Kenaikan Tarif Listrik Picu Impor Pakaian Jadi

Selasa, 01/07/2014

NERACA

Jakarta - Asosiasi Pertekstilan Indonesia (API) memperkirakan impor pakaian jadi jelang Hari Raya Idul Fitri tahun ini akan meningkatkan 50% jika dibandingkan yang sama pada 2013 lalu. Ketua Umum API, Ade Sudrajat mengatakan, kenaikan impor tersebut dipicu oleh beberapa hal, salah satu kenaikan tarif listrik untuk industri yang ditetapkan oleh pemerintah. "Industri dalam negeri mengalami kenaikan tarif listrik sehingga mereka harus menaikan harga produknya," ujarnya di Jakarta, Senin (30/6).

Menurut Ade, dengan kenaikan listrik bagi golongan industri I3 sebesar 38,9% dan I4 sebesar 64,7% membuat harga jual pakaian jadi yang diproduksi di dalam negeri meningkat sekitar 15% hingga 20%. "Kalau sudah begitu, pedagangan di Tanah Abang dan lain-lain ya lebih baik mereka impor. Proteksi (impor yang dilakukan pemerintah) jauh lebih dilakukan pada industri hilir bukan pada industri hulu," kata dia.

Menurutnya, sudah saatnya pemerintah turun langsung ke lapangan untuk melihat kesulitan yang dialami oleh industri akibat kebijakan yang diterapkan dan jangan hanya menunggu aduan dari industri yang terbebankan tersebut.

"Tapi sekarang pemerintah hanya menunggu ada yang mengadu, bukannya jemput bola. Kalau tambahan beban yang dialami industri seperti ini butuh penyelidikan 1 tahun, maka industrinya mati duluan," tandasnya.

Disisi lain, Menteri Perindustrian MS Hidayat mengatakan, produk tekstil Indonesia masih bisa bersaing walaupun produk impor marak menjelang Lebaran. Sebab saat ini, produk tekstil lokal sudah banyak yang berkualitas.

"Bahan-bahan tekstil kita sudah banyak yang berkualitas, sehingga persaingan dengan produk tekstil impor tidak perlu dikhawatirkan. Tapi memang ada beberapa produk tekstil kita yang belum berkualitas, itu yang perlu ditingkatkan," kata Hidayat.

Menjelang Lebaran, produk tekstil Tiongkok banyak menyerbu pasar dalam negeri. Meski tidak menyebut seberapa besar serbuan produk negeri tirai bambu itu, menurut dia, produk asal Negeri Tirai Bambu tersebut umumnya dibanderol dengan harga yang lebih murah.

Hidayat pun mengimbau kepada para pengusaha tekstil di Tanah Air untuk meningkatkan daya saingnya. Selain memproduksi tekstil berkualitas, harga yang yang ditawarkan ke konsumen juga kompetitif. "Cara melawan produk-produk impor, khususnya dari Tiongkok yang membanjiri pasar kita menjelang Lebaran ini, yang dengan membuat produk yang murah dan berkualitas," katanya.

Sementara itu, eksportir tekstil di Semarang, Jawa Tengah, mengaku terpengaruh membanjirnya produk Tiongkok karena harganya yang lebih murah. "Jika sebelumnya dalam satu tahun bisa mengekspor tiga hingga empat kali, dua tahun terakhir satu kali bisa mengirim saja sudah bagus," kata marketing PT Safari Junitex Nurul Khasanah.

Nurul mengaku, selama ini pihaknya bisa mengekspor tekstil ke Turki, Singapura, dan Brasil. Tetapi, dua tahun terakhir, pengiriman hanya ke Turki. Membanjirnya produk Tiongkok, menurut dia, menjadikan eksportir berjuang mempertahankan diri untuk dapat bertahan dengan cara membuka pasar lokal. "Jika barang Tiongkok membuka pasar lokal, kami akhirnya juga harus main di pasar lokal dan harganya juga mengikuti harga pasar," katanya.

Nurul mengaku, meskipun produknya mengikuti harga pasar, kualitasnya tetap dipertahankan sehingga berdampak pada berkurangnya pendapatan. Untuk saat ini, menjelang puasa dan Lebaran 2014, PT Safari Junitex produksinya juga mulai berkurang karena persiapannya sudah dilakukan seiak tiga bulan lalu. “Produksi akan kembali normal sekitar September-Oktober," ucap dia.

Sementara itu, Direktur Jenderal Basis Industri Manufaktur Kementerian Perindustrian (Kemenperin) Harjanto menuturkan, pihaknya tengah mengevaluasi mendalam mengenai program revitalisasi mesin pada sektor tekstil dan produk tekstil (TPT).

"Sejak program revitalisasi mesin pada sektor TPT diimplementasikan, sektor-sektor industri yang dibidik oleh program tersebut terlalu luas. Pasalnya, semua sub sektor industri TPT masuk dalam program revitalisasi mesin," kata dia.

Panggah menyatakan, 600 dari 1.300 pabrik tekstil di Indonesia memiliki mesin yang sudah beroperasi lebih dari 25 tahun. Karena itu, mesin harus diganti dengan yang baru agar lebih produktif dan menghasilkan produk berkualitas.

Sebelumnya Ade Sudrajat mengatakan, pengusaha setiap tahunnya mengalami kenaikan tarif listrik, tentunya hal ini menimbulkan pertanyaan. "Kenaikan ini bukan sekali, setiap tahun 2011 naik 10%, 2012 10%, 2013 naik 11%. Nampaknya PLN salah urus, atau negara salah urus?" kata Ade.

Ia mengungkapkan, kenaikan tarif listrik tersebut akan mengurangi penerimaan pajak negara. Hal ini sama saja meninggalkan bom di pemerintahan mendatang. Karena banyak perusahaan yang merugi sehingga tidak mampu membayar pajak. "Saya melihat nanti 2015 kalau sekarang kaya begini naik, penerimaan pajak akan turun sama aja menaruh bom pemerintahan selanjutnya karena perusahaan merugi," tuturnya.

Menurutnya, dengan kenaikan tarif listrik bertubi-tubi setiap tahun akan membuat turunya daya saing produk industri dalam negeri dengan produk asing. "Katakanlah berapa harus jual produksinya. Barang impor akan masuk ke sini disegala bidang akan makin besar. Misal layar televisi monitor sudah dibuat di sini, tapi tidak mampu bersaing dengan Malaysia," paparnya.