Ketidakstabilan Rupiah Menjelang Pilpres - Oleh: Sorta Pandiangan SE, Pemerhati Pendidikan- Sosial-Ekonomi Kemasyarakatan

Beberapa hari belakangan ini, khususnya menjelang pelaksanaan pilpres, nilai mata uang kita, yaitu rupiah seperti limbung menghadapi berbagai gejolak dunia yang terjadi belakangan ini. Bahkan nilai rupiah sempat menyentuh angka 12.000 per dolar alias terendah dalam empat bulan belakangan.

Krisis politik di Ukraina dan Irak, yang membuat harga minyak melambung menjadi US$ 123 per barel, tak pelak mempengaruhi pelemahan rupiah. Naiknya harga minyak dunia membuat angka subsidi bahan bakar di dalam negeri kian membengkak. Di sisi lain, ada kekhawatiran di kalangan investor dunia bahwa pemerintah Amerika Serikat akan kembali mengurangi stimulus moneter alias tapering off karena situasi ekonomi Negeri Abang Sam kian membaik. Kebijakan itu akan membuat dana yang selama ini membanjiri pasar berkurang. Belum cukup, Bank Sentral Amerika juga akan menaikkan suku bunga sebesar 0,25 persen menjadi 1 persen.

Dua kebijakan itu jelas akan membuat dolar berbondong-bondong kembali ke negara asalnya. Gejolak dunia memang berpengaruh kuat terhadap rupiah. Tapi kita tak boleh menutup mata bahwa kuat-lemahnya nilai rupiah terhadap dolar sesungguhnya adalah cermin fundamental ekonomi Indonesia sendiri. Jika fundamental ekonomi kuat, rupiah tak akan gampang goyah. Sebaliknya, jika fundamental ekonomi lemah, rupiah akan mudah limbung menghadapi guncangan kecil sekalipun.

Rupiah kita sesungguhnya merupakan refleksi wajah kita sendiri. Sayangnya, harus kita akui bahwa fundamental ekonomi Indonesia saat ini memang sedang loyo. Penyebabnya terutama adalah triple deficit, defisit perdagangan, defisit transaksi berjalan, dan defisit anggaran. Dalam kondisi itu, upaya intervensi di pasar uang tak ubahnya “menggarami lautan”. Bisa-bisa cadangan devisa yang kini mencapai US$ 107 miliar malah akan berkurang sia-sia.

Sementara itu, Menteri Keuangan Chatib Basri memperkirakan pergerakan nilai tukar rupiah terhadap dolar AS akan kembali stabil usai penyelenggaraan pemilihan umum presiden pada 9 Juli 2014. “Setelah pemilu 9 Juli berakhir, rupiah akan membaik,” katanya saat ditemui di Jakarta, Jumat (27/6).

Chatib mengatakan kepastian adanya pemimpin baru dan penyelenggaraan pemilihan umum yang aman, akan membuat para pelaku pasar kembali tenang, karena saat ini investor masih menyimpan kekhawatiran atas jalannya pemilihan umum. “Mereka bertanya, pemilu dampaknya bagaimana, kalau ini menang bagaimana, kira-kira apakah policy-nya akan berubah? Isunya adalah itu,” katanya. Chatib mengatakan para pelaku pasar luar negeri menaruh minat atas keberlangsungan pesta demokrasi di Indonesia, dan mereka mengharapkan adanya hasil pemilihan umum yang tidak menimbulkan sengketa.

Seperti Lingkaran Setan

Sialnya, melemahnya rupiah dan defisit anggaran seperti lingkaran setan. Tiap kali rupiah melemah 1.000, defisit anggaran membengkak sebesar Rp 3-4 triliun. Maka sudah tepat langkah pemerintah membuat Anggaran Perubahan 2014 yang lebih ramping. Asumsi nilai rupiah 10.500 per dolar pun diubah menjadi 11.700 per dolar. Dengan perubahan asumsi itu, defisit anggaran yang semula diperkirakan bisa mencapai Rp 472 triliun dapat dikempiskan menjadi Rp 251,7 triliun. Jumlah itu sesuai dengan amanah UU APBN.

