Astra Agro Bangun Tiga Pabrik Baru

Imbas Permintaan CPO Tinggi

Senin, 07/07/2014

NERACA

Jakarta - Membaiknya harga serta tingginya permintaan pasar baik dalam maupun luar negeri terhadap minyak sawit mentah (Crude Palm Oil/CPO), membuat PT Astra Agro Lestari Tbk (AALI) menyiapkan dana investasi lebih tahun ini dibanding tahun sebelumnya.

Head of Public Relations AALI Tofan Mahdi kalau tahun 2012 itu perseroan menganggarkan belanja modal atau capital expenditure (capex) hanya sebesar Rp 2,8 triliun, untuk tahun ini AALI menyiapkan dana hingga Rp 3,5 triliun atau lebih besar 20%. Adapun sumber pendanaan capex tahun 2014, menurut Tofan, mayoritas disumbang dari kas internal perusahaan, dan sisanya dari pinjaman perbankan. "Kas kami masih kuat untuk membiayai capex tahun ini," kata Tofan di Jakarta, kemarin.

Dia menjelaskan, sejak Januari hingga Maret 2014, dana capex yang sudah terserap sebesar Rp 716 miliar. Adapun, alokasi dana capex itu paling besar untuk pembangunan pabrik kelapa sawit baru dan pelabuhan, totalnya mencapai Rp 297 miliar. "Sedangkan realisasi capex itu untuk menunjang bisnis AALI baik plantation sekitar Rp 232 milia, dan sisanya digunakan untuk mendukung bisnis perseroan yang non plantation," ungkap Tofan.

Tofan mengaku, di semester II 2014 ini, perseroan akan menambah 3 pabrik lagi. Padahal, saat ini pihaknya sudah memiliki total 26 pabrik kelapa sawit dengan kapasitas 1.280 ton per jam. Ketiga pabrik kelapa sawit tersebut terletak di Kalimantan Tengah, Kalimantan Timur, dan Sulawesi Barat. "Total kapasitas masing-masing pabrik itu sebesar 45 ton per jam," ucapnya.

Terkait kinerja, Tofan optimis perseroan dapat mencatat kinerja yang menggembirakan pada tahun ini. Karena di triwulan pertama 2014 saja, produsen sawit milik Grup Astra ini berhasil mencatat laba bersih sebesar Rp 784,6 miliar, melonjak melonjak 120,2% jika dibandingkan dengan periode yang sama tahun sebelumnya sebesar Rp 356,4 miliar. Kenaikan laba bersih diikuti oleh pendapatan yang tumbuh sebesar 36,8% pada triwulan pertama 2014 menjadi Rp 3,72 triliun dari Rp 2,73 triliun di triwulan pertama 2013. "Kami optimis dapat membukukan kinerja lebih baik pada tahun ini. Mengingat harga CPO yang membaik dan dampak El Nino yang belum signifikan pada semester I 2014 ini," tegasnya.

Sebelumnya, Dewan Minyak Sawit Indonesia (DMSI) pernah bilang, pihaknya optimistis harga CPO di pasar dunia bakal meningkat menuju US$ 1.000 per ton dalam beberapa waktu ke depan. Saat ini, harga CPO di pasar Rotterdam mulai menyentuh angka US$ 980 per ton. "Harga ini bisa dibilang paling tinggi dalam beberapa bulan terakhir, karena biasanya harga CPO hanya bermain di angka US$ 800 hingga US$ 950 per ton," kata Ketua DMSI Derom Bangun.

Menurutnya, kenaikan harga CPO di pasar global ini dipicu oleh kekhawatiran sejumlah kalangan akan adanya musim kering di negara-negara produsen sawit seperti Malaysia dan Indonesia. Diperkirakan, produksi CPO bakal anjlok akibat iklim kering itu, sehingga mengerek harga CPO di pasar dunia.

Kemudian, kenaikan harga CPO tersebut juga dipengaruhi kebijakan pemerintah untuk mencampur biodiesel dengan bahan bakar solar dalam negeri. Otomatis, produk CPO Indonesia yang sebelumnya banyak di ekspor, kini harus berbagi demi pemenuhan kebutuhan biodiesel dalam negeri. Dampaknya, harga di pasar global pun makin melambung. (bani)