Pertumbuhan Industri Kopi Nasional Stagnan - Impor Produk Olahan Meningkat

NERACA

Jakarta - Indonesia sebagai negara penghasil kopi terbesar ketiga di dunia setelah Brasil dan Vietnam dengan produksi pada tahun 2013 sebesar 692 ribu ton atau sekitar 8% dari produksi kopi dunia. Indonesia juga memiliki berbagai jenis kopi specialty yang dikenal di dunia seperti Gayo Coffee, Mandailing Coffee, Lampung Coffee, Java Coffee, Kintamani Coffee, Toraja Coffee, Bajawa Coffee, Wamena Coffee dan juga Luwak Coffee dengan citarasa dan aroma khas sesuai indikasi geografis yang menjadi keunggulan Indonesia.

Menteri Perindustrian, Mohamad S Hidayat mengatakan berbagai permasalahan masih dihadapi dalam pengembangan industri pengolahan kopi antara lain produksi biji kopi yang cenderung stagnan, makin meningkatnya impor biji kopi kualitas rendah,kualitas dan desain kemasan yang masih sederhana untuk industri kecil dan menengah, meningkatnya impor produk kopi olahan utamanya kopi instan dan kopi mix, dan bea masuk produk kopi olahan di negara tujuan ekspor yang masih tinggi.

Namun pengembangan industri ini di dalam negeri masih mempunyai prospek baik.Hal ini mengingat konsumsi kopi masyarakat Indonesia rata-rata baru mencapai 1,2 kg perkapita/tahun jauh dibawah negara – negara pengimpor kopi seperti USA 4,3 kg, Jepang 3,4 kg, Austria 7,6 kg, Belgia 8,0 kg, Norwegia 10,6 Kg dan Finlandia 11,4 Kg perkapita/tahun.

"Pengembangan industri kopi nasional masih perlu ditingkatkan mengingat saat ini baru mampu menyerap sekitar 40% produksi biji kopi di dalam negeri dan sisanya sekitar 60% masih diekspor dalam bentuk bahan baku,"ujar Hidayat saat membuka Seminar dan Pameran Kopi Nusantara 2014 di Jakarta, Selasa (24/6).

Lebih lanjut Mantan ketua Kadin ini mengatakandidorong oleh pertumbuhan kelas menengah dan perubahan gaya hidup masyarakat Indonesia, kinerja industri pengolahan kopi di dalam negeri mengalami peningkatan signifikan. Pertumbuhan konsumsi produk kopi olahan di dalam negeri meningkat rata-rata 7,5% per tahun. Ekspor produk kopi olahan tahun 2013 mencapai US$ 243,87 juta atau menurun 24,41% dari tahun 2012 yang mencapai US$ 322,62 juta. Ekspor produk kopi olahan didominasi produk kopi instan, ekstrak, esens dan konsentrat kopi yang tersebar ke negara tujuan ekspor seperti Filipina,Malaysia, Singapura, RRC, dan Uni Emirat Arab.

"Berbanding terbalik dengan ekspor yang menurun, impor produk kopi olahan naiksangat signifikan. Impor kopi olahan mencapai US$ 71,19 juta pada tahun 2012 naik menjadi US$ 81,88 juta pada tahun 2013 atau naik15,01%. Impor terbesar dialami produk kopi instan yang disinyalir adalah produk bermutu rendah. Meskipun impor kopi olahan meningkat pesat, akan tetapi neraca perdagangan produk kopi olahan masih mengalami surplus sebesar USD 161,99 Juta,"papar Menperin.

Selanjutnya, untuk menjaga masyarakat dari produk olahan kopi yang bermutu rendah, maka Kementerian Perindustrian bersama dengan instansi terkait telah selesai merevisi SNI Kopi Instan dan pada tahun ini diharapkan dapat menerapkan secara wajib SNI Kopi Instan.

Pameran ini diharapkan menjadi wahana pendorong bagi para pengusaha industri pengolahan kopi untuk memperkenalkan produk, kualitas dan citra merek serta memperoleh berbagai masukan/keinginan dari pelanggannya. Selain itu juga diharapkan konsumsi kopi Indonesia di dalam negeri dapat ditingkatkan sehingga makin banyak biji kopi Indonesia yang diolah dan dikonsumsi di dalam negeri.

Sekedar informasi industri pengolahan kopi dalam negri sedang berkembang dewasa ini, sehingga mereka juga mengeluhkan kurangnya pasokan bahan baku dalam negri untuk Industri tersebut. Keadaan ini menyebabkan di sisi lain impor kopi Indonesia juga naik cukup signifikan yaitu 54,86 % sejak 2009 hingga 2013, dimana di tahun 2009 nilai impor kopi tercatat sebesar 18,441 juta US Dollar dan di 2013 melonjak hingga 117,195 juta US Dollar (BPS).

Keadaan ini sangat ironis mengingat Indonesia adalah produsen kopi terbesar dunia setelah Brazil dan Vietnam. Dalam permasalahan ini seharusnya pemerintah lebih memfokuskan hasil kopi tersebut untuk kebutuhan bahan baku dalam negri terlebih dahulu.

Related posts