Geliat Rupiah di Kala Ramadan dan Lebaran Tiba

Sabtu, 19/07/2014

Ada yang lebih dari kehadiran bulan Ramadhan dan Idul Fitri setiap tahunnya. Yaitu, adanya amalan khusus Ramadhan, termasuk puasa, salat Taraweh, membayar zakat, dan salat hari raya, hingga hall bi halal yang sudah mentradisi. Selain itu, belanja kebutuhan keluarga juga membengkak.

Membengkaknya kebutuhan itu antara lain membeli bahan makanan untuk berbuka dan makan sahur. Biasanya, menunya di luar kebiasaan atau ada menu ekstra. Soal ini, pemerintah menjamin pasokan kebutuhan bahan pokok pangan. Jaminan dilontarkan Menteri Pertanian Suswono maupun Menteri Perdagangan M Lutfie. Berhubungan permintaan meningkat, jangan heran jika terjadi kenaikan harga. Misalnya, daging sapi, ayam, cabe, bawang merang, bawang putih, beras, gula pasir, minyak goreng, terigu, telor ayam, juga kedelai.

Meskipun harga kebutuhan relatif stabil, namun Lutfie minta masyarakat perlu terus waspada seiring dengan kenaikan permintaan masyarakat yang cukup signifikan terutama menjelang Lebaran. “Tidak menutup kemungkinan akan terjadi kenaikan harga barang kebutuhan pokok, namun diharapkan kenaikan tersebut masih dalam batas normal karena ketersediaan pasokan barang kebutuhan pokok dipastikan aman hingga lebaran,” kata Lutfi, mantan kepala BKPM.

Belanja berikutnya untuk bersedekah dan membayar zakat. Untuk kedua belanja yang terakhir, dikatakan, dengan banyak bersedekah dan membayar zakat, baik zakat fitrah dan zakat mal, dalam keyakinan umat Islam, Tuhan menjamin, mereka tidak akan jatuh miskin, tapi justru akan dilipatgandakan hartanya.

Belanja ekstra lainnya adalah tradisi mudik, yaitu berkunjung ke rumah orangtua kita masing-masing. Belanja mudik ini termasuk menyedot anggaran besar, karena banyak yang harus dikeluarkan. Antara lain, untuk biaya transportasi pulang balik, konsumsi selama perjalanan, membeli oleh-oleh untuk keluarga di tempat tujuan. Bujet yang sering dilupakan adalah angpao untuk sanak famili.

Untuk belanja Ramadhan dan Lebaran 1435 Hijriyah tahun ini, Bank Indonesia (BI) memperkirakan, jumlah uang kartal, yaitu uang kertas dan uang logam yang beredar di masyarakat selama mencapai Rp 580,3 triliun atau mendekati setengah Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) Perubahan 2014 yang mencapai Rp 1.876,9 triliun. Jumlah itu naik signifikan sekitar 14,5% disbanding tahun lalu. Ketika itu BI mencatat sebesar Rp 506 triliun.

Menurut Direktur Eksekutif Departemen Pengelolaan Uang BI, Lambok Antonius Siahaan, belum lama ini, untuk mengantisipasi lonjak n permintaan uang kartal, BI pun menyediakan tambahan uang kartal hingga Rp 118,5 triliun. Uang itu meliputi uang pecahan Rp 20 ribuan sebanyak Rp 108,8 triliun dan uang pecahan yang nominalnya di bawah itu sebanyak Rp 9,6 triliun. Uang sebanyak itu akan disalurkan melalui 13 bank nasional.

Sarman Simanjorang, wakil ketua umum Kamar Dagang dan Industri (Kadin) DKI mengungkapkan, belanja sepanjang Ramadhan hingga Lebaran itu merupakan berkah bagi kalangan pengusaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM). Menurut dia, memang ada kenaikan omzet rutin tiap tahun. “Ya memang karena ada peningkatan kebutuhan konsumsi sepanjang puasa hingga Lebaran,” kata dia.

Sektor yang berharap dapat mengais rezeki Ramadhan dan Idul Fitri itu antara lain makanan, termasuk kue dan parsel, lalu garmen. “Potensi yang dapat dinikmati paling banter sekitar 25%, karena keterbatasan produksi dank arena sifatnya musiman,” tutu Sarman yang juga ketua umum Himpunan Pengusaha Pribumi Indonesia (Hippi) DKI Jakarta.

Belanja Besar

Yang justru panen besar saat ini, kata dia, adalah yang memproduksi barang sejenis, seperti industri makanan dan minuman, garmen, tas, sepatu. Dia memengarai, kenaikan omzet penjualan mereka sudah terlihat sejak dua bulan lalu. Dia membenarkan, belanja besar lainnya adalah untuk biaya mudik dan investasi.

Dia menambahkan, walaupun peredaran uang di masyarakat mencapai Rp 870 triliun, dia memperkirakan, belanja terbesar tidak di sektor konsumsi makanan dan minuman, juga garmen, tapi justru di sektor elektronik dan otomotif. “Jadi belanja besar saat Ramadhan dan Lebaran adalah untuk barang-barang elektronik dan otomotif, hal itu ditandai maraknya pembelian ponsel, tablet, android, maupun kendaraan bermotor, baik sepeda motor maupun mobil,” kata Sarman kepada Neraca.

Belanja kebutuhan keluarga bisa dipilah-pilah, yaitu yang sifatnya menunjang amalan Ramadhan dan Idul Fitri, serta kebutuhan ekstra yang sifatnya bukan keharusan. Jika kebutuhan ekstra itu tak bisa dikendalikan, akan menjadi pengeluaran yang mubazir dan cenderung pemborosan, dan bisa-bisa menjebol ketahanan kas keluarga.

Perencana keuangan syariah Ahmad Gozali dalam bukunya Puasa Kok Boros?, mengungkapkan, pemborosan dan jebolnya anggaran lebih diakibatkan oleh belanja impulsif (impulsive buying). Belanja impulsif, kata Gozali, adalah belanja di luar rencana anggaran karena didorong sikap emosional, bukan logika dan rasionalitas.

Dia mencontohkan, kita sering tergiur dengan harga diskon yang besar saat berbelanja di supermarket atau mal-mal. Padahal barang-barang itu tidak mendesak untuk dibeli. (bani saksono)