Merger BUMN Farmasi Masih Terkatung

Menunggu Pemerintahan Baru

Rabu, 02/07/2014

NERACA

Jakarta – Kebijakan Kementerian Badan Usaha Milik Negara (BUMN) soal holding atau perampingan BUMN seperti rencana merger PT Indofarma Tbk (INAF) dan PT Kimia Farma Tbk (KAEF) bakal molor. Pasalnya, sisa masa pemerintahan saat ini tinggal menunggu waktu. Oleh karena itu, kebijakan merger tersebut masih terkantung dan bergantung dengan Menteri BUMN berikutnya.

Menteri BUMN Dahlan Iskan mengatakan, pihaknya akan menyelesaikan satu per satu mengenai program perampingan BUMN. Di mana, untuk konsolidasi BUMN farmasi, yaitu antara PT Indofarma Tbk (INAF) dan PT Kimia Farma Tbk (KAEF) masih belum diketahui kapan akan diselesaikannya.

Meskipun, Menteri BUMN Dahlan Iskan yakin untuk rencana holding BUMN perkebunan dan perhutanan diperkirakan akan diselesaikan peraturan pemerintah (PP) pada akhir Juli 2014,”Satu-satu dulu lah. Biar Indofarma tertib segala macam dulu lah," katanya di Jakarta, kemarin.

Menurut Dahlan, jika diselesaikan seluruhnya pada tahun ini, tidak akan dapat diselesaikan melihat waktu yang pemerintahan yang saat ini hanya tinggal beberapa bulan saja. Dirinya juga mengaku tidak mengetahui hingga kapan konsolidasi BUMN farmasi dapat direalisasikan. "Saya kira tahun ini tidak sempat. Tahun depan saya tidak tahu tergantung menteri yang baru,”tandasnya.

Sebelumnya, Dahlan pernah bilang, belum dapat terlaksananya merger BUMN Farmasi akibat kinerja INAF yang masih tertekan di tahun 2013. Padahal, unutk merealisasikan merger kedua perusahaan farmasi plat merah ini, harus memiliki performa yang seimbang, sama-sama kuat.

Menurut dia, proses pengabungan PT Kimia Farma Tbk dan PT Indofarma Tbk masih terus dikaji oleh tim Kementerian BUMN,”Kami tengah mengkaji, ada ukuran kedua perusahaan sama-sama seimbang. Indofarma sekarang sulit tidak, maju pesat juga tidak”, katanya.

Sementara mengenai target penggabungan keduanya, dia belum bisa memastikan kapan merger tersebut dilakukan karena masih dalam proses kajian. “Sebab masih membutuhkan waktu yang lama karena kinerja Indofarma masih tertekan pada tahun lalu. Yang pasti minggu depan belum dapat direalisasikan”, ujarnya.

Asal tahu saja, PT Kimia Farma Tbk membidik perolehan laba pada semester pertama tahun ini sebesar Rp70-Rp80 miliar, “Pendapatan semester pertama tahun ini, kita targetkan sekitar Rp70-Rp80 miliar,“kata Research and Busines Development Director PT Kimia Farma, M Wahyuli Syafari.

Dia menjelaskan, untuk memenuhi target laba tersebut, pihaknya akan terus agresif ekspansi bisnis secara organik. Diantaranya, perseroan mengembangkan 100 apotek baru menjadi 612 apotek. Pembukaan klinik mencapai 100 klinik baru menjadi 216 klinik dan laboratorium baru sebanyak 65 laboratorium. "Penambahan beberapa apotek, klinik dan lab inilah yang meningkatkan reveneu,”ujarnya.

Sebagai informasi, tahun ini perseroan menargetkan pendapatan sebesar Rp5,2 triliun, sedangkan labanya sebesar Rp324 miliar. Sedangkan di tahun 2013, tercatat laba bersih PT Kimia Farma (Persero) Tbk mengalami peningkatan sebesar 4,59% menjadi Rp215,6 miliar dari Rp205,7 miliar. Perseroan mengalokasikan belanja modal Rp939,5 milar. (bani)