Harga TBS Drastis Turun, Petani Sawit Merugi

Dampak Pilpres

Kamis, 24/07/2014

NERACA

Jakarta - Sawit di Indonesia telah mengalami banyak kemajuan, banyak sekali perusahaan sawit yang semakin mengembangkan usaha mereka baik di lokal maupun di pasar internasional. Kelayakan mutu kelapa sawit Indonesia telah terbukti dengan terealisasinya sawit indonesia di peringkat yang cukup memuaskan di pasar internasional. Namun untuk nasib petani sawit sampai saat ini belum juga mendapatkan kelayakan harga.

Terkait dengan pemilihan presiden tahun 2014 ini, luar bisa mempengaruhi harga TBS (Tandan Buah Segar) sawit di indonesia. Hal ini dapat disaksikan dari perubahan-perubahan harga yang semakin turun drastis setelah pemilu 9 Juli lalu. Contoh harga TBS di beberapa daerah yang telah di data hari ini oleh SPKS adalah, Rokan Hulu riau sebesar Rp. 1300/Kg dari bulan sebelumnya Rp. 1800. Di kabupaten Sintang Kalimantan Barat sebesar Rp. 1.838/kg dari Rp. 1.880/kg. Di Sanggau Kalimantan Barat harga pada bulan Juli Rp. 1800/kg dari Rp. 1900/kg bulan sebelumnya. Di Tanjung Jabung Barat Jambi harga TBS saat ini sebesar Rp. 1.791/kg dari bulan Juni sebelumnya sebesar Rp. 1844/kg. Harga yang turun drastis di Kabupaten Rokan Hulu adalah harga yang berlaku di petani mandiri yang beredar di tingkat tengkulak.

Dari sejumlah data di atas, para petani sawit ini mengeluhkan penurunan yang sangat drastis. Penurunan harga TBS berkisar sampai dengan Rp. 100 . Penurunan harga ini membuat para petani khawatir sawit mereka akan dijual dengan harga yang murah padahal untuk mengembangkannya saja mereka sudah mengeluarkan biaya yang sangat mahal. Sebenarnya penurunan harga TBS ini sudah diprediksi akan terjadi pada saat pemilu.

Sekjen SPKS Mansuetus Darto, menilai penurunan ini terkait dengan para pengusaha sawit yang ikut bermain dalam Pilpres 2014. Begitu banyak aliran uang dari pengusaha sawit untuk di investasikan kepada capres tertentu. Akibatnya, petani yang harus menanggung semua permainan politik para pengusaha dengan membeli TBS dari petani yang rendah. Hal ini sama dengan pilpres sebelumnya pada tahun 2009, harga pembelian TBS ke tingkat petani sangat rendah. Darto menambahkan, hal ini akan berlangsung hingga penutupan tahun 2014 atau hingga ongkos politik pengusaha sawit tersebut kembali. Hal ini dia sampaikan dalam siaran pers yang diterima redaksi Neraca, Rabu (23/7).

Sementara itu, masih dalam rilis yang sama, Kepala Dinas Perkebunan Riau, Zulher, mengungkapkan penurunan di sebabkan oleh pengaruh pelemahan harga kedelai akibat potensi lonjakan signifikan pada output kedelai AS, terpantau memberi tekanan sentiment negative kuat terhadap pergerakan harga CPO.

Apapun penyebabnya Sekjen SPKS mengharapkan seharusnya harga TBS dapat tetap stabil dan diharapkan para pengusaha sawit tidak mempermainkan harga TBS agar tidak merugikan petani sawit. Peraturan penetapan harga TBS harus segera di evaluasi pada pemerintahan baru sehingga harga pembelian TBS tidak dipermainkan pengusaha.