. Indukan Rp 12 juta super red per ekor,” jelasnya.