Juli Saat Tepat Eksportir Lepas Udang ke Pasar Global

Pemasaran Hasil Perikanan

Selasa, 08/07/2014

NERACA

Jakarta –Direktur Jenderal Pengolahan dan Pemasaran hasil Perikanan Kementerian Kelautan dan Perikanan, Saut Hutagalung, mengatakan saat ini adalah masa paling tepat untuk mengekspor udang yang merupakan komoditas unggulan Indonesia.

"Saat ini adalah 'timing' (waktu, red) yang pas melepas ekspor," kata Saut Hutagalung di Jakarta dalam keterangan tertulis sebagaimana dikutip Neraca dari laman Antara, Senin. Menurut dia, ekspor udang pada periode April-Juni dan Juli-September 2014 diperkirakan naik dibandingkan periode yang sama tahun 2013.

Saut juga mengingatkan bahwa pada akhir Juni hingga awal Juli 2014 ditandai dengan harga udang yang merangkak naik walau pelan tapi pasti. Selain itu, lanjutnya, nilai tukar kurs mata uang rupiah ke dolar AS saat ini juga dinilai positif dalam mendorong ekspor. "Agar interaksi hulu dan hilir berjalan baik, para eksportir diimbau mempertimbangkan cermat Juli melepas ekspor," katanya.

Dia berpendapat, untuk tahun 2014, waktu Juli sampai dengan Oktober tahun 2014 harus dimanfaatkan betul dengan baik. Jika sampai sekitar bulan September atau Oktober tidak juga ekspor maka dinilai habislah kesempatan untuk ekspor komoditas udang tahun 2014.

"Di sinilah diuji 'Ke-Indonesiaan' kita khususnya industri perudangan Indonesia apakah masih lebih mengutamakan kepentingan perusahaan sendiri saja atau kepentingan bersama sebagai industri perudangan Indonesia yang bersatu bersaing di pasar dunia. Inilah 'Indonesia Incorporated' itu," tegasnya.

Sedangkan memasuki masa liburan lebaran, ia menganjurkan petambak memanen tambak di awal bulan puasa dan membiarkan tambak beberapa hari ke depan dikeringkan untuk perbaikan kondisi teknis tambak sekaligus juga menekan potensi penyakit.

Berdasarkan data BPS, secara kumulatif nilai ekspor hasil perikanan Indonesia Januari-Maret 2014 mencapai 1,07 miliar dolar AS atau naik 17,07 persen dibandingkan periode yang sama tahun 2013. Nilai ekspor komoditas udang pada periode triwulan I 2014 naik 69 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.

"Produk yang memberikan kontribusi nilai ekspor tertinggi pada periode Januari-Maret 2014 yakni udang sebesar 476,59 juta dolar AS atau naik 69,93 persen dibandingkan periode yang sama 2013 sebesar 285,35 juta dolar AS," kata Saut.

Saut juga mengungkapkan, nilai ekspor udang memberikan kontribusi 44,71% terhadap total nilai ekspor sektor kelautan dan perikanan dan nilai kontribusi udang tersebut naik dari 31,33 persen pada periode Januari-Maret 2013.

Menurut negara tujuan ekspor, ujar dia, pasar Amerika Serikat dan Jepang merupakan tujuan ekspor terbesar. Nilai ekspor ke Amerika Serikat pada periode Januari-Maret 2014 437,30 juta dolar AS atau 41,03 persen dari total nilai ekspor. "Peningkatan ini didominasi oleh produk udang yang meningkat sebesar 126 persen setelah EMS terjadi di Vietnam, Thailand, Tiongkok dan negara lainnya," katanya.

Sebelumnya, sejumlah lembaga swadaya masyarakat menginginkan pemerintah Indonesia perlu memperhatikan kasus produk udang Thailand yang dilarang memasuki pasar AS dan Eropa karena diduga terkait dengan kasus perbudakan dalam rantai perdagangan ikan.

Siaran pers bersama LSM Southeast Asia Fisheries for Justice Network, Koalisi Rakyat untuk Keadilan Perikanan, serta Pusat Kajian Pembangunan Kelautan dan Peradaban Maritim menyebutkan, produk udang Thailand dilarang memasuki pasar negara-negara tersebut lantaran produksi pakannya dari hasil perbudakan.

LSM yang mengutip media massa Guardian asal Inggris itu menyatakan sedikitnya 20 pekerja di kapal perikanan Thailand meninggal dunia akibat praktek perbudakan yang berlangsung antara lain dalam bentuk rupa bekerja selama 20 jam, pemukulan, dan penyiksaan.

Hal terpenting lainnya adalah pemerintah harus mengambil pelajaran dari kasus 2004, ketika produk udang Indonesia diembargo oleh pasar Amerika Serikat dikarenakan aktivitas re-ekspor dari Tiongkok.

Selain Indonesia, Thailand, Ekuador, India, Vietnam dan Brasil juga mengalami hal yang sama. Saat itu, Tiongkok memanfaatkan pasar Indonesia sebagai jembatan untuk mengekspor produk udangnya ke Amerika Serikat.

Akibatnya, pada pertengahan Januari 2004, beberapa peti kemas udang dari Indonesia ditolak di Amerika Serikat dikarenakan bukan produksi Indonesia. Komoditas itu sebelumnya diimpor dari Tiongkok, lalu dire-ekspor ke Amerika Serikat.

Kementerian Kelautan dan Perikanan terus mendorong ekspor beragam komoditas sektor kelautan dan perikanan ke Tiongkok dan Vietnam yang merupakan dua negara yang jumlah peningkatan nilai ekspornya mengalami kemajuan terpesat.

"Peningkatan nilai ekspor terbesar periode Januari-Maret 2014 terjadi ke negara Tiongkok dan Vietnam," kata Direktur Jenderal Pengolahan dan Pemasaran Hasil Perikanan Saut.

Saut memaparkan, nilai ekspor ke Tiongkok mencapai 103,67 juta dolar AS atau meningkat 13,42 persen dibandingkan periode yang sama tahun 2013. Sedangkan nilai ekspor ke Vietnam mencapai 27,36 juta dolar AS periode Januari-Maret 2014 atau meningkat 32,43 persen dibandingkan periode sama tahun 2013.

"Produk ekspor yang meningkat ke Tiongkok adalah ikan bawal, ikan kerapu, rumput laut, belut dan layur, sedangkan ekspor yang meningkat ke Vietnam adalah udang, rumput laut, kepiting dan ikan hias," katanya.

Sebelumnya, kantor berita AFP pada Jumat (27/6) melaporkan pertumbuhan ekonomi Vietnam meningkat pada semester pertama tahun 2014, yang mengindikasikan dampak kerusuhan anti Tiongkok tidak seburuk yang dikhawatirkan.

Produk Domestik Bruto (PDB) meningkat 5,18 persen pada Januari-Juni dari periode yang sama tahun 2013, menurut perkiraan Kantor Umum Statistik Vietnam, naik dari 4,9 persen pada periode yang sama tahun 2013.

Vietnam dilanda kerusuhan mematikan setelah Tiongkok memindahkan anjungan minyak ke perairan yang diklaim oleh Vietnam, menyulut hubungan yang mudah tersinggung antara dua negara bertetangga tersebut.

Namun, perusahaan Taiwan dan Korea terkena dampak paling keras oleh kerusuhan tersebut, yang melihat pabrik-pabrik mereka dirusak dan dibakar di wilayah Vietnam bagian selatan dan tengah. Pemerintah Vietnam telah menawarkan kompensasi kepada perusahaan yang terkena dampak dengan pemotongan tarif dan penyelesaian klaim asuransi yang cepat.