Siantar Top Geluti Bisnis Kopi Kemasan

Rabu, 02/07/2014

Emiten produsen makanan, PT Siantar Top Tbk melakukan ekspansi bisnisnya. Tahun ini, raksasa industri makanan dan minuman (mamin) ini akan masuk pada bisnis pasar kopi kemasan, karena bisnis ini memiliki peluang besar.

Perluasan bisnis karena peminat kopi kemasan yang ada di Indonesia mengalami peningkatan. Kondisi ini memicu Siantar Top memperluas jaringan bisnisnya dengan bermain di kopi kemasan, meski persaingan penjualan kopi kemasan sudah sangat banyak. “Kami yakin bisa berhasil dalam bisnis ini,” kata Direktur Siantar Top, Armin, kemarin.

Dirinya menuturkan, pihaknya tertarik melakukan ekspansi karena kondisi pasar menjanjikan. Saat ini, banyak pemain yang berebut pasar kopi kemasan, tetapi pihaknya tidak khawatir karena pasar ini masih memiliki peluang. “Kami menilai pasar bisnis kopi di dalam negeri masih besar. Kita memang sudah lama mau ekspansi ke bisnis ini, sudah merencanakan sejak dua tahun lalu,” ujarnya.

Menurut Armin, korporasi sudah menyiapkan nilai investasi sebesar Rp300 miliar untuk mendirikan pabrik pengolah kopi bubuk. Rencananya, pabrik akan didirikan di Sidoarjo, karena barang-barang mentah mudah diperoleh. Sebab, Jatim memiliki infrastruktur untuk menunjang perkembangan pabrik di jawa."Target kami, akhir tahun ini mulai beroperasi. Pabrik ini nanti punya kapasitas 20.000 ton per tahun," tambah Armin.

Siantar Top sendiri selama ini dikenal sebagai pemain besar industri snack. Dalam catatan keuangan mereka tahun lalu, penjualan crackers (cemilan krupuk) mereka masih yang terbesar (Rp 509 miliar), disusul biskuit (Rp 463 miliar), dan mie (Rp 384 miliar). Pada 2013, perseroan mencatat laba Rp 114 miliar, lebih besar dari tahun sebelumnya yang sebesar Rp 74 miliar.

Sebagai informasi, tahun ini perseroan menganggarkan belanja modal sebesar Rp500 miliar. Dimana belanja modal tersebut akan digunakan untuk kebutuhan investasi pembangunan pabrik dan ekspansi usaha yang bersumber dari penerbitan obligasi.

Disebutkan, kebutuhan dana capex akan terpenuhi dengan penerbitan obligasi perseroan tahap pertama sebesar Rp250 miliar dan sisanya pinjaman perbankan. Nantinya, penggunaan capex untuk penambahan mesin untuk pabrik makanan dan minuman yakni kopi. (bani)