Membuka Usaha, Jangan Takut Walau Pengalaman Minim

Sabtu, 12/07/2014

Takut akan kegagalan usaha seringkali mengemuka ketika usaha baru dimulai. Apalagi bagi kalangan pengusaha muda yang baru merintis usaha, minimnya pengalaman yang mereka miliki menghadirkan ketakutan untuk gagal.

Padahal seraharusnya hal itu tidak perlu terjadi, kalau ingin sukses. Tetapi tetap, semua harus dibarengi dengan kerjakeras yang konkret. Sehingga asa pemerintah untuk memperoleh angka pengusaha ideal sebesar 2% dari jumlah penduduk pun urung terlaksana. Untuk itu, ada beberapa hal yang harus diwaspadai para pengusaha muda.

Pertama, ada satu faktor yang membuat kalangan pengusaha muda gagal mengembangkan usaha mereka. Adalah faktor emosi dalam bekerja, biasanya kalangan anak muda selalu ingin terlihat lebih hebat dalam bisnis yang dibangun.

Umpamanya, dengan serta merta mereka merekrut banyak karyawan, memilih letak kantor di lokasi elit, furnitur dan perlengkapan kantor yang serba mewah. Padahal, semua itu bisa dimuali dengan yang sederhana-sederhana terlebih dahulu. Selain itu, mereka juga seharusnyafokus pada produk dan layanan yang akan mereka berikan.

Kedua, kaum muda sering kali terjebak dalam keadaan diaman mereka merasa kalau merekalah yang paling tahu segalanya. Akibatnya, mereka meremehkan hal-hal kecil yang sesungguhnya itu merupakan hal penting.

Misalnya, saat harus membayar pajak usaha, ada beberapa kondisi yang membuat perusahaan terkena denda. Supaya masalah tersebut dapat cepat selesai, mereka cenderung memakai jasa orang ketiga atau calo.

Hal ketiga adalah terkadang kaum muda tidak memedulikan apakah dirinya memperoleh gaji atau tidak. Hal ini akan berakibat kekacauan pada penempatan uang. Dimana, terkadang merasa sangat butuh uang, tanpa disadari, pemilik usaha mengambil uang perusahaan.

Pada intinya, perlu di pisahkan aset pribadi dan perusahaan. Akibatnya, saat terjadi masalah aset pribadi pun bisa ikut hilang, misalnya, untuk membayar utang. Karena itu, sangat disarankan untuk memisahkannya.

Jangan pula menggunakan uang perusahaan dengan tanpa perhitungan. Ada kalanya, saat usaha berjalan seperti harapan nafsu untuk membeli sebuah produk (pribadi) sangat menggoda. Yang seharusnya hanya membutuhkan komputer standar, malah membeli gadget lainnya. Jika ini diteruskan, akan ada ketimpangan dalam usaha yang bisa merusak potensi keuntungan membesarkan usaha.

Yang keempat, terlalu berpikir simpel dan “muluk”. Harapan memang harus tinggi, tetapi bukan berarti kita hanya menggantungkannya setinggi mungkin tanpa usaha meraihnya. Karena itu, dalam membuka usaha juga harus mengantisifasi kemungkinnan terburuknya.

Jangan karena saking semangatnya, anak-anak muda tidak sempat memperhitungkan kemungkinan terburuk usahanya. Karena mereka merasa optimistis akan sukses tanpa mempersiapkan jika terjadi hal-hal buruk nantinya.