Setelah pelemahan rupiah, kini muncul kekhawatiran, rupiah bakal terus melemah dan memengaruhi berbagai lini perekonomian di Tanah Air. Kekhawatiran itu makin bertambah karena sejauh ini belum ada tanda-tanda pemerintah melalui bank sentral turun tangan menahan agar pelemahan tak berlanjut. Pelemahan pada saat sekarang diyakini bersifat sementara. Para analis umumnya sepakat bahwa pelemahan nilai tukar rupiah didorong oleh tiga faktor, yakni permintaan dolar AS yang tinggi untuk membayar utang, repatriasi keuntungan, serta lonjakan harga minyak dunia.

Hingga akhir Juni permintaan atas dolar AS meningkat akibat ada utang swasta yang jatuh tempo. Di samping itu, repatriasi atau pembayaran dana hasil keuntungan atau dividen penanaman modal asing triwulan II 2014 masih berlangsung, sehingga kebutuhan atas dolar AS pun naik. Harga minyak dunia yang cenderung naik membuat dolar AS diburu investor karena mata uang itu dinilai aman. Ditambah dengan data terkini yang menunjukkan perekonomian AS membaik.

Ketidakstabilan mata uang itu akan mengganggu kinerja ekonomi secara keseluruhan. Rupiah yang fluktuatif dalam rentang lebar sangat mengganggu kegiatan produksi dan penentuan harga barang serta jasa yang bermuara pada inflasi yang sulit diprediksi ke depan.

Susah Dikendalikan

Harus diakui, sejak rezim mata uang mengambang diterapkan pada kuartal III 1997, pergerakan rupiah makin susah dikendalikan oleh bank sentral. Rupiah akan kuat kalau masalah-masalah itu diselesaikan. Tekanan sentimen lokal, khususnya perkembangan politik menjelang pemilihan presiden pada 9 Juli yang menimbulkan ketidakpastian, juga dipandang sebagai faktor pelemahan rupiah.

Ketidakpastian yang cukup tinggi menyebabkan investor menahan diri untuk masuk ke Indonesia sehingga rupiah melemah. Kompetisi ketat dan keras antara Prabowo Subianto-Hatta Rajasa dengan Joko Widodo-Jusuf Kalla menimbulkan tafsir ketidakpastian. Komponen yang terancam akibat pelemahan rupiah adalah anggaran subsidi Bahan Bakar Minyak (BBM).

Dari pagu sebesar Rp 246,5 triliun, anggaran subsidi diperkirakan akan melonjak mengingat kebutuhan BBM di dalam negeri masih dominan impor. Jika terus melemah, maka anggaran subsidi BBM akan terus naik lewati pagu. Menilik berbagai faktor pelemahan rupiah, khususnya faktor politik, maka rupiah yang terus melorot adalah peringatan keras bagi seluruh elemen. Langkah BI tetap mempertahankan rezim suku bunga tinggi untuk mengerem defisit perdagangan juga patut diapresiasi. Kebijakan itu terbukti mampu menurunkan defisit perdagangan pada kuartal pertama 2014 menjadi 2,06 persen, dari sebelumnya 3,85 persen pada kuartal keempat 2013.

Dalam situasi sekarang, memang tak banyak instrumen yang bisa dilakukan untuk memperkuat rupiah. Agar rupiah tak gampang loyo, di masa depan pemerintah harus memperbaiki neraca perdagangan komoditas dan jasa agar surplus. Ekspor komoditas hasil sektor manufaktur harus ditingkatkan. Saat ini ekspor hasil manufaktur Indonesia hanya sebesar 15 persen, tertinggal jauh dibanding ekspor manufaktur Thailand, yang mencapai 59 persen dari total ekspornya. Dengan fundamental ekonomi yang lebih kuat, rupiah niscaya akan lebih berotot dan tahan guncangan. Oleh karena itulah, maka kita berharap agar pemerintah segera mengambil langkah-langkah penting dalam menstabilkan nilai rupiah saat ini. (analisadaily.com)

Related posts