Pasar Obligasi Masih Bergerak Positif

Menanti Hasil Pilpres

Rabu, 09/07/2014

NERACA

Jakarta – Hasil pemilu presiden (Pilpres) menjadi gambaran bari pelaku pasar untuk merencanakan bisnis kedepan. Kendatipun, pemilu tahun ini diyakini akan berjalan damai. Namun pelaku pasar dan investor lebih bersikap rasional, terlebih dalam menerbitkan obligasi.

Menurut Direktur Utama BondRI Tumpal Sihombing, pasar obligasi akan bergerak positif ketika sudah mendapatkan hasil dari Pemilihan Presiden (Pilpres). Karena sebelum pilpres, pasar obligasi bergerak cenderung mendatar lantaran tendensi BI rate yang tidak berubah, yield juga tak berubah bahkan untuk tenor yang 10 tahun cenderung mengalami penurunan menjadi 8,13%,”Akan tetapi semakin kesini para investor memberikan sentimen positif karena mereka para investor menilai pemenang dari pilpres sudah terlihat. Terlebih dengan keputusan Mahkamah Konstitusi (MK) untuk melakukan pemilihan presiden dalam satu putaran. Ini tentunya memberikan dampak positif terhadap pasar karena kalau semakin lama maka akan menimbulkan ketidakpastian,” ungkap Tumpal saat dihubungi Neraca, kemarin.

Untuk pasar obligasi pasca pilpres, Tumpal memandang ada dua perbedaan yang akan ditimbulkan dari masing-masing Capres dan Cawapres. Untuk Capres nomer urut satu, lanjut dia, pola kebijakan ekonomi akan tidak jauh berbeda dengan pola ekonomi yang telah berjalan 10 tahun terakhir sejak kepemimpinan Susilo Bambang Yudhoyono (SBY). “Hatta Rajasa adalah orang pemerintahan, apalagi dia (Hatta) yang mempromosikan Master Plan Percepatan Pembangunan Ekonomi Indonesia (MP3EI). Jadi saya rasa, ketika Capres nomer urut satu menang maka program MP3EI akan kembali digenjot dan dimaksimalkan,” katanya.

Sementara untuk Capres nomer urut dua, Tumpal menilai pola ekonomi akan jauh berbeda karena Capres tersebut lebih memaksimalkan potensi-potensi di daerah. Hal ini, kata dia, akan berjalan baik untuk pertumbuhan pembiayaan di daerah. “Antara ekonomi dan bonds itu terkait, artinya jika daerah semakin dikembangkan dan diberdayakan maka lembaga obligasi juga akan semakin berkembang dan ramai,” katanya.

Terkait dengan IHSG, menurut dia, pergerakan IHSG tidak terlepas dari pertumbuhan ekonomi. “Untuk di 2014, pertumbuhan ekonomi cenderung moderat karena siklus ekonominya dan situasi politik karena ada Pilpres. Sementara untuk 2015, kondisi bisa dilihat jika stabilitas ekonomi bisa dijaga dengan pemerintahan yang baru. Kalau stabilitas tidak bisa dijaga, maka hal itu akan mempengaruhi pergerakan IHSG yang bakal anjlok,” pungkasnya.

Sebelumnya, Sekretaris Umum Forum Komunikasi Certified Securities Analyst (CSA), Reza Priyambada pernah bilang, pasar obaligasi saat ini tidak hanya dibanyangi hasil dari pilpres mendatang, tetapi juga dibayangi laju nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat yang terus bergerak fluktuatif,”Aksi mengamankan posisi dan menjauhi pasar berpotensi terjadi jika pelaku pasar menilai hasil dari pilpres tersebut tidak sesuai harapan,”ujarnya. (bari)