Beli Mesin Bor, Acset Raih Pinjaman Rp 250 Miliar

Kamis, 03/07/2014

NERACA

Jakarta –Emiten konstruksi, PT Acset Indonusa Tbk (ACST) mendapatkan total fasilitas pinjaman sebesar Rp250 miliar dari PT Bank Danamon Tbk (BDMN). Informasi tersebut disampaikan perseroan dalam siaran persnya di Jakarta, kemarin.

Disebutkan, perjanjian pinjaman antara kedua pihak telah dilakukan pada awal bulan ini atau 1 Juli 2014. Adapun, fasilitas pinjaman itu terdiri atas fasilitas term loan (kredit angsuran berjangk/KAB) senilai Rp100 miliar sublimit dengan fasilitas Sight Letter of Credit (L/C) dan/atau Usance Letter of Credit (L/C).

Pinjaman ini memiliki jangka waktu selama 3 tahun terhitung tanggal penarikan pinjaman. Pinjaman ini akan digunakan perseroan untuk pembelian piling dan mesin bor dan/atau alat-alat berat lainnya. Sementara fasilitas pinjaman berikutnya, yakni Omnibus Trade (kredit berjangka/KB) senilai Rp150 miliar, sublimit dalam bentuk fasilitas working capital, bank garansi dan/atau Standby Letter of Credit (Standby L/C), Sight Letter of Credit (L/C) dan/atau Usance Letter of Credit (L/C).

Adapun jangka waktu pinjaman ini 1 tahun sejak ditandatanganinya perjanjian. Fasilitas pinjaman ini akan digunakan perusahaan untuk modal kerja. Sebagai informasi, tahun ini perseroan membidik pendapatan sebesar Rp1,3 triliun atau naik 28,7% dari tahun lalu sebesar Rp1,01 triliun. Sedangkan laba bersih ditargetkan Rp121,5 miliar atau naik 21,5% dari realisasi 2013 sebesar Rp100 miliar.

Tercatat sampai dengan pertengahan Juni tahun ini, perseroan berhasil mencatatkan kontrak baru sebesar Rp370 miliar. Pencapaian kontrak baru tersebut bertumpu pada beberapa proyek swasta, seperti gedung bertingkat dan apartemen.

Direktur Keuangan Acset Indonusa, Agustinus Hambadi pernah bilang, perolehan kontrak sampai sekarang baru mencapai sekitar 24,67% dari target tahun ini sebesar Rp1,5 triliun. Dimana kontrak tersebut terdiri dari pondasi dan kontruksi, tercatat pondasi sebesar Rp250 miliar dan sementara sisanya sekitar Rp120 miliar dari konstruksi,”Untuk pondasi kami ada di Thamrin Nine Phase 2, Taman Anggrek Residence, TCC Batavia Tower 2 serta Gayanti City,”ujarnya.

Sementara untuk proyek konstruksi, dia menuturkan, Harris Hotel dan Yello Hotel. Menurut dia, meskipun perolehan kontrak baru belum mencapai 50%, namun perseroan optimistis raihan kontrak baru tahun ini dapat tercapai. Maka untuk mencapai target tersebut, perseroan menganggarkan belanja modal (capital expenditure/capex) tahun ini sebesar Rp60 miliar.

Disebutkan, sumber pendanaan belanja modal berasal dari pinjaman perbankan dan kas internal. Rencananya, belanja modal tersebut akan digunakan untuk pembelian alat berat dan pengembangan usaha perseroan. Kemudian berdasarkan hasil rapat umum pemegang saham tahunan (RUPST), menyetujui untuk membagikan dividen sebesar Rp 39,50 per saham atau totalnya mencapai Rp 19,75 miliar. (bani)