Efek Pemilu, Industri Plastik Terkerek 6%

NERACA

Jakarta - Pemilihan umum (Pemilu) ikut membantu kinerja industri plastik dalam negeri. Khususnya dari sektor makanan dan minuman yang permintaannya meningkat. "Dalam enam bulan ini tercapai 6%, banyak pemicunya, terlebih lagi ada kampanye baik pemilihan partai, maupun presiden," ujar Budi Susanto Sadiman selaku Wakil Ketua Umum Pengembangan Bisnis INAplas (Asosiasi Industri Aromatik, Olefin, dan Plastik) di Jakarta Selasa (24/6).

Diakuinya, kampanye pemilihan presiden memang tidak terlalu banyak berdampak langsung pada peningkatan kinerja industri plastik. "Kalau pemilihan presiden agak sedikit, tapi juga memberikan sedikit peningkatan konsumsi plastik, kira-kira setengah persen dari pasca panen," katanya.

Selama ini, konsumsi plastik terbesar dalam bentuk kemasan atau sekitar 60 %. Kemudian, disusul oleh industri otomotif, mainan anak. Tahun lalu, konsumsi plastik sebesar 6 juta ton. Di sisi lain, potensi konsumsi produk plastik di Indonesia masih cukup besar dan ini merupakan peluang bagi para produsen plastik. Permintaan plastik ini utamanya didorong oleh pertumbuhan industri makanan dan minuman dan FMCG (fast moving consumer good) sebesar 60%.

Menteri Perindustrian MS Hidayat mengungkapkan saat ini struktur industri plastik nasional cukup lengkap dari hulu ke hilir. Namun dia mengakui, masih ada tantangan yang dihadapi dalam pengembangan industri tersebut.

"Terbataskan kapasitas produksi akibat sebagian besar bahan bakunya seperti polipropilen dan polictilena yang masih diimpor, kurangnya kapasitas oil refinery yang menghasilkan bahan baku naphta dan kondensat untuk bahan baku industri petrokimia hulu," jelas Hidayat.

Maka dari itu, lanjut Hidayat, pemerintah akan mendorong pengembangan industri oil refinery agar terintergrasi dengan industri perrokimia dengan memberikan insentif seperti tax holiday, tax allowance, pembebasan bea masuk untuk barang modal dan mendorong pengembangan SDM.

"Ini memiliki potensi pasar yang sangat prospektif baik didalam maupun luar negeri, karena selain untuk perabot rumah tangga, kan ini juga banyak digunakan untuk kemasan barang-barang kebutuhan konsumen," terangnya.

Saat ini sendiri, ada sekitar 892 industri kemasan plastik yang menghasilkan rigid packaging, flexible packaging thermoforming dan extrusion yang tersebar di beberapa wilayah Indonesia."Ini dengan kapasitas terpasang sekitar 2,35 juta ton per tahun dan utilisasi sebesar 70% sehingga produksi rata-rata sebesar 1,65 juta ton," lanjutnya.

Impor Membengkak

Di tempat berbeda, impor plastik dan barang dari plastik membengkak selama empat bulan pertama tahun ini. Badan Pusat Statistik (DPS) mencatat, importasi plastik dan barang dari plastik selama Januari sampai April 2013 naik 11,7% secara year on year menjadi USS 2,48 miliar. Adapun impor di periode sebelumnya tahun 2012 sebesar USS 2,22 miliar. Sedangkan impor plastik bulan April 2013 sebesar USS 688,9 juta, naik 9% dari impor Maret 2013 yang tercatat sebesar USS 631,6 juta.

Fajar Budiyono, Sekretaris Jenderal Asosiasi Industri Aromatik, Olefin dan Plastik Indonesia (Inaplas) menilai, kenaikan impor plastik ini merupakan imbas dari kelanjutan industri plastik domestik yang melesu sejak tahun lalu. Alhasil, pasokan impor plastik masih besar di awal tahun ini.

Industri plastik nasional memang kurang bergairah tahun lalu. Pasalnya, permintaan produk plastik di pasar internasional turun akibat krisis global. "Sehingga banyak industri plastik global yang mengalihkan produk ke pasar domestik dengan harga lebih murah," kata Fajar.

Produk plastik impor yang marak memang cukup beralasan. Sebab, konsumsi plastik dan produk plastik di pasar domestik diperkirakan tetap tumbuh sekitar 8% tahun ini. Tak ayal, produk plastik impor pun memperbesar penetrasi ke pasar lokal.

Namun, Fajar tetap optimistis terhadap bisnis plastik di tanah air. Bisnis plastik domestik bisa membaik di pertengahan tahun ini. Pasalnya, ada kabar baik dari industri petrokimia, terutama di sektor hulu.

Harga nafta, salah satu bahan baku utama industri petrokimia hulu, mulai menurun. Fajar yakin pasokan bahan baku plastik yang membaik di dalam negeri bisa merangsang industri petrokimia hilir untuk menggenjot kapasitas produksi. Maklum, rupiah yang lesu bisa menambah beban produsen untuk impor bahan baku. "Pasokan dan harga bahan baku yang lebih baik akan mendorong produsen plastik meningkatkan produksi," ungkapnya.

Sementara itu, Wakil Ketua Umum Asosiasi Olefin Aromatik dan Plastik Indonesia (Inaplas) Budi S Sadiman mengungkap kalau konsumsi plastik di Indonesia diproyeksikan mencapai 1,9 juta ton hingga semester I-2013.

Jumlah tersebut meningkat sekitar 22,58% dibandingkan semester yang sama tahun lalu sebanyak 1,55 juta ton.Menurut Budi, konsumsi plastik nasional bisa mencapai 1 juta ton pada kuartal 11-2013 dari kuartal sebelumnya 900 ribu ton."Adanya momentum panen raya dan menyambut Lebaran pada awal Agustus mendatang menjadi faktor pendorong kenaikan permintaan plastik di dalam negeri," paparnya.

Nilai penjualan industri plastik di pasar domestik mencapai sekitar Rp 47,5 triliun pada semester I-2013, dengan asumsi konsumsi mencapai 1,9 juta ton (1,9 miliar kilogram/kg) dan harganya Rp 25 ribu per kg. Omzet kuartal I tahun 2013 senilai Rp 22,5 triliun dan kuartal ini Rp 25 triliun.

Related posts