Mendukung dan Mengawal Hasil Pilpres 2014

Oleh : SV Farrah, Pemerhati Masalah Indonesia

Senin, 14/07/2014

Pemilihan Umum Presiden dan Wakil Presiden (Pilpres 2014) telah berjalan dengan aman, lancar, demokratis dan belum dilaporkan adanya kecurangan-kecurangan dalam pelaksanaannya yang selama ini selalu dikumandangkan oleh salah satu poros pendukung capres-cawapres.

Keberhasilan Pilpres 2014 yang berjalan dengan aman, kondusif dan terjaga dengan baik sebenarnya dapat menjadi “tamparan politik” bagi pihak-pihak yang selama ini menuding Pilpres 2014 akan berlangsung secara tidak aman, bahkan konon kelompok ini sampai membuat propaganda berbunyi “hanya kecurangan yang dapat mengalahkannya”.

Sekali lagi, keberlangsungan Pilpres 2014 yang mendapatkan pujian dari warga bangsa dunia bahkan menjadi trending topic dalam pembicaraan netizen di media sosial global harus diterjemahkan sebagai bentuk pencerminan dari netralitas aparat penyelenggara Pemilu, aparat keamanan, aparat penegak hukum dan bahkan aparat intelijen yang selama ini dicurigai terus menerus sebagai pihak yang selalu tidak netral dan tidak amanah dalam menjalankan tugasnya.

Bagaimanapun juga kelancaran pelaksanaan Pilpres 2014 juga membukti kita bersama sebagai anak bangsa Indonesia telah memenangkan pertaruhan demokrasi, karena kualitas demokrasi kita diperkirakan tidak akan memburuk selama 5 tahun ke depan. Siapapun yang memenangkan kontestasi Pilpres ini harus didukung, karena Pilpres 2014 diyakini bukan merupakan Pilpres yang bersifat hura-hura, bukan semata-mata pesta demokrasi, melainkan ajang untuk mendapatkan pemimpin sejati, walaupun harus kita akui keberhasilan Pilpres 2014 sangat tercoreng dengan keberadaan media massa (mainstream dan media sosial) yang partisan dan lembaga quick count ataupun exit poll partisan.

Tingkah polah media massa partisan ini cukup beragam, mulai dari tidak mengindahkan prinsip cover both sides, check recheck dan crosscheck dalam membuat pemberitaan juga telah membuat langkah-langkah blunder dengan membuat karikatur yang bersifat SARA, walaupun media massa berbahasa asing ini sudah meminta maaf kepada umat Islam, persoalannya apakah hanya sekedar minta maaf sudah cukup, apakah tidak perlu dilihat bagaimana track record “man behind the gun” dibelakang media-media partisan dan ideologi politiknya ini, karena karikatur, gambar, editorial ataupun berita sedikit banyak terkait dengan ideologi politik penulis/wartawan dan lembaga atau organisasi perusahaan pers tersebut, afiliasi politiknya kemana ? Untuk kepentingan sekelompok tertentu atau untuk kepentingan publik dan kepentingan nasional?

Salah satu media massa yang besar dan terkenal reputasinya dalam sebuah editorialnya juga pernah menulis bahwa kalau cara-cara kampanye hitam dan kampanye negatif terus menerus dikembangkan dan dibiarkan, berpotensi menuju konflik dan kerusuhan, kegairahan pada politik hasil terbesar reformasi runtuh. Demokratisasi terjerembab sebagai pembenaran tindakan machiavellis yang dengan mudah mengingatkan kenangan sisi positif otoritarianisme. Media massa cetak, elektronik dan digital berada dalam pusaran ini. Media sebagai bagian dari masyarakatnya menurut Marshal McLuhan berada dalam kondisi yang amat rentan, ibarat diatas wot ogal agil. Posisi dan jati diri media yang terbebas dari kepentingan-kepentingan politik praktis mendapatkan ujian berat. Independensi yang menjadi jati diri media terjebak dalam tataran pragmatis.

