Malaysia Ingin Belajar Marikultur ke Indonesia - Perikanan Budidaya

NERACA

Batam – Direktur Jenderal Perikanan Budidaya Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) Slamet Soebjakto mengatakan bahwa pihaknya didatangi oleh Menteri Pertanian dan Industri Asas Tani Malaysia, Dato’ Sri Ismail bin Yaakob. Slamet mengaku bahwa kedatangan Menteri Pertanian tersebut dalam rangka ingin belajar mengenai pengembangan marikultur (budidaya laut) di Indonesia.

“Beliau rencananya mau ke Bandung karena ada rapat setingkat Menteri. Namun, mampir ke kami (Direktorat Jenderal Perikanan Budidaya) karena ingin belajar mengenai pengembangan akuakultur dan lebih fokus lagi soal pengembangan marikultur di Indonesia,” ungkap Slamet usai menghadiri Temu Bisnis Budidaya Laut di Batam, Kepulauan Riau, Senin (23/6).

Tidak hanya tukar pikiran soal pengembangan potensi laut, lanjut Slamet, pihak Malaysia juga akan mengirimkan perwakilan untuk belajar soal teknologi marikultur di Indonesia. Selain itu, pihak Malaysia juga akan mengunjungi produsen Keramba Jaring Apung (KJA) yang adai di Padalarang, Jawa Barat.

"Mereka cukup tertarik dengan KJA buatan Indonesia. Selama ini Malaysia menggunakan KJA buatan Norwegia yang jauh lebih mahal. Sementara produksi buatan Indonesia lebih murah karena jaraknya yang dekat dan kualitasnya internasional," cetus Slamet.

Soal pengembangan Sumber Daya Manusia (SDM), Slamet memberikan masukan kepada pihak Malaysia untuk menggunakan konsep manajemen kelompok. Pasalnya selama ini Malaysia lebih menggunakan konsep individu. "Di Indonesia pengembangan dan pembinaan lebih ke arah kelompok sementara di Malaysia lebih individu. Padahal dengan menggunakan manajemen kelompok bisa membina, menasihat, melakukan sertifikasi memudahkan untuk keamanannya dan budidaya berbasis kawasan," tukasnya.

Soal nilai produksi, ia meyakinkan produksi ikan Malaysia masih dibawah produksi ikan Indonesia. Namun dari sisi pemanfaatnnya, Indonesia kurang memanfaatkan dengan baik. “Saat ini pemanfaatan wilayah masih 1,1% dan pemanfaatan sumber daya perikanan baru 6%. Maka dari itu, potensi ini yang akan terus kita tingkatkan,” ujarnya. Ia pun bercita-cita untuk menyamai jumlah produksi Tiongkok yang telah mencapai 55 juta ton sementara Indonesia baru mencapai 13 juta ton.

Di Indonesia, prospek pengembangan marikultur dapat dikembangkan mulai wilayah garis pantai kurang dari 4 mil, area pantai 4 – 12 mil hingga pada area lepas pantai atau off shore diatas 12 mil. Pengembangan marikultur khususnya pada kawasan perairan off shore, perlu dilakukan secara focus dan berkelanjutan. Maka dari itu, pihaknya telah menetapkan strategi pengembangannya sehingga semua pihak yang terkait dapat bersinergi untuk melakukan usaha pengembangan dan pengelolaannya secara bersama-sama sesuai dengan kemampuan dan kapasitasnya.

“Strategi yang diperlukan untuk pengembangan marikultur atau budidaya laut khususnya lepas pantai antara lain dengan mendorong medernisasi teknologi budidaya, hal ini perlu dalam menjadikan marikultur sebagai sebuah industri. Teknologi tersebut tentunya yang mampu terukur, menjamin efesiensi dan berbasis wawasan lingkungan,” imbuhnya.

Kedua, sambung dia, pemilihan komoditas budidaya laut ekonomis penting. Pengembangan budidaya laut akan didorong berbasis pada pendekatan komoditas yang berorientasi pada market oriented,” imbuhnya. Komoditas yang memiliki potensi untuk dikembangkan di lepas pantai adalah kerapu, kakap dan bawal bintang. Dan ketiga adalah penyusunan regulasi. Kesiapan regulasi akan didorong terutama terkait pengelolaan tata ruang dan zonasi dan kemudahan investasi pada bisnis marikultur.

Kawasan Percontohan

KKP pun telah menetapkan Kepulauan Riau sebagai provinsi percontohan implementasi marikultur di Indonesia. Terpilihnya Kepulauan Riau bukan tanpa alasan, ada beberapa pertimbangan yang dilakukan seperti akses pasar, infrastruktur, sumber benih, dan teknologi. “Kepri dekat dengan akses pasar ke Singapura dan Pemdanya siap dengan tata wilayah dan zonasi laut yang konsisten, tidak berubah-ubah peruntukkan. Ini penting supaya investasi bisa berkelanjutan,” tutur Slamet beberapa waktu lalu.

Implementasi marikultur diharapkan dapat menumbuhkan industri perikanan laut dari hulu ke hilir, mulai dari pembenihan, pembesaran, hingga pengolahan. Selain Kepri, imbuhnya, Kepulauan Seribu, Nusa Tenggaraa Barat, Nusa Tenggara Timur, Ambon, Papua, Halmahera, dan Natuna potensial untuk menjadi lokasi pengembangan marikultur. "Ke depan di Natuna itu kita ingin teknologinya lebih tinggi, menggunakan keramba bulat untuk yang offshore di atas 12 mil," kata Slamet.

Tak hanya untuk komoditas perikanan, marikultur juga dapat diimplementasikan untuk komoditas rumput laut. Di Sumba Timur, misalnya, budidaya rumput laut didukung oleh pembangunan pabrik pengolahan chip dan semi karagenan.

"Hilirisasi rumput laut itu pabriknya harus dekat dengan budidaya, kalau tidak habis di ongkos. KKP dan Kemenperin bantu bangun pabrik dan pengadaan mesin, sekarang dikelola oleh BUMD di Sumba Timur dan cukup maju," pungkasnya.

Related posts