Pefindo Turunkan Peringkat Enam Perusahaan

Dampak Penurunan Kinerja

Rabu, 23/07/2014

NERACA

Jakarta – Meskipun PT Pemeringkat Efek Indonesia (Pefindo) mencatatkan terdapat 33 perusahaan yang stabil. Namun masih ada saja perusahaan yang mengalami penurunan peringkat atau down grade. Semester pertama tahun ini, Pefindo mengungkapkan ada enam perusahaan yang mengalami penurunan peringkat.

Analis Pefindo Niken Indriasih mengatakan,penurunan peringkat pada emiten tidak lepas dari faktor internal dan eksternal yang menghambat kinerja perseroan. Sebut saja, enam perusahaan yang mengalami penurunan peringkat seperti PT Aneka Tambang Tbk (Antam), “Peringkat Antam turun karena akibat industrinya yang melarang ekspor biji mineral, apalagi 30% pendapatan Antam dari situ sehingga menurunkan pendapatan. Selain itu perusahaan sedang ekspansi, dan penurunan kinerja perseroan,”ungkapnya di Jakarta, Selasa (22/7).

Contoh lain pada perusahaan perkebunan Sinarmas Plantitation, disebabkan oleh besarnya utang namun tidak diimbangi dengan proyeksi pendapatan. Sementara untuk perusahaan sektor keuangan menurut analis Pefindo Hendro Utomo, dari keseluruhan perusahaan keuangan yang di peringkat oleh Pefindo tidak terdapat yang mengalami penurunan peringkat, namun hanya satu perusahaan keuangan yakni PT Bank Sumut mengalami penurunan outlook."Outlooknya Bank Sumut menjadi negatif karena kondisi perusahaan relatif stagnan dan NPL cukup tinggi. Ada juga Bank Saudara. Sementara itu beberapa peringkat efek perusahaan sektor keuangan mengalami peningkatan seperti BCA Finance menjadi AAA, Bank DKI menjadi AA,"tandasnya.

Sebagai informasi, Pefindo melaporkan pemeringkatan hingga saat ini terdapat 33 perusahaan yang stabil, tujuh perusahaan stabil, dan enam perusahaan yang mengalami penurunan peringkat (down grade). Enam perusahaan yang mengalami down grade diantaranya, PT Indomobil, PT indofarma Tbk, PT Antam Tbk, Sinarmas plantitation dan Trikomsel.

Selain itu, Pefindo juga kembali menurunkan peringkat utang dan perusahaan PT Indofarma Tbk (INAF) dari BBB+ menjadi BBB-. Hal ini disebabkan dari penurunan margin profitabilitas yang kemudian menyebabkan perlindungan arus kas yang lemah, likuiditas yang ketat, dan risiko fluktuasi harga bahan baku.

Kata analis Pefindo Anis Setyanigrum, penurunan peringkat ini akan mulai diberlakukan pada 10 Juli 2014 hingga 1 Juli 2015,”Selain itu, naiknya harga bahan baku karena melemahnya nilai tukar rupiah serta ditambah peningkatan gaji pegawai," ujar Anis Setyanigrum.

Saat ini, tambah Anis, INAF hanya memiliki total kas sebesar Rp 22,5 miliar dengan kewajiban jangka pendek sebesar Rp 318,6 miliar."Kewajiban jangka pendeknya hinggatahun 2015 masih cukup besar dengan total Rp 318 miliar dan jumlah itu sudah termasuk Rp 120 miliar medium term notes (MTN) pada tanggal 20 Desember 2014 melalui pembiayaan perbankan atau melalui refinancing MTN serta fasilitas pembiayaan perbankan lainnya.Besar kewajibannya jangka pendek tersebut tidak didukung dengan jumlah kas yang memadai. Pasalnya, per 31 maret 2014 hanya mencapai Rp 22,5 miliar," jelas Anis. (bani)