Reksa Dana Syariah Capai Rp 9,17 Triliun

Selasa, 08/07/2014

Otoritas Jasa Keuangan mencatat, dana keloaan reksa dana syariah hingga pada 27 Juni tahun ini mencapai sebesar Rp9,17 triliun. Angka ini hanya naik tipis sekitar Rp210 miliar dibanding kuartal I sebesar Rp8,96 triliun.Informasi tersebut disampaikan OJK dalam laman resminya di Jakarta, kemarin.

Disebutkan, dana kelolaan reksa dana syariah pada kuartal I tercatat sebesar Rp8,96 triliun. Naiknya total dana kelolaan tersebut dikontribusi dari bertambahnya jumlah reksa dana berbasis syariah menjadi 65 reksa dana dari sebelumnya 64 reksa dana syariah.

Reksa dana syariah yang memberi kontribusi terbesar adalah reksa dana syariah berbasis saham, diikuti reksa dana syariah berbasis campuran dan di posisi ketiga adalah reksa dana syariah berbasis terproteksi. Kemudian berasal dari reksa dana syariah berbasis pasar uang dan reksa dana syariah berbasis indeks.

Adapun total dana kelolaan tersebut dikontribusi dari reksa dana syariah berbasis campuran sebesar Rp1,75 triliun, reksa dana syariah berbasis terproteksi sebesar Rp1,12 triliun dan reksa dana syariah berbasis saham mencapai Rp5,48 triliun. Sedangkan reksa dana syariah berbasis indeks sebesar Rp7,22 miliar dan reksa dana syariah berbasis pasar uang sebesar Rp277,79 miliar.

Sebelumnya, analis Millenium Danatama Asset Management Desmon Silitonga pernah bilang, inflasi di bulan Ramadhan dan Lebaran menjadi penentu kinerja reksa dana pada kuartal ketiga, disamping suku bunga bank, “Data inflasi kemarin yang di rilis Badan Pusat Statisti, kedua faktor ini cukup stabil dan itu sedikit banyak memberikan dampak positif pada kinerja reksa dana,”ujarnya.

Kendati demikian, dia memperkirakan, tekanan inflasi pada kuartal III akan lebih tinggi dibanding kuartal sebelumnya karena adanya Ramadan dan Lebaran. Oleh sebab itu, menurut dia, pemerintah dan Bank Indonesia (BI) harus bisa mengeluarkan kebijakan untuk memitigasi tekanan inflasi dan defisit transaksi berjalan, tanpa menaikkan suku bunga.“Karena (menaikkan suku bunga) itu akan berdampak negatif ke pasar keuangan, yang akhirnya dapat mempengaruhi kinerja reksa dana,” ujarnya. (bani)