Jembatan Comal

Oleh Bani Saksono (wartawan Harian Ekonomi Neraca)

Sabtu, 26/07/2014

Semula, para pemudik jalur darat di pantai utara (pantura) Jawa bersyukur, karena perbaikan jalanan di sana sudah selesai jauh sebelum arus mudik tiba. Tak terlihat apakah sejatinya masih ada tambal sulam perbaikan di sepanjang jalan pantura yang membentang dari Jakarta-Bekasi di Jawa Barat hingga ke Tuban di Jawa Timur.

Namun, siapa menyangka akan muncul kendala baru di jalur tersebut. Pada Jumat dini hari, 18 Juli 2014, jembatan Comal yang ada di antara Tegal-Pekalongan itu ambles digerus air sedalam 20 cm. Akibatnya, lalu lintas terhambat. Setelah dilakukan rekayasa perbaikan semampunya, pada H-4 Idul Fitri, yaitu 24 Juli, jembatan itu sudah bisa difungsikan kembali, walaupun hanya bisa dilalui oleh kendaraan kecil. Itu pun hanya untuk satu jalur saja, yaitu mengakomodasi arus mudik dari barat ke timur.

Pelajaran apa yang bisa dipetik dari amblesnya jembatan Comal? Semua pihak melihat betapa pentingnya menyiapkan jalur alternatif. Sebab, selama ini, terkesan bahwa jalur alternatif yang ada tak disiapkan untuk menunjang kenyamanan, keselamatan, dan keamanan kendaraan yang melintas. Selain lebih sempit juga kondisinya seolah-olah dibiarkan berlobang-lobang.

Dengan tidak bisa dilalui oleh kendaraan besar, baik truk mupun bus, otomatis kendaraan jenis itu harus berkorban waktu tempuh yang lebih lama, biaya operasional yang lebih banyak, maupun timbulnya risiko kerusakan dan kecelakaan lalu lintas karena harus menempuh jalur alternatif yang jauh dan sempit.

Yang paling dirasakan oleh masyarakat pengguna sarana angkutan umum massal itu adalah terkena beban dari imbas musibah itu, yaitu kenaikan tarif serta headway (waktu tunggu) antar armada yang datang ke terminal. Sesuai dengan kondisi di atas, kenaikan tarif bus mencapai 15%. Harga barang-barang lainnya juga diprediksi akan naik.

Masih ada puluhan, bahkan ratusan jembatan di sepanjang pantura, selain jembatan Kali comal. Kesemua jembatan itu membutuhkan kontrol dan pemeliharaan jalan. Jika tidak, kasus amblesnya jembatan Comal juga akan terjadi di tempat lain.

Yang dtuntut adalah kehadiran pemerintah, baik pemerintah pusat dan pemerintah daerah, untuk menjaga atau memelihara aset jalan dan infrastruktur lainnya agar kondisinya tetap baik dan layak pakai. Dengan adanya jumlah beban atau volume kendaraan yang terus meningkat yang tak sebanding lurus dengan kapasitas jalan, tentu harus sudah dipikirkan bagaimana memindahkan beban itu ke sarana jalan yang lain. Yaitu, mempercepat pembangunan jalan tol di sepanjang pantura untuk mengurangi beban jalan arteri atau membangun trek khusus bagi kendaraan angkutan barang dalam bentuk jalur rel.

Pelajaran berikutnya adalah, tentu saja para pemudik harus bersabar menjalani kenyataan bahwa kondisi di lapangan tidak seideal yang kita bayangkan. [ ]