Realisasi Belanja Modal Rendah, Menkeu Tak Khawatir

NERACA

Jakarta - Menteri Keuangan Chatib Basri mengaku tidak khawatir realisasi belanja modal hingga awal Juni 2014 masih tercatat rendah dan baru mencapai Rp20,4 triliun atau 11,1% dari pagu dalam APBN sebesar Rp184,2 triliun.

"Memang ada perlambatan dalam belanja modal, tapi kita sedang melakukan pengetatan, kalau tidak defisitnya tinggi," katanya di Jakarta, kemarin.

Chatib mengatakan realisasi belanja modal akan meningkat pada triwulan III dan IV tahun ini, karena Kementerian dan Lembaga (K/L) biasanya baru melakukan pencairan dana untuk pembayaran proyek yang sudah ditenderkan, menjelang akhir tahun.

Selain itu, belanja modal yang masih rendah ini merupakan keuntungan, karena dapat mempermudah upaya pemerintah untuk menjaga kesinambungan fiskal dan menahan defisit anggaran tidak melampaui 2,5% terhadap PDB.

"Nanti penyerapannya paling tinggi di kuartal tiga dan empat. Dan biasanya nanti defisitnya meningkat tajam di akhir-akhir. Memang fiskalnya lebih ketat, karena 'by design', karena kalau tidak begitu saya tidak bisa mengamankan anggaran," katanya.

Berdasarkan data Kementerian Keuangan per akhir Mei 2014, realisasi pendapatan negara telah mencapai Rp572 triliun atau 34,3% dari target Rp1.667,1 triliun dan belanja negara mencapai Rp605,7 triliun atau 32,9% dari pagu Rp1.842,5 triliun.

Dengan demikian defisit anggaran baru tercatat mencapai Rp33,7 triliun atau 19,2% dari target dalam APBN sebesar Rp175,4 triliun. Jumlah defisit tersebut sekitar 0,32% terhadap PDB, dari target 1,69% terhadap PDB.

Dari pendapatan negara, realisasi penerimaan perpajakan telah mencapai Rp442,3 triliun atau 34,5% dari target Rp1.280,4 triliun dan penerimaan negara bukan pajak mencapai Rp129,2 triliun atau 33,5% dari target Rp385,4 triliun.

Sementara dari belanja negara, realisasi belanja pemerintah pusat mencapai Rp375,8 triliun atau 30,1% dari pagu Rp1.249,9 triliun dan transfer ke daerah mencapai Rp229,9 triliun atau 38,8% dari pagu Rp592,6 triliun.

Realisasi belanja subsidi energi mencapai Rp131,2 triliun atau 46,5% dari pagu Rp333,7 triliun, yang terdiri dari subsidi BBM Rp100,8 triliun atau 47,9% dari pagu Rp210,6 triliun dan subsidi listrik Rp30,3 triliun atau 42,5% dari pagu Rp71,4 triliun. [ardi]

BERITA TERKAIT

Kesadaran Masyarakat dalam Perencanaan Dana Pensiun Masih Rendah

  NERACA   Surabaya - Manulife Indonesia menyebutkan kesadaran masyarakat Indonesia dalam perencanaan dana pensiun masih rendah, karena dari total…

Obligasi Perdana JBL Direspon Antusias Investor - Tercatat di Pasar Modal

NERACA Jakarta - PT Bursa Efek Indonesia (BEI) mencatatkan obligasi perdana milik PT Jakarta Lingkar Baratsatu (JLB) di papan perdagangan.…

Realisasi Penyaluran KUR 70,9% - Sampai Agustus 2018

      NERACA   Jakarta - Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian mencatat jumlah penyaluran KUR hingga 31 Agustus 2018 mencapai…

BERITA LAINNYA DI INFO BANK

Mandiri Inhealth Tingkatkan Kualitas Layanan - HUT Ke 10

    NERACA   Bogor - Menyambut Hari jadinya yang ke 10 pada 6 Oktober mendatang PT Asuransi Jiwa Inhealth…

BNI Dukung Perhelatan Asian Para Games 2018

  NERACA   Jakarta - PT Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk (BNI) kembali berpartisipasi sebagai Official Prestige Digital Banking Partner…

Industri Asuransi Jiwa Optimistis Pertumbuhan Unit Link

  NERACA   Denpasar - Perusahaan asuransi jiwa Prudential Indonesia optimistis pertumbuhan produk asuransi jiwa yang menggabungkan investasi atau "unit…