BEI Catatkan Emisi Obligasi Rp 25,53 Triliun

Kamis, 10/07/2014

NERACA

Jakarta – Meskipun di tahun politik, lambat tapi pasti pasar obligasi terus tumbuh. Hingga saat ini, PT Bursa Efek Indonesia mencatat total emisi obligasi maupun sukuk yang diterbitkan sepanjang tahun ini mencapai Rp25,53 triliun, yang disumbang 25 emisi dari 25 emiten. Informasi tersebut disampaikan BEI dalam siara persnya di Jakarta, kemarin.

Disebutkan, total nilai penerbitan obligasi tersebut bertambah dengan dicatatkannya Obligasi I Pupuk Indonesia Tahun 2014 sebesar Rp1,699 triliun oleh PT Pupuk Indonesia. Obligasi itu terdiri atas dua seri, yakni seri A senilai Rp568 miliar dengan tenor 3 tahun dan seri B sebesar Rp1,131 triliun dengan tenor selama 5 tahun.

Sebelumnya juga telah dicatatkan Sekuk Mudharabah Berkelanjutan I Bank Internasional Indonesia (BII) Tahap I Tahun 2014 dan Obligasi Subordinasi Berkelanjutan II BII Tahap I Tahun 2014 yang diterbitkan Bank Internasional Indonesia Tbk (BNII). Nilai emisi Sukuk Mudharabah Berkelanjutan I BII Tahap I Tahun 2014 sebesar Rp300 miliar dengan tenor 3 tahun dan Obliasi Surbordinasi berkelanjutan II BII Tapai I Tahun 2014 senilai Rp1,5 triliun dengan tenor 7 tahun.

Dengan pencatatan ini, maka total emisi obligasi maupun sukuk yang tercatat di BEI sebanyak 255 emisi dari 108 emiten, dengan nilai nominal outstanding sebesar Rp217,82 triliun dan US$ 100 juta. Surat Berharga Negara (SBN) tercatat mencapai 92 seri sebesar Rp1.112,44 triliun dan US$ 540 juta serta lima Efek Beragun Asset (EBA) senilai Rp2,05 triliun.

Direktur Utama BondRI Tumpal Sihombing pernah bilang, pasar obligasi akan bergerak positif ketika sudah mendapatkan hasil dari Pemilihan Presiden (Pilpres). Karena sebelum pilpres, pasar obligasi bergerak cenderung mendatar lantaran tendensi BI rate yang tidak berubah, yield juga tak berubah bahkan untuk tenor yang 10 tahun cenderung mengalami penurunan menjadi 8,13%,”Akan tetapi semakin kesini para investor memberikan sentimen positif karena mereka para investor menilai pemenang dari pilpres sudah terlihat. Terlebih dengan keputusan Mahkamah Konstitusi (MK) untuk melakukan pemilihan presiden dalam satu putaran. Ini tentunya memberikan dampak positif terhadap pasar karena kalau semakin lama maka akan menimbulkan ketidakpastian,” ungkap Tumpal..

Untuk pasar obligasi pasca pilpres, Tumpal memandang ada dua perbedaan yang akan ditimbulkan dari masing-masing Capres dan Cawapres. Untuk Capres nomer urut satu, lanjut dia, pola kebijakan ekonomi akan tidak jauh berbeda dengan pola ekonomi yang telah berjalan 10 tahun terakhir sejak kepemimpinan Susilo Bambang Yudhoyono (SBY). “Hatta Rajasa adalah orang pemerintahan, apalagi dia (Hatta) yang mempromosikan Master Plan Percepatan Pembangunan Ekonomi Indonesia (MP3EI). Jadi saya rasa, ketika Capres nomer urut satu menang maka program MP3EI akan kembali digenjot dan dimaksimalkan,” katanya.

Sementara untuk Capres nomer urut dua, Tumpal menilai pola ekonomi akan jauh berbeda karena Capres tersebut lebih memaksimalkan potensi-potensi di daerah. Hal ini, kata dia, akan berjalan baik untuk pertumbuhan pembiayaan di daerah. “Antara ekonomi dan bonds itu terkait, artinya jika daerah semakin dikembangkan dan diberdayakan maka lembaga obligasi juga akan semakin berkembang dan ramai,” katanya. (bani)