Pilpres Tidak Pengaruhi Investasi Langsung

Senin, 14/07/2014

NERACA

Jakarta - Kepala Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM) Mahendra Siregar mengatakan bahwa hasil pemilihan presiden tidak akan berdampak terhadap laju investasi langsung (direct investment) apalagi pilpres berjalan aman . "Kalau direct investor saya tak mendengar mereka ambil posisi wait and see," kata Mahendra Jakarta, Jumat (11/7), pekan lalu.

Menurutnya, laju investasi langsung hanya akan dipengaruhi oleh kondisi fundamental ekonomi Indonesia. Dalam hal ini pertumbuhan ekonomi, konsumsi masyarakat, dan lainnya. "Selama jawabannya membaik, tidak ada persoalan bagi mereka, jalan terus. Masalah pemerintah ganti wajar-wajar saja." Imbuhnya.

Sebelumnya, dia mengungkapkan bakal ada investasi asing langsung sebesar US$ 35 miliar mengalir masuk ke sektor pertambangan di Tanah Air. Syaratnya, renegosiasi seluruh kontrak pertambangan bisa selesai sesuai target, yakni, September mendatang.

"Dalam arti konsekuensi bagaimana kami menyelesaikan renegosiasi ini bisa menarik investasi sekitar itu. Tapi tentu bukan satu tahun," kata Mahendra.

Saat ini, tersisa 67 dari 107 pemegang kontrak karya pertambangan dan Perjanjian Karya Pengusahaan Pertambangan Batu Bara (PKP2B) yang belum menyepakati kontrak baru yang disodorkan pemerintah.

Sebelumnya Kepala Ekonom PT Bank Central Asia Tbk David Sumual Keputusan Mahkamah Konstitusi (MK) menetapkan pemilihan umum presiden (pilpres) satu putaran memberi kepastian investasi asing mulai masuk pada semester II 2014.

"Mereka saat ini masih ragu berinvestasi karena belum tahu program dan rencana pemerintah ke depan seperti apa, sehingga dari segi ekonomi belum ada kepastian. Dengan satu putaran berarti tanggal 9 Juli paling tidak investor sudah tahu presidennya dan itu memberi kepastian," katanya.

Dia mengatakan target pertumbuhan ekonomi 5,5 hanya bisa dicapai dengan mendorong konsumsi rumah tangga dan investasi.

Dengan pilpres berlangsung satu putaran maka pada 9 Juli 2014 diperkirakan kandidat calon presiden (capres) dan calon wakil presiden (cawapres) terpilih berdasarkan hitung cepat lembaga survei. Itu artinya, di semester II 2014 investasi langsung asing sudah mulai masuk lagi ke Indonesia. Sementara jika berlangsung dua putaran maka kepastian politik baru diperoleh bulan September 2014. Investor bisa menunda investasi hingga kuartal III 2014.

Dari sisi nilai tukar rupiah, pilpres dinilai tidak berpengaruh signifikan. Isu yang menyebutkan rupiah menguat atau melemah jika salah satu kandidat terpilih hanya akan berlangsung sementara. Dalam waktu satu bulan, rupiah akan kembali sesuai fundamental bergantung pada kondisi neraca perdagangan dan transaksi berjalan yang saat ini masih mengalami defisit.

"Bisa saja ada momentum positif atau negatif saat salah satu kandidat menang, tapi itu sementara saja. Investor akan lebih melihat fundamental kita yang masih bermasalah dan harus diperbaiki siapapun presidennya," kata dia.

sedangkan menurut Gubernur Bank Indonesia Agus Martowardojo mengyatakan dengan Pilpres 2014 berlangsung satu putaran maka akan lebih cepat memberi kepastian bagi pelaku usaha. Persaingan sengit dua kandidat capres, selama ini memberi ketidakpastian bagi investor sehingga membuat tekanan terhadap nilai tukar rupiah. Namun, komitmen kedua kandidat untuk melaksanakan pemilu secara damai memberi dampak yang positif bagi investasi.

Dia mengatakan fluktuasi nilai tukar rupiah ini selain akibat ketidakpastian politik, juga karena kebutuhan valas yang meningkat di pertengahan tahun."Di bulan Juni itu musiman ada pembayaran kewajiban luar negeri dalam bentuk repratiasi keuntungan, pembagian dividen, atau pembayaran bunga," katanya.

Kendati demikian, perekonomian nasional saat ini masih dalam kondisi sehat. BI berupaya menurunkan defisit transaksi berjalan dari tahun 2013 sebesar 3,26 persen terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) atau US$28,5 miliar menjadi di bawah 3 persen PDB atau lebih rendah dari US$29 miliar. [agus]