Media massa partisan lainnya yang juga mencederai Pilpres 2014, karena sangat tendensius dan culas dalam membuat editorialnya tanggal 8 Juli 2014 yang masih mengkritik habis-habisan salah satu capres, juga patut dipertanyakan netralitas dan profesionalismenya, serta patut diusut apakah penulis editorial atau tajuk rencana tersebut seorang Pemred atau redaktur pelaksana yang sudah lulus uji kompetensi wartawan atau belum, karena menurut penulis intisari tajuk rencana atau editorial tersebut lebih mirip kepada cover black campaign dibandingkan pencerahan kepada publik, amit-amit masih jauh dari kredo jurnalistik yaitu untuk kepentingan publik.

Menurut penulis, editorial atau tajuk rencana yang dibuat oleh salah satu media terkenal dan kredibel selama ini juga berarti “bisa ngomong tapi tidak sesuai perbuatan”, karena diakui atau tidak media massa ini juga telah berpihak kepada salah satu capres-cawapres, walaupun keberpihakannya selalu dikedepankan melalui “bahasa-bahasa bersayap”. Media ini dan media partisan lainnya telah gagal menjadi edukator bagi masayrakat, gagal memperjuangkan nilai-nilai universal kepentingan umum. Oleh karena itu, “pertobatan” yang dapat dilakukan kelompok media partisan pasca Pilpres, adalah bagaimana mereka sekarang ini dalam politik pemberitaan dan politik keredaksian terus memotivasi, mengajak, dan menyadarkan tentang perlunya mendukung apapun hasil Pilpres 2014 dan pemerintahan yang terpilih baik melalui pemberitaan ataupun tajuk rencana atau editorialnya.

Mengawal Hasil Pilpres

Diakui atau tidak, situasi dan kondisi keamanan nasional pasca Pilpres 2014 tampaknya aman dan kondusif, namun kita harus patut bertanya dan terus ikut memonitor situasi dan keadaan di lingkungan masing-masing, apakah benar-benar sudah kondusif atau tidak situasi dan kondisi keamanan, karena banyak kalangan yang memprediksi bahwa tensi politik dan keamanan akan tetap menghangat dan diperkirakan meninggi menjelang Hari H pengumuman hasil Pilpres 2014 pada 22 Juli 2014 mendatang, karena dapat kita perhatikan beberapa informasi yang beredar melalui blackberry messanger ataupun media sosial ternyata praktik kampanye hitam dan kampanye negatif masih terus berlangsung, dan saling mengklaim sebagai pemenang masih terjadi dengan menyebarkan informasi sepihak bahkan hoax yang mendiskreditkan lawan politiknya.

Sekarang, coba kita perhatikan bagaimana dengan lembaga-lembaga survei ataupun lembaga quick count dan exit poll yang sudah melakukan “hajatnya untuk memenuhi permintaan pemilik hajatan” ternyata mereka dengan seenaknya meninggalkan gelanggang politik setelah menebarkan kebencian diantara kedua kubu yang saling berkontestasi dalam Pilpers 2014. Kebencian dan ketegangan politik ini banyak yang memprediksi akan tetap berlangsung, karena Pilpres 2014 sebenarnya adalah “perang bandar”.

Oleh karena itu, sekarang ini tugas bersama kita sebagai anak bangsa adalah bagaimana menjaga, mengawal dan mendukung hasil Pilpres 2014 dan mendukung langkah dan kebijakan presiden dan wakil presiden yang sudah dipilih oleh rakyat tersebut. Kita berharap kedua kubu dapat menerapkan sikap kenegarawanan, mengelola dan memanage para simpatisan dan pendukungnya untuk tetap sabar, dapat menerima apapun keputusan dan pilihan rakyat yang akan diumumkan pada 22 Juli 2014 oleh KPU, serta dapat menerapkan prinsip agung “siap kalah, dan siap menang”. Kita adalah bangsa yang besar, beradab dan bersatu. Banyak bangsa lainnya yang iri dengan kemegahan bangsa ini, sehingga mereka banyak melakukan assymetric war terhadap Indonesia dengan beragam cara, dan puncaknya dilaksanakan sebelum, selama dan mungkin sesudah Pilpres 2014. Mereka tidak mau Indonesia menjadi negara besar, menjadi “pivotal” di Asia Pasifik, oleh karena itu mereka akan menggunakan segala cara baik beradab dan biadab (dengan menggunakan komprador asing di Indonesia) untuk merusak kita. Sekali lagi, kita jangan mudah terprovokasi, karena “bersatu kita teguh, bercerai tamat sudah Indonesia”. Waspadalah.***